Pulau Bali, selama ini dikenal luas sebagai destinasi wisata favorit bagi pengunjung dari dalam dan luar negeri dengan total pengunjung sekitar 1.7 juta pengunjung domestic dan 186 ribu pengunjung internasional pada tahun 2018 dan diperkirakan akan terus meningkat junlahnya pada waktu mendatang. Anda perlu waspada karena mungkin belum banyak yang mengetahui bahwa sebenarnya Bali menyimpan bahaya kesehatan masyarakat yang cukup besar, yang berasal dari penyakit menular bersumber binatang yang disebarkan oleh nyamuk sebagai vektornya. Bahaya tersebut adalah terjangkitnya demam berdarah dengue
Kasus demam berdarah dengue yang terjadi di Bali merupakan angka tertinggi di Indonesia yang terekam mengalami peningkatan secara terus menerus pada periode 2010 “ 2016 dan mengalami penurunan pada 2017 dan 2018. Puncak ledakan kasus DBD terjadi pada tahun 2015 dan 2016 dimana setiap 100,000 penduduk ditemukan 125 “ 200 kasus DBD baru. Secara keseluruhan kasus DBD baru yang terlaporkan sejak tahun 2010 sampai dengan 2018 sejumlah 55,215 kasus, dengan rata “ rata pada setiap 100,000 penduduk terdapat 195 kasus baru. Dari 9 kabupaten yang ada di wilayah Provinsi Bali, Denpasar dan Badung seringkali memiliki jumlah kejadian per 100,000 populasi tertinggi.
Beberapa faktor ditemukan berhubungan erat dengan peningkatan kasus DBD tersebut diantaranya adalah kepadatan penduduk serta kondisi cuaca di wilayah turisme popular tersebut.
Denpasar, sebagai ibu kota provinsi memiliki kepadatan penduduk tertinggi diantara kabupaten yang lain dimana kepadatan tertinggi pada tahun 2018 dan terendah pada tahun 2010. faktor kepadatan berkaitan dengan perilaku nyamuk sebagai vector terjadinya penularan yang berperan sebagai perantara virus masuk ke tubuh inang manusia. keberadaan manusia menjadi penentu berlangsungnya interaksi serta penularan, perilaku vector yang berkaitan dengan hal ini disebut sebagi blood feeding plasticity. Temuan yang sama dilaporkan oleh studi di Singapura bahwa pertumbuhan penduduk berhubungan erat dengan endemic DBD pada tahun 2004 “ 2005. Keberadaan host atau inang dari manusia juga berperan besar dalam memperkirakan terjadinya KLB kaitanya dengan adanya infeksi sekunder. Didukung juga bahwa nyamuk Aedes Aygypti bersifat antropofilik yang sangat bergantung pada keberadaan manusia dalam siklus aktivitas reproduksinya.
Faktor cuaca yang berkaitan erat dengan peningkatan kasus DBD meliputi jumlah hari hujan dan rata “ rata kelembaban udara. Buleleng merupakan kabupaten yang mengalami jumlah hari hujan terbanyak sepanjang tahun sampai dengan tahun 2018 serta merupakan kabupaten yang memiliki kelembaban tertinggi, dimana pada tahun 2018 terekam sebesar 86.67%. Hasil studi di Provinsi Bali ini linear dengan temuan studi yang dilaksanakan di Srilanka pada tahun 2003 “ 2012 yang melaporkan adanya hubungan signifikan antara terjadinya kasus DBD dengan berbagai variable iklim termasuk didalamnya curah hujan, jumlah hari hujan, suhu udara, perubahan antara siang dan malam hari, serta rata “ rata kelembaban udara dengan jeda waktu pajanan beberapa minggu sebelumnya. Studi di Bali yang dilaksanakan pada tahun 2019 merekam hasil yang sama dimana curah hujan menjadi faktor pendorong utama peningkatan kasus yang berpeluang mengantarkan atau memediasi peningkatan kepadatan vektor perantara di lingkungan. sekitar manusia beraktivitas.
