51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Upaya Pemutusan Rantai Stunting Melalui Edukasi Gizi untuk Peningkatan Pengetahuan Kader Kesehatan

Foto by UM Surabaya

Data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia yang berada di kategori tinggi. Sebanyak 27,7% balita Indonesia dilaporkan stunting pada tahun 2019, dan 24,4% pada tahun 2021. Di Jawa Timur tercatat adanya 26,86% dan 23,5% balita stunting di tahun 2019 dan 2021. Hal ini mengindikasikan kasus stunting yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.

Stunting pada balita memiliki dampak jangka pendek dan jangka panjang, termasuk peningkatan risiko mortalitas dan morbiditas, hambatan perkembangan otak, risiko penyakit degeneratif saat dewasa, risiko infeksi, dan penurunan produktivitas dan kapabilitas ekonomi. Karenanya, pengentasan stunting merupakan isu penting.

Di negara berkembang, risiko untuk memiliki anak stunting dapat diturunkan apabila wanita usia reproduktif memiliki kondisi gizi dan kesehatan yang baik. Untuk dapat mencapai kondisi tersebut, diperlukan pengetahuan yang adekuat bagi wanita usia reproduktif. Salah satu upaya diseminasi pengetahuan terkait gizi dan kesehatan dapat dilakukan melalui Kader Kesehatan. Karenanya, Kader Kesehatan perlu memiliki pengetahuan yang cukup untuk dapat membantu meningkatkan pengetahuan wanita usia reproduktif.

Studi yang dilakukan oleh Megasari dkk bersamaan dengan rangkaian program pengabdian kepada masyarakat di salah satu kelurahan di Kota Surabaya, Jawa Timur, mengindikasikan perlunya edukasi berkelanjutan. Sebelum pemberian edukasi bagi Kader, lebih dari 80% Kader Kesehatan tidak memahami definisi stunting, metode antropometri yang tepat untuk menentukan status gizi wanita usia reproduktif, dan cara pemenuhan gizi yang sesuai bagi wanita usia reproduktif.

Edukasi terkait stunting, metode antropomoteri praktikal untuk mengetahui status gizi wanita usia reproduktif, dan edukasi terkait kebutuhan gizi serta cara pemenuhan kebutuhan bagi wanita usia reproduktif mampu meningkatkan pengetahuan kader secara signifikan, dimana lebih dari 80% mampu memahami dengan benar setelah pelaksanaan edukasi. Hal ini menunjukkan pentingnya edukasi secara berkala bagi Kader Kesehatan untuk mempertahankan pengetahuan yang cukup terkait gizi bagi wanita usia reproduktif. Kader Kesehatan dengan pengetahuan yang cukup tersebut diharapkan dapat memberikan edukasi bagi masyarakat, khususnya wanita usia reproduktif, sehingga dapat berdampak pada upaya pemutusan rantai stunting.

Penulis: NLA Megasari

Artikel penuh dapat dilihat pada laman:

Megasari et al. The importance of education about women nutrition for Kader Kesehatan in the effort of stunting reduction in Indonesia. World Journal of Advanced Research and Reviews. 2022;16(02): 1201“1206.

AKSES CEPAT