UNAIR NEWS – Menindaklanjuti program revitalisasi untuk penguatan RSPTN tahun 2026, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menyelenggarakan kegiatan Pendampingan Penyusunan Proposal Program Revitalisasi RSPTN Tahun 2026. Gelaran itu berlangsung pada Jumat (21/11/2025) secara hybrid di Ruang Sidang Pleno Balai RUA, Lantai 4 Kantor Manajemen UNAIR, Kampus MERR-C UNAIR. Kegiatan itu merupakan bagian dari upaya pengembangan program yang mampu menjadikan RSPTN sebagai laboratorium ekosistem riset dan inovasi untuk pengembangan sains dan teknologi yang mutakhir di bidang kesehatan.
Untuk penyelenggaraan kegiatan tersebut, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mengundang anggota tim Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Di antaranya Plt Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Prof. Setiawan, Staf Khusus Mendiktisaintek Prof Tjitjik Sri Tjahjandarie, Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif Prof Ardi Findyartini. Para direktur RSPTN dan RSGM di lingkungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Tim Asosiasi RSPTN dan pimpinan UNAIR.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Prof Setiawan Plt berharap Kemdiktisaintek bisa mendukung sumber daya untuk merevitalisasi RSPTN. 淜ami berharap RSPTN ini bisa mendukung Program PHTC (Program Hasil Terbaik Cepat) untuk akselerasi pendirian prodi spesialis. Paling tidak, rumah sakit yang belum menjadi rumah sakit pendidikan juga bisa mempersiapkan, ucap Prof. Setiawan.
Menurutnya, pada tahun ini juga bisa terlaksana penandatanganan kontrak sebagai upaya percepatan untuk implementasi program tersebut. 淚mplementasi ini harapannya dapat terlaksana sedini mungkin, karena program seperti ini sangat strategis dan perlu akselerasi dengan baik, lanjutnya.
Harapan Rektor 51动漫
Rektor UNAIR, Prof Dr Muhammad Madyan SE MSi MFin dalam sambutannya menyampaikan rasa hormat dan bangga karena UNAIR terpilih untuk menjadi tuan rumah. 淜ami mengucapkan terima kasih kepada Diktisaintek yang telah mempercayakan UNAIR sebagai pusat konsolidasi nasional untuk merumuskan masa depan rumah sakit pendidikan Indonesia, ucap Prof Madyan.
Prof Madyan menekankan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen dari semua pihak untuk memperkuat pendidikan kesehatan di Indonesia. 淜ehadiran Bapak dan Ibu sekalian, yang mewakili 20 institusi pendidikan tinggi terkemuka dan jajaran ahli Kemdiktisaintek, adalah representasi dari komitmen kolektif bangsa untuk memperkuat pilar utama Academic Health System di Indonesia, terangnya.
Lebih lanjut, Professor dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut mengharapkan padanya perubahan yang mendasar dari RSPTN. Tidak hanya untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan, tetapi yang lebih fundamental, untuk mentransformasi peran RSPTN.
淜ita harus bergeser dari sekadar unit layanan kesehatan menjadi Laboratorium Ekosistem Riset dan Inovasi. Visi kita bersama jelas yakni menjadikan RSPTN sebagai kawah candradimuka, tempat ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan mutakhir yang dapat dikembangkan, diujicobakan, dan diaplikasikan, urai Prof Madyan.
Percepatan Program Revitalisasi RSPTN
Selain itu, Staf Khusus Mendiktisaintek, Prof Tjitjik Sri Tjahjandarie, mengimbau kepada rumah sakit pendidikan yang ada di PTN, baik kedokteran umum maupun kedokteran gigi, agar bisa meningkatkan kemandiriannya dalam menunjang penyelenggaraan pendidikan dokter. 淎pa yang bisa kita lakukan, salah satunya, adalah dengan memperkuat RSPTN. Penguatan ini mau tidak mau melalui program revitalisasi, jelas Prof. Tjitjik.
Program revitalisasi, menurut Profesor dari FST UNAIR itu, harapannya bisa terlaksana lebih cepat sehingga kontrak bisa dilakukan di awal Januari. 淚ni yang harus kita pastikan, prosesnya berjalan. Harus ada komitmen dan kerja sama dari RSPTN, baik RSPTN yang umum maupun RSGM. Program RSPTN ini sifatnya sudah mendesak, bukan lagi program yang sifatnya pengembangan biasa, tegasnya.
Pada akhir, Prof. Tjitjik menekankan pentingnya spirit kolaborasi antara semua pihak untuk perbaikan pendidikan kesehatan di masa depan. 淎yo kita berkolaborasi bersama-sama membangun pendidikan kesehatan. Program ini ini merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab Kemenkes, bukan hanya tanggung jawab Kemdikti. Semua punya perannya masing-masing, pungkasnya.
Penulis: Andi Pramono
Editor: Khefti Al Mawalia





