Ada yang menarik dari undangan Pengukuhan Guru Besar Unair Prof Dr Ahmad Rizki Sridadi SH MM MH; Prof Dr Ardianto SE MSi Ak CA; Prof Dr Zaenal Fanani SE MSA Ak CA ACPA dan Prof Dr Hamidah MSi Ak CA CMA CRMO QGIA QIA CACP – di undangan yang saya terima itu ada notice dibawahnya berada dalam kotak yang berbunyi 淒engan tanpa mengurangi rasa hormat mohon maaf kami tidak menerima karangan bunga dan hadiah dalam bentuk apapun KECUALI BIBIT POHON.
Rupanya para Guru Besar UNAIR yang akan dikukuhkan pada tanggal 22 Oktober 2025 itu sangat peduli dengan masalah lingkungan dengan mencantumkan 渨oro-woro hanya mau menerima bibit pohon dalam undangan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa para bengawan ilmu UNAIR yang baru itu juga menerapkan beberapa unsur dari Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB antara lain Climate Change, Good Health and Wellbeing, Clean and Water Sanitation karena bibit pohon itu sangat berhubungan dengan ketiga unsur dalam SDG itu.
Bibit pohon itu juga tentu berkaitan dengan penjabaran SDG diatas yaitu apa yang disebut ESG singkatan dari Environmental, Social, and Governance (Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola) yang merupakan kerangka kerja untuk mengukur kinerja keberlanjutan dan dampak etis sebuah lembaga. ESG mencakup tiga pilar utama: dampak lingkungan perusahaan (seperti emisi dan limbah), interaksi sosial dengan pemangku kepentingan (seperti kondisi kerja dan hak asasi manusia), serta tata kelola perusahaan yang baik (seperti transparansi dan akuntabilitas).
51动漫 (UNAIR) sendiri sebenarnya banyak memiliki program yang berhubungan dengan environment atau lingkungan. Misalnya para mahasiswa UNAIR aktif di kegiatan aksi bersih dan edukasi pentingnya tidak membuang sampah sembarangan, menginisiasi pembuatan aplikasi bank sampah, gerakan menanam pohon.
Pengabdian masyarakat UNAIR-pun memiliki program peningkatan kesadaran lingkungan desa bahkan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR memiliki program Magister Kesehatan Lingkungan sumber daya manusia profesional di bidang kesehatan lingkungan. Tentu selain itu masih banyak kegiatan Unair dalam bidang pelestarian lingkungan ini.
Kami dari Komite Audit Majelis Wali Amanat UNAIR menghadiri pertemuan nasional Forum Komite Audit PTN-BH di Bandung, tuan rumahnya adalah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tanggal 10-12 September 2025 lalu dimana tema yang diusung adalah soal SDGs dan ESG diatas. Semua PTN-BH sepakat untuk memasukkan unsur-unsur dalam SDGs dan ESG itu dalam aktivitas akademiknya. Alhamdulillah UNAIR sudah melakukannya sejak lama.
Agama Islam banyak mengajarkan soal perlunya menjaga lingkungan dan kita ketahui semua Nabi Muhammad menganjurkan merawat tanaman karena itu adalah bentuk ibadah, sedekah, dan amalan jariyah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sifat menganjurkan perawatan tanaman ini menunjukkan sifat penyayang terhadap alam dan bermanfaat bagi sesama. Ibadah dan sedekah: Menanam pohon atau tanaman adalah ibadah yang akan memberikan pahala, karena setiap hasil yang dimakan oleh manusia, burung, atau hewan akan menjadi sedekah bagi penanamnya.
Amalan jariyah: Pahala menanam akan terus mengalir selama tanaman itu memberikan manfaat, bahkan setelah ia tiada. Ini termasuk dalam kategori amal jariyah atau pahala yang tidak terputus. Penyayang alam: Perintah ini mencerminkan sikap Nabi Muhammad yang menyayangi alam dan makhluk ciptaan Allah lainnya, termasuk flora dan fauna.
Jadi woro-woro atau announcement dalam undangan para Guru Besar UNAIR yang baru itu tidak hanya sesuai dengan aktivitas PBB tentang SDG dan ESG itu, namun juga sangat sesuai dengan ajaran mulia dari agama Islam.
Untuk para undangan pengukuhan para Guru Besar UNAIR diatas janganlah mengirim hadiah untuk mereka dalam bentuk karangan bunga, kue Spikoe Resep Kuno, Bandeng Asep Sidoarjo, Wingko Babat dll termasuk uang. Semua itu tentu akan ditolak oleh mereka sebab mereka adalah Ksatria Airlangga yang cinta lingkungan.
