51动漫

51动漫 Official Website

UNAIR Gelar Simulasi IPC pada Penanganan Kegawatdaruratan Ibu dan Bayi di Pulau Bawean

Dr Lestari Sudaryanti dr MKes saat menyampaikan materi saat Simulasi IPC pada Penanganan Kegawatdaruratan Ibu dan Bayi di Pulau Bawean pada Kamis (31/10/2024) (Foto: Istimewa)
Dr Lestari Sudaryanti dr MKes saat menyampaikan materi saat Simulasi IPC pada Penanganan Kegawatdaruratan Ibu dan Bayi di Pulau Bawean pada Kamis (31/10/2024) (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) terus berjalan hingga saat ini. Menanggapi hal tersebut tiga program studi (prodi) 51动漫 (UNAIR) menggelar pengabdian masyarakat di Pulau Bawean. Tiga prodi tersebut adalah Prodi Kedokteran, Kebidanan dan D3 Keperawatan Fakultas Vokasi (FV) UNAIR. 

Pulau Bawean terletak 120 km dari pusat Gresik. Kondisi ini menjadikan Pulau Bawean jauh dari pusat pemerintahan. Dr Lestari Sudaryanti dr MKes mengatakan kegiatan pengabdian masyarakat tersebut turut menggandeng berbagai mitra. Mereka terdiri dari Ikatan Alumni UNAIR (IKA UNAIR) Gresik dan Dinas Kesehatan Gresik. 

Pengabdian masyarakat berlangsung pada Kamis (31/10/2024) hingga Jumat (1/11/2024) di dua kecamatan yaitu Kecamatan Tambak dan Kecamatan Sangkapura. Kegiatan pengabdian masyarakat terdiri dari berbagai sesi. Sesi pertama berlangsung Kamis (31/10/2024) dengan tema Pelatihan Simulasi Interprofessional Collaboration (IPC) pada Penanganan Kegawatdaruratan Ibu dan Bayi. 

Potret bersama pada pengabdian masyarakat Simulasi IPC pada Penanganan Kegawatdaruratan Ibu dan Bayi di Pulau Bawean pada Kamis (31/10/2024) (Foto: Istimewa)
Potret bersama pada pengabdian masyarakat Simulasi IPC pada Penanganan Kegawatdaruratan Ibu dan Bayi di Pulau Bawean pada Kamis (31/10/2024) (Foto: Istimewa)

Sesi ini ditujukan bagi tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, bidan, dan perawat. 淎da total 60 orang tenaga kesehatan dari seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Pulau Bawean, kata Dr Lestari.

Sesi ini memberikan kesempatan melakukan simulasi IPC dalam penanganan kegawatdaruratan ibu dan bayi. 淧ara tenaga kesehatan ini kami latih agar di lapangan nantinya bisa melakukan kolaborasi antar profesi. Kolaborasi ini penting karena di lapangan dokter tidak bisa bekerja sendiri, begitu juga bidan dan tenaga kesehatan lain, terangnya.

Keseruan pada sesi pertama terjadi saat para tenaga kesehatan terbagi menjadi kelompok kecil secara acak. Momen ini memberikan kesempatan mereka untuk menjalankan peran masing-masing dalam suatu kasus tertentu. 

Sesi kedua dan ketiga berlangsung Jumat (1/11/2024) dengan tema yang berbeda yaitu Penyuluhan Anemia pada Remaja dan Edukasi Pencegahan Pernikahan Dini. Sasaran sesi kali ini terdiri dari 80 anak sekolah dan remaja di Kecamatan Tambak serta 40 karang taruna di Kecamatan Sangkapura.

Peserta pada sesi ini berkesempatan bermain sambil belajar pencegahan dan penanganan anemia. 淪esi ini kami mengajak remaja belajar sambil bermain ular tangga. Jadi dalam permainan ular tangga itu tersirat edukasi tentang pencegahan dan penanganan anemia, tutur Dr Lestari. 

Sementara diskusi bersama karang taruna mengenai pernikahan dini tidak kalah menarik. Satu persatu dari peserta yang hadir mengungkapkan pendapatnya terkait hal tersebut. Dr Lestari berharap upaya pengabdian masyarakat ini dapat menjadi upaya percepatan penurunan AKI dan AKB secara menyeluruh.

淜ami berharap pengabdian masyarakat ini mempercepat upaya penurunan AKI dan AKB dengan melakukan intervensi dari hulu masalah. Anemia dan pernikahan dini dapat meningkatkan risiko kematian ibu dan bayi, sementara kematian ibu dan bayi juga dapat dicegah dengan kolaborasi antar profesi yang baik, harapnya.

Penulis:

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT