UNAIR NEWS “ Tata kelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan akar dari berbagai isu strategis seperti kemiskinan, ketimpangan, dan pemerataan. Menyadari hal tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) (FEB) 51¶¯Âþ menginisiasi acara dengan tema Seberapa Merata APBD Surabaya untuk Pembangunan Akses Pendidikan?.
Acara yang digelar secara daring pada Jumat (19/9/2025) itu menghadirkan para pemangku kepentingan di bidang pendidikan. Dipandu oleh Dr Sigit Kurnianto SE MSA selaku dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR. Turut hadir Kepala Bappeda Litbang Surabaya, Irvan Wahyu Drajad MMT mewakili Walikota Surabaya, dan dr Akmarawita Kadir dari DPRD Surabaya. Hadir pula perwakilan komunitas pengajar, yakni Fauzi Samudera Ramadhan dari Komunitas 1000 Guru dan Sutrisno SPd dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Pandangan Lintas Sektor untuk Pendidikan Surabaya
Mewakili Pemerintah Kota Surabaya, Irvan Wahyu Drajad memaparkan visi Walikota Eri Cahyadi yang menekankan bahwa APBD harus tepat sasaran untuk mewujudkan Surabaya yang cerdas dan inklusif. Ia menegaskan kebijakan Pemkot Surabaya berprinsip no one left behind, yaitu memeratakan pembangunan untuk menghilangkan diskriminasi geografis dan sosial-ekonomi.
œKebijakan pendidikan yang tepat bukan hanya investasi fiskal, melainkan investasi peradaban, kutip Irvan, menggarisbawahi komitmen pemerintah.
Dari sisi legislatif, dr Akmarawita Kadir menjelaskan peran DPRD dalam memastikan anggaran pendidikan sesuai dengan amanat konstitusi. Ia mendefinisikan bahwa pendidikan berkualitas harus menghasilkan lulusan yang kompeten, yaitu memiliki keseimbangan antara attitude, knowledge, dan skill.
œPendidikan sangat penting dan selalu menjadi prioritas utama, karena akan berkontribusi untuk Surabaya yang maju, produktif, inovatif, berdaya saing, beretika, dan sejahtera, ujarnya.
Sementara itu, Sutrisno dari PGRI, memberikan perspektif dari organisasi profesi. Ia menekankan bahwa tantangan utama saat ini adalah penguatan kompetensi guru untuk menghadapi era digital. Menurutnya, peran guru telah bergeser dari sekadar pengajar menjadi fasilitator, pembentuk karakter, dan kreator konten pembelajaran yang inovatif.
Rekomendasi untuk Pendidikan Surabaya
Salah satu poin utama yang disuarakan oleh PGRI adalah perlunya penguatan karier dan kesejahteraan guru. Sutrisno menekankan bahwa kesejahteraan adalah fondasi untuk menciptakan pendidik yang profesional dan adaptif.
œKesejahteraan guru adalah fondasi utama untuk profesionalisme. Guru yang sejahtera dan terlindungi akan lebih fokus dalam meningkatkan kompetensi dan menciptakan inovasi pembelajaran di era digital, tegasnya.
Selain itu, adanya rekomendasi peningkatan sarana dan prasarana melalui modernisasi fasilitas belajar berbasis teknologi. Hal itu bertujuan agar seluruh sekolah, termasuk yang belum terakreditasi A, dapat mencapai standar minimum yang dibutuhkan untuk mencetak lulusan berkualitas. Realisasi dari berbagai rekomendasi tersebut diharapkan dapat berjalan efektif melalui mekanisme monitoring yang melibatkan sinergi aktif antara legislatif, eksekutif, akademisi, dan masyarakat.
Penulis: Ahmad Abid Zhahiruddin
Editor: Khefti Al Mawalia





