UNAIR NEWS Fakultas Vokasi (FV) 51动漫 (UNAIR) bekerja sama dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Timur menggelar Pagelaran Budaya dan Wayang bertajuk Pemantapan Budaya Politik melalui Kearifan Lokal. Kegiatan yang menghadirkan pertunjukan kesenian sekaligus ruang diskusi politik tersebut berlangsung pada Minggu (30/11/2025) di Pelataran Gedung C FV, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR.
Acara ini menghadirkan sejumlah tokoh. Antara lain Kepala Bakesbangpol Provinsi Jatim, Eddy Supriyanto SSTP MPSDM; Dekan FV UNAIR, Prof Dian Yulie Reindrawati SSos MM PhD CHE; budayawan Sabrang 淣oe, serta Dr Suko Widodo dari (FISIP) UNAIR. Dalang Ki Sudrun turut memimpin jalannya pagelaran Wayang Wali sebagai bagian utama acara.
Penopang Kehidupan Politik
Dalam sambutannya, Prof Dian Yulie menyampaikan rasa hormat dan syukurnya karena FV UNAIR mendapatkan kepercayaan menjadi tuan rumah Pagelaran Budaya dan Wayang Wali. Ia berharap kegiatan ini dapat memberi pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk belajar dan terlibat dalam upaya pelestarian budaya. 淪ebuah kehormatan bagi kami. Semoga teman-teman berkenan menikmati sekaligus merawat budaya yang kita miliki, katanya.

Sementara itu, Kepala Bakesbangpol Eddy Supriyanto menyampaikan apresiasi atas kesempatan menyelenggarakan kegiatan di UNAIR. Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan hanya urusan kesenian semata, melainkan bagian dari upaya memperkuat ketahanan sosial dan politik.
淜ita memiliki warisan budaya yang kaya, termasuk wayang. Jika tidak kita lestarikan, generasi mendatang akan kehilangan pijakan nilai. Karenanya, kegiatan seperti ini menjadi penting agar kita tidak lepas dari akar budaya sendiri, ujarnya.
Mencari Narasi dalam Keberagaman
Acara berlanjut dengan diskusi antara Sabrang 淣oe dengan Dr Suko Widodo. Keduanya membahas bagaimana keberagaman dapat menjadi kekuatan jika masyarakat memiliki tujuan bersama. Sabrang menilai bahwa perbedaan bukanlah persoalan selama ada narasi besar yang disepakati bersama.
Ia mencontohkan bagaimana suporter klub sepak bola bisa bersatu ketika tim nasional bertanding. Begitu pula masyarakat luas, jika tujuan bersama cukup besar, maka keberagaman tidak lagi menjadi penghalang. 淜alau Indonesia sulit bersatu, artinya narasi kebersamaannya sudah mulai luntur. Itu yang harus kita temukan kembali, jelasnya.
Lebih lanjut, Sabrang membahas minimnya kebiasaan berdiskusi di kalangan anak muda. Menurutnya, persoalan di ruang publik kerap berlarut karena masyarakat tidak terbiasa mengolah perbedaan pendapat secara sehat. Ia menjelaskan bahwa keterampilan berdiskusi muncul dari kebiasaan memahami sebab dan akibat.
淪ehingga anak muda perlu dilatih untuk menentukan akibat apa yang ingin dicapai, bukan hanya mencari alasan atau pembenaran. Kalau kita tidak tahu akibat yang dituju, semua tindakan jadi random. Padahal inti dari strategi adalah menciptakan sebab untuk mencapai akibat yang diinginkan, pungkasnya.
Penulis: Fania Tiara Berliana M
Editor: Yulia Rohmawati





