UNAIR NEWS – Departemen Urologi Fakultas Kedokteran (FK) 51动漫 (UNAIR) beberapa waktu lalu menggelar kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Duyungan, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro. Sebanyak 80 dokter dan mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) FK UNAIR dikerahkan untuk melayani pengobatan gratis serta khitan masal bagi warga setempat, Kamis (28/12) 2017 lalu.
Antusiasme warga Desa Duyungan seolah tak terbendung. Tercatat lebih dari 400 warga berbondong-bondong memadati lapangan Balai Desa Duyungan yang menjadi lokasi berlangsungnya acara pengobatan gratis.
Sementara pengobatan gratis lebih diminati, kegiatan khitan massal yang dilangsungkan bersamaan dengan pengobatan gratis ini hanya diikuti 25 orang saja. Hal ini dimaklumi Prof. Dr. Soetojo, dr.,Sp.U(K) Dekan FK UNAIR sekaligus penginisiasi kegiatan pengmas tersebut.
淜alau di desa, sunat masal tidak begitu diminati karena masyarakat di sini kepingin anaknya disunat sendiri-sendiri kemudian di rame-ramein. Misal mendatangkan uztaz atau nanggap wayang, ujarnya.
Meski begitu, Prof. Soetojo mengaku berlega hati lantaran melalui dua kegiatan pengmas tersebut, FK UNAIR tetap dapat memberikan kontribusi menyehatkan masyarakat di sana.
Dalam penyelenggaraan acara tersebut, tim pengmas Departemen Urologi bekerjasama dengan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UNAIR. Kegiatan ini juga melibatkan kerjasama dengan dinas kesehatan, puskesmas, camat, koramil serta Polsek Kecamatan Sukosewu.
Kegiatan pengmas Departemen Urologi FK UNAIR sudah menjadi tradisi setiap tahun. Mereka rutin menyelenggarakan kegiatan pengmas berupa khitan masal, yakni di Surabaya serta di beberapa wilayah lainnya seperti Lamongan dan Pasuruan.
淏ingkisan berupa sarung dan uang saku juga selalu dihadiahkan untuk anak-anak peserta khitan, supaya anak-anak senang aja, ujarnya.
Teknik operasi untuk khitan yang digunakan adalah metode konvensional, tanpa menggunakan laser. Menurutnya, cara laser maupun konvensional sebenarnya sama-sama meninggalkan rasa sakit, karena sama-sama dibius lokal. Hanya saja metode konvensional memberikan hasil lebih cepat dan lebih baik.
淢enurut saya yang lebih bagus itu teknik konvensional, kalau laser lebih ribet. Teknik konvensional juga lebih cepat, sehingga cocok digunakan untuk menyunat pasien dengan jumlah lebih banyak. Teknik ini selalu kami ajarkan ke mahasiswa PPDS Urologi, ungkapnya.
Mengingat antusiasme warga cukup tinggi, Prof Soetojo berencana akan kembali menggelar acara pengmas pada kesempatan mendatang. Dengan begitu dapat tersampaikan misi FK UNAIR untuk menyosialisasikan pentingnya hidup sehat dan khitan kepada masyarakat.
淜hitan dianjuran agama dan bermanfaat untuk kesehatan, karena jika tidak dikhitan justru berpotensi mengakibatkan kanker penis, ujarnya. (*)
Penulis: Sefya Hayu Istighfaricha
Penulis: Binti Q. Masruroh





