UNAIR NEWS 51动漫 menjadi tuan rumah Sidang Paripurna Majelis Senat Akademik Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (MSA PTN-BH) tahun 2020 pada Sabtu (3/10/2020) secara online dan offline. Offline digelar di Ruang Amerta, Lantai 4, Gedung Rektorat UNAIR. Sidang paripurna itu merupakan agenda tahunan forum Senat Akademik PTNBH yang bertujuan membahas segala permasalahan bersama yang dihadapi PTNBH.
Sidang diikuti delegasi Senat Akademik dari sebelas PTN-BH, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Institut Pertanian Bogor (IPB), 51动漫 (Unair), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Hasanudin (Unhas), Universitas Indonesia (UI), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan Universitas Sumatera Utara (USU). Total, ada 139 peserta yang turut serta.
Tema sidang kali ini adalah “Penguatan Relevansi Riset dan Kurikulum Pendidikan Tinggi dengan Dunia Kerja di Era Pembiasaan Perilaku Baru dan Pasca Pandemi Covid-19. Acara dibuka langsung oleh Menteri Riset Teknologi / Badan Riset dan inovasi nasional Bambang Brodjonegoro. Srkaligus menyampaikan Keynote Speech berjudul
Ketua Senat Akademik UNAIR Prof. dr. Djoko Santoso, SpPDKGH., Ph.D., FINASIM dalam sambutannya menyatakan, muncul kekhawatiran di tengah masyarakat terhadap kesesuaian kualitas lulusan dengan perubahan-perubahan sosial yang berdampak pada dunia kerja. Kekhawatiran itu menunjukkan betapa pentingnya penguatan relevansi kurikulum dan riset perguruan tinggi dan dunia kerja dari hasil belajar di kampus.
滳apaian terbaik dari lulusan akan berdampak positif terhadap beberapa bidang masyarakat, sebutnya.
淧endidikan tinggi harus mampu menjawab tuntutan pemangku kepentingan dan menyeimbangkan kebutuhan pasar kerja dan prioritas lain, imbuhnya.
Karena itu, lanjut Prfo Djokom topik itu menjadi sangat menarik dan penting. Ketrampilan yang dibutuhkan di pasar kerja mesti menjadi kompetensi lulusan dalam mendukung ekonomi global yang berbasis inovasi dan skill.
Menambahkan pernyataan itu, Ketua MSA Prof. Nachrowi, M.Sc., M. Phill., Ph.D., menyebut Pencarian strategi bagaimana kompetensi lulusan tidak jadi berkurang karena kegiatan belajar daring sangat perlu dilakukan perguruan tinggi. Selain itu, dampak pandemi Covid-19 terhadap ekonomi, banyak perusahaan-perusahaan yang terhimpit, mesti juga diantisipasi dengan baik.
淭antangan lain, kemajuan teknologi saat ini kian menunjukkan bahwa batas-batas kelimuan satu dengan yang lain kian terbuka. Di sisi lain, keterkaitan ilmu satu dengan ilmu lainnya kian tampak dan jelas. Akibatnya kolaborasi research kesehatan, sains dan teknologi, dengan ilmu humaniora tak terelakkan.
淪ehingga hal ini berimplikasi positif ke depan pada perubahan paradigma kompetisi ke paradigma kolaborasi, imbuhnya.

Sementara itu, rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak.,CMA, menyampaikan, lima tahun terakhir muncul beragam perubahan situasi dan kondisi yang tak terbayangkan. Termasuk kemunculan Covid-19.
滱ntisipasi perguruan tinggi mutlak harus kita lakukan bersama, katanya.
Dengan segala potensi di perguruan tinggi, ungkap Prof Nasih, perubahan-perubahan itu mesti dihadapi dengan Smart. Antisipasi itu berwujud upaya UNAIR mendorong menjadi SMART University. Intinya adalah kita semua bertekad untuk mengoptimalkan dan memanfaatkan teknologi-teknologi terkini, terbaru, dan paling maju, untuk memberikan value edit, nilai tambah, maksimal bagi peserta didik kita. Termasuk memberikan impact positif untuk internal kita, terutama masyarakat, bangsa, serta dunia.
滻nilah kami sebut Smart University, yakni universitas yang mampu memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan yang kita ciptakan sendiri untuk memberikan nilai tambah yang optimal, ungkapnya.
滽onsep SMART University UNAIR itu ada lima pilar. Yakni, smart education for millenials people, meaningfull Research and Commmunity Service, Accelarating Innovation and Enterprising, Responsive and Lean Management, dan Top Up Tangible and Intangible Resiurces Utilization. (*)
Penulis: Feri Fenoria





