Pandemi COVID-19 telah menimbulkan ancaman yang cukup besar bagi masyarakat umum. Bukti yang tersedia menunjukkan bahwa anak-anak dapat terkena COVID-19 ketika terpapar ke area berisiko seperti sekolah dan tempat umum. Nilai ventilasi ditekankan selama epidemi COVID-19, yang menyebabkan protokol ventilasi baru diperkenalkan di gedung sekolah di seluruh dunia. Gedung pendidikan, seperti halnya sekolah, adalah tempat di mana kegiatan pengajaran memiliki dampak yang sangat besar terhadap kesehatan, kesejahteraan, dan prestasi pendidikan siswa.
Komponen penting dari keberhasilan akademik dan kesejahteraan siswa secara keseluruhan adalah lingkungan belajar yang mencakup penggunaan pembersih udara untuk meningkatkan kesehatan kulit dan mata serta mengurangi iritasi tenggorokan. Gedung pendidikan juga menjadi salah satu tempat yang berpotensi menarik penyakit menular. Pandemi COVID-19 mengajarkan kita untuk peduli dengan kualitas udara di sekolah karena mudahnya virus dapat ditularkan di sekolah yang ramai di antara siswa, guru, dan staf. Sanitasi sekolah adalah bagian penting dari kesehatan sekolah, termasuk ventilasi kelas. Siswa menghabiskan lebih banyak waktu di lingkungan dalam ruangan yang tidak menguntungkan, tetapi membutuhkan kualitas udara dalam ruangan yang lebih tinggi daripada orang dewasa.
Sebagai akibat dari berbagai alasan, termasuk pertumbuhan mereka yang terus menerus dan fakta bahwa mereka menghirup lebih banyak udara, mengonsumsi lebih banyak makanan, dan minum lebih banyak air relatif terhadap berat badan mereka, anak-anak lebih rentan terhadap bahaya lingkungan daripada orang dewasa. Anak- berada dalam usia perkembangan, mereka adalah orang yang sensitif, dan harus dilindungi dari kualitas lingkungan yang buruk. Mereka menghabiskan banyak waktu di kelas di sekolah, dan kualitas udara di kelas harus menjadi perhatian.
Tingkat polusi udara dalam ruangan dapat berbeda dari tingkat luar ruangan dalam hal kuantitas dan konsentrasi. Siswa harus mendapatkan perlindungan yang memastikan bahwa kondisi lingkungan di ruang kelas baik sehingga mereka tidak tertular atau menularkan penyakit, baik penyakit akut maupun kronis. Bukti menunjukkan bahwa kualitas lingkungan di ruang kelas di beberapa negara seringkali tidak memadai. Ada 8000 bangunan sekolah di wilayah Mediterania yang tidak mematuhi kriteria kualitas lingkungan standar. Ada banyak cara untuk menjaga kualitas di kelas, salah satunya adalah penggunaan ventilasi. Desain ventilasi di sekolah sebaiknya dilakukan pada awal pembangunan gedung sekolah karena sering dibuat berdasarkan banyak pertimbangan. Banyak ventilasi seringkali karena tidak berfungsi dengan baik, dan memiliki masalah seperti kesalahan dalam ukuran, penurunan kinerja karena kurangnya perawatan, dan kurangnya pengetahuan operator. Ruang dengan ventilasi yang buruk memiliki peningkatan risiko kontaminasi seperti bakteri. Ventilasi memiliki fungsi vital. Ini dapat mengurangi polutan di dalam ruangan seperti CO2.
Beberapa penelitan telah dilakukan pada ventilasi di sekolah dan kualifikasi udara dalam ruangan, tetapi analisis tentang efek kesehatan dari efek ventilasi yang buruk pada kesehatan siswa jarang dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan sejauh mana ventilasi di kelas berkorelasi dengan kesehatan siswa. Kami percaya hasil penelitian ini akan relevan untuk merancang pendekatan untuk meningkatkan ventilasi dan kualitas udara yang bersirkulasi di ruangan sekolah dalam konteks pandemi menular seperti COVID-19. Ventilasi merupakan salah satu faktor yang mendukung kesehatan siswa yang dibutuhkan untuk mendukung tujuan pendidikan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana ventilasi di sekolah berdampak pada kesehatan siswa. Scopus dan Web of Science digunakan untuk mengambil artikel yang diterbitkan tentang ventilasi di sekolah dan kesehatan siswa. Metode pencarian menggunakan kata kunci “ventilasi” atau “Polusi udara dalam ruangan” atau “Kualitas lingkungan dalam ruangan” dan “Sekolah” dan “Siswa” atau “Anak” dan “Kesehatan”, dari 2019-Mei 2023. Ventilasi di sekolah yang diteliti adalah metode ventilasi, ventilasi yang tidak memadai atau kurang, dan frekuensi pembukaan jendela. Parameter kualitas udara yang dipelajari di ruang kelas adalah Nitrogen Dioksida (NO2); Partikel 10 (PM10); Partikel 2,5 (PM2.5); Partikel 1,0 (PM1); Ozon (O3), benzena (C6H6), dan karbon dioksida (CO2).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit yang diidentifikasi pada siswa akibat ventilasi yang buruk adalah kelelahan, bronkitis, gejala asma, risiko infeksi, rinitis, dll. Disimpulkan bahwa karena ventilasi yang baik mengurangi polutan udara dalam ruangan, sehingga terkait dengan kesehatan siswa, maka harus diprioritaskan ventilasi yang memenuhi persyaratan kesehatan siswa.
Penulis: Prof. Soedjajadi Keman, dr., MS., Ph.D.
Link:
Baca juga: Hubungan Tingkat Kecemasan Ibu dan Kunjungan Imunisasi Anak Di Akhir Pandemi Covid-19





