n

51动漫

51动漫 Official Website

UNAIR Kukuhkan Tiga Guru Besar

tiga
Rektor UNAIR Moh Nasih (kanan) berfoto bersama tiga guru besar yang baru dikukuhkan (memakai toga) beserta isteri. (Foto: Bambang BES)

UNAIR NEWS 51动漫 memanggil para guru besar untuk memberi solusi taktis bagi permasalahan bangsa dan negara karena permasalahan yang ada sudah luar biasa kompleks, tutur Rektor UNAIR Prof. Dr. Mochammad Nasih, S.E., M.T., Ak, saat mengukuhkan tiga profesor baru, Rabu (24/5), di Aula Garuda Mukti.

Ketiga guru besar baru yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. R. Tatang Santanu Adikara, M.Sc., drh (Fakultas Kedokteran Hewan), Prof. Dr. Drs. H. Widi Hidayat, M.Si., Ak., CA., CMA (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), dan Prof. Dr. I Dewa Gede Ugrasena, dr., Sp.A (K) (Fakultas Kedokteran).

Profesor merupakan puncak karir seorang dosen yang telah mengembangkan keilmuan dan mengaplikasikan kepada masyarakat. Nasih berharap, keberadaan para profesor baru dapat mengantarkan peradaban umat manusia menuju gerbang kemuliaan.

淜e depan, para guru besar baru segera lahir dan bisa kita kukuhkan di Aula Garuda Mukti yang bisa mengantarkan kita menuju kamukten (kemuliaan), terang Nasih.

Nasih yang Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu mengatakan, ketiga guru besar baru tersebut memiliki pemikiran-pemikiran yang solutif terhadap pemecahan masalah yang dihadapi masyarakat.

Penemuan Prof. Tatang berupa laser untuk akupunktur dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas kesehatan hewan dan mengembangbiakkan hewan ternak. 淜ita bisa menggunakan akupunktur karena bisa mengembangkan gairah ternak. Jadi, kita nggak perlu impor untuk memenuhi kebutuhan nasional, tutur Rektor.

Pemikiran Prof. Widi untuk mengoptimalisasi kinerja entitas organisasi melalui sinergi audit internal dan eksternal. Dengan adanya sinergi, sebuah entitas organisasi memiliki ruang waktu untuk melakukan perbaikan-perbaikan sistem.

淢ekanisme tersebut bisa lebih simpel sehingga punya waktu untuk melakukan perbaikan. Jadi, kita juga punya waktu yang cukup untuk mengembangkan sistem pengendalian daripada pemeriksaan yang nggak berpangkal dan tumpang tindih, terang Nasih.

Selain kedua profesor di atas, pemikiran yang disumbangkan Prof. Ugrasena dapat diterapkan pemerintah untuk menambah angka kesintasan anak dengan penyakit kanker. 淕agasan Prof. Ugrasena juga baik. Beliau ingin agar ada unit kanker di fasilitas kesehatan atau unit khusus yang bisa melakukan pencegahan secara dini, tutur Rektor.

Dalam pengukuhan guru besar, masing-masing profesor menyampaikan orasi ilmiahnya. Prof. Tatang menyampaikan ringkasan orasi berjudul 淧eran Akupunktur dalam Ilmu Anatomi dan Kesejahteraan Masyarakat. Tatang yang juga Guru Besar FKH aktif ke-26 menggunakan soft laser untuk pada titik-titik akupunktur pada hewan yang ia sebut dengan laserpunktur.

淟aserpunktur bisa digunakan untuk meningkatkan kesehatan hewan, peningkatan produktivitas berat badan, produksi susu, peningkatan stamina hewan-hewan pacu dan paduan, dan juga peningkatan kemampuan reproduksi, tutur Guru Besar UNAIR PTN-BH ke-164.

Ada pula Prof. Widi yang menyampaikan orasi berjudul 淥ptimalisasi Kinerja Entitas melalui Sinergi Internal dan Eksternal Audit. Dalam jumpa pers tersebut, Guru Besar FEB aktif ke-21 menyampaikan bahwa entitas pemerintah dan bisnis perlu bersinergi demi perbaikan tata manajemen.

淎gar proses audit internal dan eksternal tidak menjadi beban, tegas Guru Besar UNAIR ke-165.

Terakhir, Prof. Ugrasena juga menyampaikan orasi berjudul 淪trategi Meningkatkan Kesintasan Kanker pada Anak dalam Situasi yang Penuh Tantangan. Guru Besar FK aktif ke-107 itu menyebutkan, angka sintas yang rendah pada anak dengan penyakit kanker perlu diatasi dengan berbagai strategi.

Ugrasena yang juga Guru Besar UNAIR ke-458 mengidentifikasi setidaknya ada sembilan yang membuat angka sintas tersebut rendah. Di antaranya adalah keterlambatan tiba di fasilitas medis, keterbatasan finansial, keterbatasan tenaga, ketersediaan macam obat yang minim, malnutrisi, dan keterbatasan kapasitas tenaga medis.

Pengukuhan guru besar tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan, para guru besar aktif UNAIR, tamu undangan, dan sivitas akademika. (*)

Penulis : Defrina Sukma S.
Editor : Binti Q. Masruroh

AKSES CEPAT