Ada yang menarik dari undangan Pengukuhan Guru Besar Unair Prof Dr Ahmad Rizki Sridadi SH MM MH; Prof Dr Ardianto SE MSi Ak CA; Prof Dr Zaenal Fanani SE MSA Ak CA ACPA dan Prof Dr Hamidah MSi Ak CA CMA CRMO QGIA QIA CACP – di undangan yang saya terima itu ada notice dibawahnya berada dalam kotak yang berbunyi 淒engan tanpa mengurangi rasa hormat mohon maaf kami tidak menerima karangan bunga dan hadiah dalam bentuk apapun KECUALI BIBIT POHON.
Rupanya para Guru Besar UNAIR yang akan dikukuhkan pada tanggal 22 Oktober 2025 itu sangat peduli dengan masalah lingkungan dengan mencantumkan 渨oro-woro hanya mau menerima bibit pohon dalam undangan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa para bengawan ilmu UNAIR yang baru itu juga menerapkan beberapa unsur dari Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB antara lain Climate Change, Good Health and Wellbeing, Clean and Water Sanitation karena bibit pohon itu sangat berhubungan dengan ketiga unsur dalam SDG itu.
Bibit pohon itu juga tentu berkaitan dengan penjabaran SDG diatas yaitu apa yang disebut ESG singkatan dari Environmental, Social, and Governance (Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola) yang merupakan kerangka kerja untuk mengukur kinerja keberlanjutan dan dampak etis sebuah lembaga. ESG mencakup tiga pilar utama: dampak lingkungan perusahaan (seperti emisi dan limbah), interaksi sosial dengan pemangku kepentingan (seperti kondisi kerja dan hak asasi manusia), serta tata kelola perusahaan yang baik (seperti transparansi dan akuntabilitas).
51动漫 (UNAIR) sendiri sebenarnya banyak memiliki program yang berhubungan dengan environment atau lingkungan. Misalnya para mahasiswa UNAIR aktif di kegiatan aksi bersih dan edukasi pentingnya tidak membuang sampah sembarangan, menginisiasi pembuatan aplikasi bank sampah, gerakan menanam pohon.
Pengabdian masyarakat UNAIR-pun memiliki program peningkatan kesadaran lingkungan desa bahkan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR memiliki program Magister Kesehatan Lingkungan sumber daya manusia profesional di bidang kesehatan lingkungan. Tentu selain itu masih banyak kegiatan Unair dalam bidang pelestarian lingkungan ini.
Kami dari Komite Audit Majelis Wali Amanat UNAIR menghadiri pertemuan nasional Forum Komite Audit PTN-BH di Bandung, tuan rumahnya adalah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tanggal 10-12 September 2025 lalu dimana tema yang diusung adalah soal SDGs dan ESG diatas. Semua PTN-BH sepakat untuk memasukkan unsur-unsur dalam SDGs dan ESG itu dalam aktivitas akademiknya. Alhamdulillah UNAIR sudah melakukannya sejak lama.
Agama Islam banyak mengajarkan soal perlunya menjaga lingkungan dan kita ketahui semua Nabi Muhammad menganjurkan merawat tanaman karena itu adalah bentuk ibadah, sedekah, dan amalan jariyah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sifat menganjurkan perawatan tanaman ini menunjukkan sifat penyayang terhadap alam dan bermanfaat bagi sesama. Ibadah dan sedekah: Menanam pohon atau tanaman adalah ibadah yang akan memberikan pahala, karena setiap hasil yang dimakan oleh manusia, burung, atau hewan akan menjadi sedekah bagi penanamnya.
Amalan jariyah: Pahala menanam akan terus mengalir selama tanaman itu memberikan manfaat, bahkan setelah ia tiada. Ini termasuk dalam kategori amal jariyah atau pahala yang tidak terputus. Penyayang alam: Perintah ini mencerminkan sikap Nabi Muhammad yang menyayangi alam dan makhluk ciptaan Allah lainnya, termasuk flora dan fauna.
Jadi woro-woro atau announcement dalam undangan para Guru Besar UNAIR yang baru itu tidak hanya sesuai dengan aktivitas PBB tentang SDG dan ESG itu, namun juga sangat sesuai dengan ajaran mulia dari agama Islam.
Untuk para undangan pengukuhan para Guru Besar UNAIR diatas janganlah mengirim hadiah untuk mereka dalam bentuk karangan bunga, kue Spikoe Resep Kuno, Bandeng Asep Sidoarjo, Wingko Babat dll termasuk uang. Semua itu tentu akan ditolak oleh mereka sebab mereka adalah Ksatria Airlangga yang cinta lingkungan.





