Tikus liar bukan sekadar hama lingkungan, akan tetapi hewan pengerat ini juga berperan sebagai pembawa (reservoir) berbagai patogen berbahaya yang dapat menular ke manusia. Salah satunya adalah Trypanosoma lewisi, parasit protozoa yang ditularkan melalui serangga dari jenis pinjal dan dikenal menginfeksi tikus di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Meski jarang disadari, parasit ini memiliki potensi menular dari hewan ke manusia (zoonosis) dan menjadi ancaman tersembunyi bagi kesehatan masyarakat. Permasalahan utama dalam pengendalian T. lewisi adalah sulitnya mendeteksi parasit ini secara dini dan akurat. Pada banyak kasus, jumlah parasit dalam darah sangat rendah sehingga metode konvensional seperti pemeriksaan apusan darah atau uji serologi sering kali tidak mampu mendeteksinya. Akibatnya, infeksi dapat luput dari pengawasan dan berpotensi menyebar tanpa disadari.
PCR Jadi Andalan Deteksi Modern
Menjawab tantangan tersebut, para peneliti mengandalkan metode Polymerase Chain Reaction (PCR), teknik molekuler yang mampu mendeteksi keberadaan parasit melalui materi genetiknya. Metode ini dikenal jauh lebih sensitif dan spesifik dibandingkan pemeriksaan mikroskopis. Namun demikian, keberhasilan PCR sangat ditentukan oleh jenis primer yang digunakan. Primer merupakan potongan DNA pendek yang berfungsi mengenali target genetik parasit secara spesifik. Hingga kini, beberapa primer PCR untuk mendeteksi T. lewisi telah dikembangkan, tetapi belum diketahui secara pasti primer mana yang paling akurat dan praktis untuk digunakan dalam surveilans lapangan.
Membandingkan Tiga Primer PCR
Sebuah penelitian yang dilakukan di Indonesia mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan membandingkan performa dari tiga set primer PCR yang telah banyak digunakan, yaitu TC121/TC122, CATLew F/CATLew R, dan LEW1S/LEW1R. Penelitian ini menganalisis 100 sampel darah tikus liar (Rattus spp.) yang diperoleh dari wilayah pesisir Banyuwangi, Jawa Timur dan telah dilakukan proses ekstraksi DNA di Pusat Riset Veteriner, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bogor, Jawa Barat. Seluruh sampel diuji menggunakan PCR dengan ketiga primer tersebut, kemudian hasilnya divisualisasikan melalui gel elektroforesis. Akurasi dan sensitivitas setiap primer dievaluasi dengan membandingkan hasil PCR terhadap pemeriksaan mikroskopis sebagai standar acuan.
LEW1S/LEW1R Paling Sensitif dan Konsisten
Hasil penelitian menunjukkan bahwa primer LEW1S/LEW1R memiliki performa paling unggul. Primer ini mampu mendeteksi T. lewisi pada 30 sampel dengan tingkat sensitivitas 100% dan spesifisitas 97,22%. Selain itu, primer ini secara konsisten menghasilkan satu pita DNA yang jelas tanpa muncul pita non-spesifik, sehingga memudahkan interpretasi hasil. Menurut perspektif peneliti, primer LEW1S/LEW1R terbukti paling stabil dan akurat, bahkan pada kondisi parasitemia rendah. Hal ini sangat penting untuk diketahui terutama jika akan digunakan untuk deteksi dini di lapangan. Sementara itu, primer CATLew F/CATLew R menunjukkan sensitivitas sedikit lebih rendah, yaitu 96,43%, sedangkan primer TC121/TC122 memiliki sensitivitas paling rendah, yaitu 67,86%, meskipun ketiganya memiliki tingkat spesifisitas yang relatif sama.
Penting dalam Pendekatan One Health
Temuan ini memiliki makna strategis dalam konteks pendekatan One Health, yang menekankan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Deteksi akurat parasit pada hewan reservoir seperti tikus liar menjadi langkah awal penting dalam mencegah penularan ke manusia. Dengan metode yang tepat, surveilans penyakit zoonosis bisa dilakukan lebih efektif. Ini bukan hanya soal kesehatan hewan, tetapi juga perlindungan kesehatan masyarakat. Primer LEW1S/LEW1R dinilai sangat sesuai untuk diterapkan di daerah dengan keterbatasan fasilitas laboratorium karena menghasilkan hasil yang jelas dan mudah diinterpretasikan.
Arah Riset ke Depan
Ke depan, para peneliti merekomendasikan pengujian lebih lanjut pada kondisi infeksi campuran dengan parasit lain serta eksplorasi penerapan metode ini pada hewan lainnya, termasuk manusia. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas kontribusi riset dalam pengendalian penyakit zoonosis di Indonesia. Penelitian ini menegaskan bahwa inovasi diagnostik berbasis molekuler memiliki peran krusial dalam menghadapi ancaman penyakit yang kerap tersembunyi, namun berdampak nyata bagi kesehatan masyarakat.
Penulis: Aditya Yudhana, drh., M.Si.
Sumber: Yudhana A, Santosa GAIP, Wardhana AH, Putra FL, Edila R, Sawitri DH, Praja RN, Kurnianto MA, Tanjung AGR, Desquesnes M, and Matsubayashi M. (2025). Comparative evaluation of three polymerase chain reaction primer sets for accurate molecular detection of Trypanosoma lewisi in wild rodents in Indonesia, Veterinary World, 18(8): 2395“2405.





