51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Aksi Nyata Manajemen Helicobacter pylori: Sebuah Survey pada Kelompok Dokter diAsia Tenggara

Bakteri Helicobacter pylori (H. pylori) telah menginfeksi lebih dari separuh penduduk dunia. Pemberantasan ±á.‰p²â±ô´Ç°ù¾± dapat memperbaiki gejala pada pasien dengan gastritis yang diinduksi ±á.‰p²â±ô´Ç°ù¾±, mengurangi kekambuhan penyakit tukak lambung dan mengurangi kejadian kanker lambung. Namun, kegagalan pengobatan seringkali terjadi karena meningkatnya resistensi antibiotik, kepatuhan pasien yang buruk dan pemberian regimen yang tidak tepat. Idealnya, semua regimen pemberantasan harus didasarkan pada pengujian kerentanan antibiotik/ antibiotic susceptibility testing (AST). Namun, AST masih belum tersedia secara luas sehingga, terapi empiris masih populer di banyak wilayah, khususnya di negara dengan sumber daya terbatas.

Tingkat resistensi primer terhadap clarithromycin dianggap sebagai faktor terpenting dalam pemilihan regimen awal. Resistensi primer terhadap clarithromycin di Kamboja, Indonesia, dan Vietnam pada tahun 2015 masing-masing 43,0%; 28,0% dan 30%. Sedangkan, data terbaru menunjukkan bahwa tingkat resistensi clarithromycin di Malaysia, Singapura, dan Thailand telah mencapai batas atas yaitu 14,8%“16,6%. Pada tahun 2018, Konsensus Bangkok tentang manajemen ±á.‰p²â±ô´Ç°ù¾±, telah dikembangkan. Namun, penerapannya dalam praktik sehari-hari di semua kawasan asia tenggara masih belum diketahui. Baru-baru ini, tingkat resistensi antibiotik ±á.‰p²â±ô´Ç°ù¾± di beberapa negara di Asia Tenggara meningkat secara signifikan, terutama dengan semakin banyaknya strain yang resistan terhadap beberapa obat.

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti dari 51¶¯Âþ bekerjasama dengan para peneliti di kawasan asia tenggara melakukan survey tentang praktik manajemen infeksi ±á.‰p²â±ô´Ç°ù¾± di lapangan. Survey ditujukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor berkaitan dengan praktik dokter, yang mungkin berkontribusi pada peningkatan resistensi antibiotik di suatu  wilayah. Hasil penelitian telah diterbitkan di jurnal terindeks Scopus Q1 yaitu jurnal Helicobacter. Studi melibatkan para dokter dari 10 negara ASEAN. Mereka yang sehari-hari melakukan praktik pemberantasan ±á.‰p²â±ô´Ç°ù¾± diundang untuk berpartisipasi dalam mengisi kuesioner online. Kuesioner berisi pertanyaan tentang ketersediaan tes kerentanan antimikroba di tingkat lokal dan regimen pemberantasan yang mereka pilih dalam praktik sehari-hari.

Total terdapat 564 respon kuesioner yang valid, terdiri atas 314 (55,7%) dari gastroenterolo gist (GI) dan 250 (44,3%) dari dokter non-GI. AST tidak tersedia di 41,7% wilayah. Di negara dengan resistensi clarithromycin rendah dan menengah, regimen lini pertama yang paling umum adalah PAC (proton pump inhibitor [PPI], amoksisilin, clarithromycin) (masing-masing 72,7% dan 73,2%). Regimen terapi lini kedua yang paling umum adalah terapi bismuth-based quadruple, PBM (PPI, bismut, metronidazol, tetrasiklin) (masing-masing 50,0% dan 59,8%), jika terdapat regimen lain yang digunakan sebagai pengobatan lini pertama. Terapi bersamaan (PPI, amoksisilin, klaritromisin, metronidazol) (masing-masing 30,5% dan 25,9%) dan PAL (PPI, amoksisilin, levofloxacin) (masing-masing 22,7% dan 27,7%) lebih disukai jika PBMT digunakan sebagai pengobatan lini pertama. Di negara dengan resistensi clarithromycin tinggi, regimen lini pertama yang paling umum adalah PBMT, tetapi tingkat pemanfaatannya hanya 57,7%. Yang mengkhawatirkan adalah PAC diresepkan pada 27,8% pasien, menempati peringkat kedua sebagai regimen paling umum digunakan dalam praktik sehari-hari, dan tingkat resepnya lebih tinggi pada dokter non-GI daripada dokter GI (40,1% vs 16,2%, p< 0,001).

Berdasarkan hasil yang survey, dapat ditarik kesimpulan bahwa memilih regimen yang mengandung antibiotik dengan tingkat resistensi yang tinggi bukanlah hal yang aneh di Asia Tenggara, terutama di kalangan dokter non-GI. Sehingga, sangat dibutuhkan pengetahuan tentang tingkat resistensi antibiotik di suatu wilayah. Selain itu, di negara dengan resistensi clarithromycin yang tinggi, regimen PBMT kurang dimanfaatkan.

Penulis: Prof. Muhammad Miftahussurur, dr., M.Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D

Artikel lengkap dapat diakses pada:

AKSES CEPAT