Inflammatory bowel disease (IBD) merupakan penyakit inflamasi kronik yang sering
kambuh, yang dapat melibatkan setiap bagian dari saluran gastrointestinal dan dibagi
menjadi dua, yaitu: penyakit Crohn dan kolitis ulseratif. Insidensi IBD meningkat
secara signifikan di negara Asia dalam 2 dekade terakhir. Temuan histopatologi pada
biopsi mukosa kolon dengan klinis curiga IBD sangat bervariasi dan tumpang tindih.
Oleh karena itu dibuat kriteria dan panduan untuk meningkatkan akurasi diagnostik.
Diagnosis histopatologi IBD ditegakkan berdasarkan gabungan dari temuan
mikroskopik dengan data klinis yang meliputi usia pasien, gejala, durasi gejala, dan
hasil endoskopi. Endoskopi memainkan peran integral dalam diagnosis, manajemen,
dan pengawasan IBD. Endoskopi dapat berperan dalam menyingkirkan penyebab lain
(selain IBD), membedakan penyakit Crohn dari kolitis ulseratif, menjelaskan pola,
luas, dan aktivitas inflamasi mukosa, serta memperoleh jaringan mukosa untuk
evaluasi histopatologi.
Beberapa kriteria dan panduan diagnostik IBD dibuat untuk meningkatkan akurasi
diagnosis ketika biopsi kolon digunakan sebagai pengamatan awal pada pasien dengan
keluhan utama diare. Informasi klinis dan riwayat pemeriksaan pasien yang lengkap, sangat penting untuk membuat diagnosis yang tepat dan merencanakan terapi yang
sesuai.
Selain itu, penyakit Crohn dan kolitis ulseratif berbeda satu sama lain dari aspek
epidemiologi, presentasi klinis, temuan endoskopi dan histologi serta perjalanan
penyakit. Kedua entitas ini juga memiliki perbedaan pada komplikasi dan penanganan.
Pendekatan patologik yang tepat dan pengambilan sampel biopsi yang adekuat, dapat
juga membantu untuk mengklasifikasikan penyakit Crohn dan kolitis ulseratif.
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan tentang variasi gambaran
histopatologi serta memberikan informasi dan panduan dalam menginterpretasi
temuan morfologi pada biopsi mukosa kolon dengan diagnosis klinis curiga IBD.
Penelitian ini menggunakan deskriptif observasional dengan pendekatan cross
sectional. Sebanyak 122 slide dari spesimen biopsi mukosa kolon dengan diagnosis
klinis curiga IBD, diperoleh dari data hasil pemeriksaan histopatologi di Laboratorium
Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo, Surabaya periode 1 Januari 2015 “ 31
Desember 2019.
Temuan morfologi yang penting untuk mendiagnosis IBD, dapat dibagi menjadi
kriteria mayor dan minor. Kriteria mayor terdiri dari sebukan limfoplasmasitik
transmukosal, distorsi kripta, atrofi kripta, basal limfoplasmasitosis, dan permukaaan
ireguler. Sedangkan kriteria minor terdiri dari agregat limfoid, granuloma, metaplasia
sel Paneth, dan deplesi musin. Dari 122 sampel yang didapatkan, dilakukan checklist tentang gambaran histopatologi apa saja yang didapatkan pada masing-masing sediaan
(baik kriteria mayor maupun minor).
Setelah mengetahui morfologi dari sediaan histopatologi biopsi mukosa kolon, baik
itu kriteria mayor maupun kriteria minor, selanjutnya dilakukan interpretasi diagnostik
sebagai berikut: 1) very likely IBD, favor UC/ CD: jika memenuhi seluruh kriteria
mayor dengan/atau tanpa kriteria minor (catatan: dapat sesuai dengan IBD bila
gambaran klinis sesuai), 2) favor IBD: jika memenuhi setidaknya 3 kriteria mayor dan
setidaknya 1 kriteria minor (catatan: gambaran morfologi masih mungkin suatu awal
IBD atau penyebab lain sehinggan mohon singkirkan penyebab infeksi, obat-obatan,
iskemia, dan divertikel), 3) favor non-IBD: jika ditegakkan diagnosis lain, seperti TB,
amoeba, amiloidosis, iskemik yang jelas, protozoa, spirochaete, kolitis mikroskopik,
dan lain-lain., 4) non-spesifik: tidak ada tanda kronik dan tidak ada sel radang PMN
(catatan: dilakukan follow-up endoskopi dan investigasi lebih lanjut), 5) non-
diagnostik: jika sediaan tidak adekuat (tidak didapatkan lapisan muskularis mukosa).
Hasil penelitian ini didapatkan kriteria mayor yang paling banyak ditemukan adalah
distorsi kripta sejumlah 97/122 sampel (79,50%) dan kriteria minor yang paling
banyak ditemukan adalah agregat limfoid sejumlah 87/122 sampel (71,31%).
Interpretasi hasil diagnostik histopatologi yang paling banyak ditemukan adalah favor
IBD, sejumlah 24/122 sampel (19,67%) dan paling sedikit untuk interpretasi favor
non-IBD, sejumlah 6/122 sampel (4,91%).
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang apa saja variasi
gambaran histopatologi yang dapat kita temukan dari sediaan biopsi mukosa kolon
dengan klinis curiga IBD serta mengetahui cara menginterpretasi sediaan biopsi
mukosa kolon, sebagai panduan diagnosis. Hal ini dapat kita capai apabila ada
kerjasama dan komunikasi yang baik antara dokter klinis dangan dokter ahli patologi.
Laporan patologi bersama dengan informasi klinis pasien, akan memungkinkan dokter
klinis untuk membuat diagnosis dan penanganan yang sesuai.
Penulis: Ariadna Anggi Pasang, Alphania Rahniayu, Anny Setijo Rahaju
Judul dan link artikel jurnal scopus yang dituliskan menjadi opini.
Judul Artikel: Variation of histopathological features in colonic mucosal biopsy with
clinical diagnosis of suspicious inflammatory bowel disease (IBD)
Link Artikel: https://sciencescholar.us/journal/index.php/ijhs/article/view/8759/4586





