51动漫

51动漫 Official Website

Pemetaan Daerah di Kabupaten Bangkalan Berdasarkan Indikator yang Mempengaruhi Kasus Stunting

IL by Radar Bojonegoro

Stunting menjadi salah satu fokus pemerintah dalam bidang kesehatan. Hal ini dikarenakan terkait dengan pemenuhan gizi balita yang dapat berimbas pada perkembangan secara fisik dan mental. Stunting merupakan kondisi di mana balita gagal tumbuh yang disebabkan oleh berbagai factor seperti malnutrisi, sanitasi lingkungan yang kurang baik, serta ibu yang menikah dini. Penanganan dalam mengurangi kasus stunting menjadi hal yang vital karena generasi muda merupakan modal suatu negara untuk meneruskan tantangan di masa mendatang. Indonesia merupakan negara kedua di Asia Tenggara yang mempunyai tingkat stunting tertinggi. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia menggalakkan berbagai program untuk mempercepat pengurangan kasus stunting di berbagai daerah.

Salah satu daerah yang mempunyai kasus stunting tinggi adalah Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan laporan dari kantor PPKBP3A Kabupaten Bangkalan diketahui bahwa angka prevalensi stunting di Kabupaten Bangkalan tahun 2021 adalah 38,9%. Nilai tersebut cukup tinggi dan melebihi batas target tingkat stunting di Indonesia. Kemudian, hal ini juga diperparah dengan adanya pandemi Covid-19 yang mulai terjadi pada Maret 2020. Kondisi tersebut tidak memungkinkan bagi beberapa bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif dikarenakan sang ibu harus diisolasi akibat menderita Covid-19. Sebagaimana diketahui bahwa pemberian gizi di awal kehidupan bayi terutama ASI eksklusif sangatlah penting bagi perkembangan anak. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk memetakan area di Kabupaten Bangkalan berdasarkan variabel-variabel yang mempengaruhi kasus stunting.

Pada penelitian ini diharapkan dapat menurunkan kasus stunting dengan melakukan monitoring dan memberikan perlakuan khusus bagi daerah yang berpotensi stunting. Pemetaan tersebut dapat berguna bagi Pemerintah Kabupaten Bangkalan untuk memberikan perlakuan yang sesuai dengan karakteristik daerah tersebut. Hal ini juga mendukung tujuan SDGs dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data survei PK-21 yang berasal dari BKKBN Provinsi Jawa Timur. Variabel yang digunakan diantaranya adalah usia perkawinan, sumber penghasilan, gizi, tabungan, alas rumah, sumber air minum, dan sanitasi. Selanjutnya melakukan reduksi dimensi terhadap variabel-variabel tersebut dengan menggunakan metode Analisis Faktor. Berdasarkan hasil analisis faktor, variabel-variabel yang digunakan dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu Faktor 1 yang terdiri dari sumber penghasilan, nutrisi, dan tabungan serta Faktor 2 yang terdiri dari usia perkawinan, sumber air minum, alas rumah, dan sanitasi.

Selanjutnya berdasarkan pengelompokan variabel tersebut, dilakukan analisis klaster untuk memetakan daerah yang ada di Kabupaten Bangkalan berdasarkan variabel-variabel yang mempengaruhi stunting. Hasil analisis tersbeut menunjukkan bahwa daerah di Kabupaten Bangkalan dapat dipetakan menjadi empat klaster yang mempunyai karakteristik berbeda-beda.

Klaster satu terdiri dari Kecamatan Bangkalan, Konang, Arosbaya, Burneh, Galis, Geger, Klampis, Kokop, Konang, Sepulu, Tanah merah, dan Tanjung Bumi. Daerah-daerah tersebut mempunyai nilai yang baik pada variabel tabungan, penghasilan rumah tangga, sanitasi, nutrisi, dan pengetahuan ibu terhadap pernikahan yang ideal. Kemudian, Klaster dua terdiri dari Kecamatan  Kamal dan Socah dimana daerah tersebut mempunyai ketersediaan air, sanitasi, dan kebersihan lingkungan yang kurang. Selanjutnya pada Klaster tiga terdiri dari Kecamatan Tragah dan Blega dimana daerah tersebut mempunyai kesejahteraan rumah tangga yang masih rendah. Pada Klaster empat, terdapat Kecamatan Modung, Labang, dan Kwanyar dimana sebagian besar responden pada daerah tersebut mempunyai sumber penghasilan keluarga yang kurang dan pemahaman ibu terhadap pernikahan yang ideal juga masih rendah.

Berdasarkan permasalahan dan karakteristik pada masing-masing klaster tersebut, pemerintah dapat membuat program dan kebijakan yang sesuai agar tepat sasaran. Program tersebut dapat dijalankan secara terintegrasi antara pemerintah desa setempat, akademisi, dan Lembaga swadaya masyarakat dalam mempercepat penurunan kasus stunting di Kabupaten Bangkalan. Sebagai contoh, pemerintah dapat membuat suatu program pembekalan kerja bagi penduduk Kabupaten Bangkalan sehingga dapat meningkatkan potensi kerja di masing-masing rumah tangga. Selain itu, program edukasi juga dapat dijalankan untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya gizi pada bayi dan balita sejak masa kehamilan.

Penulis: Adma Novita Sari, Dzuria Hilma Qurotu檃in, Faradilla Harianto, Sa檌dah Zahrotul Jannah

Jurnal: https://e-journal.unair.ac.id/MGI/article/view/40700

AKSES CEPAT