51动漫

51动漫 Official Website

Waspada Kanker Prostat, Dokter UNAIR TV Ungkap Sering Tak Bergejala di Stadium Awal

dr Gullyawan Rooseno SpU MKedKlin saat menjelaskan Fakta dan Mitos mengenai Kanker Prostat dalam platform Dokter UNAIR TV pada Jumat (19/9/2025) (Foto: Istimewa).
dr Gullyawan Rooseno SpU MKedKlin saat menjelaskan Fakta dan Mitos mengenai Kanker Prostat dalam platform Dokter UNAIR TV pada Jumat (19/9/2025) (Foto: Istimewa).

UNAIR NEWS – Platform kesehatan digital Fakultas Kedokteran () 51动漫 (UNAIR), , kembali hadirkan segmen mingguan pada Jumat (19/9/2025). Kali ini, topik terbarunya mengangkat seputar 淢itos atau Fakta: Makan Tomat Bisa Mencegah Kanker Prostat?. Dalam sesi tersebut, hadir dr Gullyawan Rooseno SpU MKedKlin, Dokter Spesialis Urologi sebagai narasumber yang memberi wawasan medis tentang persoalan faktor risiko dan upaya pencegahan kanker prostat. 

Kemunculan Kanker Prostat

dr Seno menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat beranggapan kurang tepat mengenai prostat. 淏anyak orang mengira prostat itu penyakit, padahal sebenarnya prostat adalah kelenjar yang dimiliki semua laki-laki. Ukurannya sebesar kacang walnut dan melingkupi salah satu bagian dari uretra. Fungsinya adalah memproduksi 25 sampai 30 persen cairan ejakulasi untuk melindungi sperma agar tidak cepat mati, jelasnya.

Ia menerangkan bahwa kanker prostat sendiri muncul ketika sel-sel pada kelenjar prostat berubah menjadi ganas akibat mutasi gen. 淪ekitar 95 persen jenis patologinya berasal dari keganasan sel kelenjar, meskipun ada juga jenis lain yang lebih buruk, terangnya. 

Lebih lanjut, dr Seno menyebutkan bahwa orang dengan keturunan Afrika atau memiliki riwayat keluarga kanker prostat memiliki risiko lebih tinggi terpapar. Sementara itu, angka kejadian kanker ini di Asia lebih rendah daripada dengan Eropa, Amerika, dan Afrika. Meski demikian, kata dr Seno, rata-rata penyebabnya tetap dipengaruhi faktor genetik.

Selain faktor keturunan, dr Seno menyebut bahwa beberapa gaya hidup dicurigai sebagai salah satu faktor risiko. 淥besitas, merokok, konsumsi makanan tinggi lemak jenuh, serta kurang sayur dan buah dapat meningkatkan risiko kanker prostat. Namun hal ini tidak selalu akan berujung, ya, ujar dr Seno. 

Lakukan Skrining Dini

Ia menambahkan, kanker prostat pada tahap awal sering tidak bergejala. Jika pun ada, gejalanya mirip dengan pembesaran prostat jinak atau infeksi saluran kencing, seperti sering buang air kecil, kencing terputus-putus, hingga rasa tidak lampias setelah berkemih. Pada stadium lanjut, tambahnya, kanker bisa menyebabkan disfungsi ereksi, nyeri tulang, bahkan kesulitan buang air kecil.

Untuk deteksi dini, dr Seno menyarankan skrining melalui colok dubur atau tes Prostat Spesifik Antigen (PSA). 淏agi pria dengan riwayat keluarga kanker prostat, skrining sebaiknya dimulai pada usia 45 tahun. Sedangkan yang tidak memiliki riwayat keluarga tersebut dapat check ke dokter urologi di atas usia 50 tahun, ujarnya.

Selain itu, menjawab pertanyaan yang beredar di masyarakat terkait konsumsi tomat, dr Seno menegaskan bahwa hal itu merupakan mitos. 淭omat memang mengandung antioksidan, tapi penelitian menyebutkan tidak ada perbedaan signifikan terhadap penurunan kejadian kanker prostat, tegasnya. Sementara itu, anggapan lain jika masturbasi mempengaruhi risiko kanker prostat, menurutnya, masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

淜alau kanker prostat menyerang pria berusia lanjut itu fakta. Rata-rata pasien usianya di atas 40 tahun, tapi sekali lagi dengan riwayat keluarga yang sebelumnya memiliki kanker prostat. Di Indonesia, kebanyakan pasien baru terdiagnosis kanker prostat saat penyakit sudah menyebar. Karena itu, saya menganjurkan agar pria melakukan skrining sejak dini. Jangan menunggu gejala muncul karena biasanya gejala baru terasa saat sudah stadium lanjut, pungkas dr Seno. 

Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah

Editor: Ragil Kukuh Imanto 

AKSES CEPAT