UNAIR NEWS (SPs) bersama (BPBRIN) 51动漫 (UNAIR) bekerjasama dengan Suara Muslim Radio Network mengadakan gelar wicara yang bertajuk Ranah Publik: Peran Zakat Dalam Membangun Kesamaan Sosial. Acara tersebut tersiar langsung melalui kanal YouTube Suara Muslim TV pada Jumat (2/5/2025).
Perkembangan Zakat di Indonesia
Hadir sebagai narasumber, Prof Dr Tika Widiastuti SE MSi, menyebut zakat kini mengalami perkembangan pesat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas lembaga pengelolanya. Lebih dari sepuluh ribu institusi telah aktif mengelola zakat, mulai dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), lembaga berbasis industri, hingga perbankan syariah.
淶akat memiliki potensi luar biasa dalam membangun kesamaan sosial. Potensi zakat nasional bisa kita perkirakan mencapai lebih dari 300 triliun. Jumlah itu bisa terus bertambah seiring perkembangan lembaga zakat dan kesadaran masyarakat, ungkap Wakil Dekan I (FV) UNAIR tersebut.
Prof Tika juga memaparkan bahwa Indonesia kini menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah publikasi ilmiah tentang zakat. Dalam hal tersebut, civitas academica UNAIR turut aktif dalam edukasi dan riset zakat melalui (PUSPAS). 淚ni menunjukkan semakin tingginya minat akademisi untuk mengkaji zakat secara ilmiah dan aplikatif, tambahnya.
Zakat Sebagai Kebijakan Distribusi Negara
Prof Dr H Suparto Wijoyo SH MHum, Wakil Direktur III SPs UNAIR melihat zakat bukan sekadar urusan ibadah personal, melainkan bagian dari kebijakan negara dalam membangun keadilan. Dalam praktiknya, zakat menjadi wujud konkret dari pendidikan keumatan.
淶akat adalah ajaran sekaligus identitas. Negara telah mengatur kewajiban ini sebagai kebijakan publik melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat agar zakat bisa terhimpun secara legal dan tepat sasaran, ujarnya.
Memberdayakan secara Merata
Senada dengan Prof Tika dan Prof Suparto, Kepala BPBRIN UNAIR, Prof Dr Muhammad Nafik Hadi Ryandono SE MSi menyebut zakat sebagai mekanisme ilahiah untuk menyelesaikan persoalan kesenjangan ekonomi. Prof Nafik menyoroti efektivitas penyaluran agar pengumpulan zakat berdampak nyata pada delapan kelompok penerima manfaat.
淜alau pengumpulan zakat meningkat, tapi angka kemiskinan tetap tinggi, artinya ada yang perlu melakukan evaluasi. Pengelola zakat semestinya tidak hanya menghimpun dana, tetapi juga mengelolanya secara produktif agar zakat benar-benar mampu mengurangi disparitas ekonomi, tegasnya.
Menurutnya, standar miskin dan kaya dalam zakat bersifat kontekstual sesuai wilayah. Maka dari itu, masyarakat perlu menerapkan pendekatan lokal dan kebijakan terintegrasi agar zakat mampu menjawab tantangan kesenjangan ekonomi yang nyata. 淧R kita bersama adalah memastikan zakat benar-benar mengurangi kesenjangan sosial, bukan hanya meningkat secara nominal, pungkasnya.
Penulis: Fania Tiara Berliana Marsyanda
Editor: Ragil Kukuh Imanto