Pengamatan mengenai persebaran geografis menemukan adanya kluster atau pola persebaran jumlah kasus yang mengelompok pada tahun 2012, temuan ini konsisten dengan studi yang sebelumnya di tahun 2019 yang merefleksikan adanya faktor pendorong transmisi yang tidak seragam pada wilayah geografis di Bali baik dari faktor lingkungan seperti keberadaan tempat perindukan nyamuk, perubahan fungsi lahan, iklim suhu udara, curah hujan kelembaban, maupun faktor social demografi seperti kepadatan penduduk, mobilitas, kepadatan tranportasi, jumlah pengunjung.
Penggabungan dari ketiga faktor di atas (kepadatan penduduk, jumlah hari hujan serta kelembaban) diestimasikan dapat mempengaruhi jumlah kasus secara bersama “ sama dengan perkiraan adanya peningkatan resiko kejadian setiap adanya tambahan kepadatan penduduk 1 orang per kilometre persegi, resiko tambahan kasus DBD juga akan meningkat setiap adanya penambahan 1 hari hujan serta kenaikan 1% kelembaban udara.
Indonesia sebagai negara endemis DBD yang pada awalnya hanya menjangkit di Kota Jakarta dan Surabaya saja pada tahun 1986, saat ini kasus DBD telah menyebar di seluruh kabupaten di Indonesia dan Provinsi Bali merupakan wilayah dengan angka penyebaran paling tinggi. Pada tahun 2015, 2016 dan 2017 angka kejadian DBD di wilayah Bali mencapai 5 “ 12 kali lebih tinggi daripada angka kasus DBD secara nasional. Hal ini cukup mengkhawatirkan bagi keamanana kesehatan masyarakat secara local maupun keamanan kesehatan di masyarakat global, karena posisi Bali sebagai destinasi wisata untuk pengunjung dari 184 negara berdasarkan data pada tahun 2019, yang membuka peluang terjadinya transmisi DBD lebih luas dan cepat ke berbagai negara. Pada kajian studi terdahulu telah dilaporkan terjadinya kasus import DBD di negara Italia, Jepang dan Australia yang dikonfirmasi disebarkan oleh pengunjung setelah berkunjung di Bali beberapa saat sebelumnya. Laporan tersebut membawa kekhawatiran akan terjadinya kejadian luar biasa (outbreak) di negara lain.
Hasil kajian terhadap fenomena kasus DBD yang terjadi di Bali ini memberikan rekomendasi kebijakan intervensi yang dapat ambil kepada otoritas kesehatan serta pemerintah daerah di Provinsi Bali, terutama kabupaten kota yang memiliki kecenderungan terjadi ledakan kasus terutama lokasi dengan pengunjung wisata yang tinggi. Ketiga faktor perlu di masukkan ke dalam komponen dalam monitoring untuk pengendalian jumlah kasus diataranya adalah faktor kepadatan penduduk, komponen meteorologis (suhu, kelembaban, curah hujan) serta faktor lain seperti mobilitas penduduk serta faktor lingkungan dan sanitasi.
Hasil studi ini juga memberikan wawasan baru kepada masyarakat umum sebagai pengunjung tentang perlunya untuk tetap waspada terjangkitnya penyakit menular bersumber binatang salah satunya DBD dengan vector nyamuk, bahwa persebaran cukup tinggi terjadi di wilayah yang sering dikunjungi dan membawa dampak bukan hanya pada penduduk local akan tetapi menyimpan potensi bahaya yang lebih besar bagi penduduk secara global. Pengawasan dan pemantauan seluruh komponen yang terbukti secara ilmiah mempengaruhi persebaran DBD akan mampu menghindarkan terjadinya kejadian luar biasa serta melindungi seluruh populasi penduduk setempat maupun pengunjung. Dampak secara jangka panjang akan mempertahankan kestabilan ekonomi dari sector pariwisata dan reputasi Indonesia di mata internasional.
Penulis: Zida Husnina
Link Jurnal:





