Penerapan peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh pemerintah Indonesia telah mengakibatkan berkurangnya hubungan secara tatap muka. Hal ini membuat terjadinya peningkatan penggunaan teknologi digital saat orang-orang harus menyelesaikan pekerjaanny dari rumah, mencari hiburan dan membuat kontak sosial secara daring. Aktivitas secara daring ini juga bisa memicu seseorang untuk bermain game online secara terus menerus. Jika dilakukan dengan benar, orang mungkin mendapatkan manfaat dari internet dan game online yang dapat menghilangkan stres yang disebabkan oleh adanya pembatasan sosial tetapi penggunaan internet yang berlebihan akan meningkatkan adiksi internet dan gangguan bermain game online. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa isolasi sosial dan karantina mandiri dapat memengaruhi aktivitas rutinitas sehari-hari, hingga mata pencaharian individu. Hal ini akan berdampak signifikan terhadap kesehatan mental pengguna internet, khususnya di kalangan anak dan remaja.
Adiksi Internet dan Gangguan Bermain Game Online
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, edisi kelima (DSM-V), Internet gaming disorder dapat didiagnosis jika 5 (atau lebih) dari sembilan kriteria berikut terpenuhi: 1) perhatian berlebih terhadap suatu permainan online/offline; 2) timbul perilaku negatif yang dialami saat permainan dihentikan; 3) semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk bermain dalam suatu permainan; 4) ketidakmampuan mengontrol diri untuk berpartisipasi dalam permainan; 5) hilangnya minat pada hobi dan hiburan sebelumnya karena permainan tersebut; 6) terus menggunakan permainan secara berlebihan meskipun menyadari bahwa dirinya mengalami masalah psikososial; 7) melakukan kebohongan kepada anggota keluarga, atau orang lain mengenai jumlah dan waktu permainan yang telah dilakukannya; 8) penggunaan permainan sebagai pelarian atau untuk meredakan suasana hati yang negatif; dan 9) membahayakan suatu hubungan, pekerjaan, pendidikan, atau peluang karir yang signifikan karena alasan permainannya. Mereka yang mengalami adiksi internet akan mengalami masalah seperti kehilangan kendali dan ketidakmampuan untuk mengurangi waktu yang dihabiskan untuk bermain, diikuti oleh masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Prevalensi dan pengaruh psikologis adiksi internet dan gangguan bermain game online selama pandemi COVID-19
Adiksi internet, yang didalamnya termasuk gangguan bermain game online dan judi patologis adalah semacam perilaku adiktif tanpa zat psikoaktif yang umumnya berlangsung secara bertahap. Hal ini ditandai dengan perubahan pada beberapa aspek individu seperti berkurangnya minat dan kesenangan, kehilangan kendali pada orang disekelilingnya hingga timbulnya obsesi tentang penggunaan internet. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketakutan individu terhadap COVID-19 dan masa karantina yang berkepanjangan mungkin telah menyebabkan timbulnya gejala depresi dan kecemasan ditambah dengan peningkatan kasus COVID-19 yang yang semakin tidak menentu dan berkembang cepat. Mereka yang memiliki gangguan kepribadian obsesif-kompulsif, kualitas interpersonal yang buruk, riwayat gangguan somatisasi, dan kecenderungan untuk menilai realita rendah akan beresiko mengalami adiksi internet lebih besar. Anak-anak dengan perilaku bermain game online berlebihan lebih cenderung untuk mudah mengalami depresi, cemas, dan kesepian. Merasa tertekan dapat mengurangi motivasi untuk bersosialisasi dan mengurangi motivasi untuk bermain game.
Menurut studi yang dilakukan di beberapa sekolah menengah pertama di Tiawan selama pandemic COVID-19, ditemukan bahwa impulsivitas memiliki pengaruh terbesar terhadap terjadinya adiksi internet. Individu lebih cenderung menyukai mendapatkan kepuasan instan di internet sehingga membuat mereka sering mengabaikan tugas mereka semau sendiri. Dukungan sosial virtual yang tinggi dan kehidupan keluarga yang kurang harmonis telah berkontribusi pada prediksi insiden adiksi internet di kalangan remaja. Pola kelekatan keluarga yang renggang selama pandemi akan meningkatkan peluang remaja untuk meningkatkan penggunaan internet dalam rangka manajemen stres. Adiksi internet mungkin merupakan salah satu gejala perilaku yang mencerminkan bahwa ketidakharmonisan keluarga terjadi di antara siswa remaja selama pandemi. Orang tua perlu mendidik anak-anak mereka tentang mengelola aktivitas online mereka, termasuk pada saat bermain game. Mereka harus memantau dan membimbing anak-anak mereka untuk memanfaatkan beberapa kegiatan yang berbeda dan/ atau membentuk strategi koping adaptif untuk menghadapi tantangan di masa pandemi COVID-19.
Penulis: Izzatul Fithriyah, dr. Sp.KJ(K), Patria Yudha Putra, dr.
Uraian lengkap tentang riset tersebut dapat dibaca di jurnal di bawah ini.





