UNAIR NEWS Sejumlah akademisi 51动漫 (UNAIR) terpilih sebagai anggota Komite Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Kementerian Kesehatan. Komnas KIPI merupakan komite yang berperan dalam mengkaji dan mengevaluasi kejadian ikutan pasca imunisasi secara ilmiah.
Mereka di antaranya adalah Dr Arif Nur Muhammad Ansori MSi, Dr dr Andy Darma SpAK SubspGH, dr Annette d橝rqom MSc PhD, serta Dr dr Brahmana Askandar Tjokroprawiro SpOGK SubspOnk. Kehadiran para akademisi tersebut memperkuat peran UNAIR dalam menjembatani pengembangan ilmu pengetahuan dengan kebijakan publik di bidang kesehatan.
Peran Akademisi dalam Komnas KIPI
Dr Arif menjelaskan bahwa proses seleksi keanggotaan Komnas KIPI mengacu pada rekam jejak akademik, pengalaman riset, serta kontribusi ilmiah di bidang vaksinologi dan imunologi. Ia aktif mempublikasikan riset di tingkat internasional serta menjalin kolaborasi global melalui berbagai organisasi ilmiah, seperti American Society for Virology dan World Society for Virology.
淒alam Komnas KIPI, kami melakukan evaluasi ilmiah terhadap kejadian ikutan pasca imunisasi. Menganalisis hubungan kausalitas berbasis evidence, serta menyusun rekomendasi kebijakan kepada Kementerian Kesehatan, jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya peran akademisi dalam memperkuat komunikasi risiko kepada masyarakat agar tidak terjadi misinformasi terkait vaksin.

Menurutnya, keterlibatan akademisi UNAIR dalam Komnas KIPI menunjukkan kontribusi kuat dalam bidang kesehatan, khususnya vaksinologi. Ia menyebut UNAIR secara konsisten menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi serta berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. 淜ehadiran akademisi UNAIR dalam Komnas KIPI memperkuat sinergi antara riset akademik dan kebijakan kesehatan nasional, ungkapnya.
Sebagai alumni Magister Vaksinologi dan Imunoterapetika (FKH) UNAIR, ia juga mengaku bangga dapat berkontribusi dalam komite tersebut. Ia menilai pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk mengimplementasikan keilmuan secara langsung dalam kebijakan kesehatan nasional.
Tantangan dan Dampak bagi Masyarakat
Dr Arif mengupas sejumlah tantangan yang masih muncul dalam penanganan KIPI di Indonesia. Ia menyebut persepsi masyarakat terhadap keamanan vaksin serta keterbatasan literasi kesehatan sebagai isu utama yang perlu mendapat perhatian.
Selain itu, ia menilai sistem surveilans terintegrasi masih memerlukan penguatan. 淜ami perlu memastikan apakah suatu kejadian benar-benar berasal dari efek vaksin atau hanya bersifat kebetulan. Hal tersebut memerlukan pendekatan multidisiplin yang berbasis data, jelasnya.
Ke depan, ia berharap keterlibatan akademisi dalam Komnas KIPI mampu meningkatkan kepercayaan publik terhadap program imunisasi. Ia juga menilai peran tersebut dapat memperkuat sistem pemantauan keamanan vaksin sekaligus mendorong kebijakan kesehatan yang lebih akurat dan berintegritas.
淜ami berharap kontribusi ini dapat memastikan setiap kebijakan kesehatan yang diambil benar-benar berbasis data ilmiah yang kuat serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, pungkasnya.
Penulis: Maia Chaerunnisa
Editor: Yulia Rohmawati





