Kanker kolorektal merupakan salah satu kanker saluran cerna yang umum dengan tingkat morbiditas, kekambuhan, dan kematian yang cukup tinggi. Saat ini terapi konvensional yang tersedia untuk kanker kolorektal adalah pembedahan, kemoterapi, radioterapi, terapi target, dan imunoterapi, baik terapi tunggal maupun terapi kombinasi. Meskipun, berbagai terapi telah diterapkan, potensi munculnya prognosis buruk tetap ada. Penderita kanker kolorektal, terutama yang berada pada stadium akhir, memerlukan perawatan tambahan untuk meningkatkan kualitas hidup. Pasien mungkin akan menggabungkan perawatan konvensional dengan pengobatan komplementer untuk meningkatkan kesehatan dan manajemen nyeri.
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, 51动漫, melakukan studi literature untuk mengetahui peran terapi komplementer pada pasien kanker kolorektal. Artikel telah diterbitkan di jurnal terindeks scopus kuartil 3 yaitu Research Journal of Pharmacy and Technology. Berdasarkan hasil studi literature, terdapat beberapa pilihan terapi komplementer untuk pasien kanker kolorektal meliputi pengobatan komplementer secara umum, pengobatan herbal Tiongkok, akupunktur, pijat aromaterapi, qigong Baduanjin, dan latihan berbasis mindfulness untuk mengurangi stress.
Pengobatan komplementer mulai digemari karena dapat meringankan beberapa gejala seperti: mual, muntah, kelelahan. Terapi komplementer dalam bentuk olah pikiran dan tubuh meliputi yoga, meditasi, pengurangan stres berbasis kesadaran, dan terapi seni atau musik. Metode lain yang mungkin dilakukan adalah terapi berbasis biologis (suplemen makanan, herbal, vitamin), manipulasi tubuh (pijat, chiropraktik, osteopati), terapi berbasis energi (akupunktur, tai chi, qigong), dan modalitas berdasarkan pengobatan alternative sistem (naturopati, pengobatan tradisional Tiongkok, Ayurveda, homeopati).
Terapi herbal cina merupakan salah satu jenis terapi komplementer yang saat ini penggunaannya telah meningkat. Adapun mekanisme aksi dari obat herbal ini adalah memodulasi proliferasi, apoptosis, siklus sel, adhesi dan migrasi sel tumor, serta angiogenesis tumor. Misalnya, Hedyotis diffusa, obat herbal terkenal yang digunakan dalam praktik klinis Tiongkok untuk mengobati penyakit terkait peradangan dan tumor yang secara signifikan dapat menghambat transduser sinyal dan aktivasi jalur transkripsi 3 (STAT3), mendorong apoptosis dan menekan proliferasi sel tumor. Selain itu, obat herbal cina juga mempunyai potensi untuk meringankan efek samping dari kemoterapi.
Pilihan terapi komplementer lainnya adalah akupunktur. Hasil studi klinis menunjukkan bahwa akupunktur dapat mengurangi waktu pemulihan fungsi gastrointestinal setelah operasi kanker kolorektal. Selain itu, akupunktur dapat mengurangi rasa sakit secara signifikan dengan efek analgesik yang lebih cepat dan lebih lama dibandingkan pengobatan konvensional. Beberapa laporan kasus menunjukkan bahwa akupunktur memperbaiki keluhan psikologis, misalnya. kecemasan, stres, dan kualitas tidur.
Pasien kanker stadium akhir sering mengalami kecemasan atau depresi dan metode pijat dapat digunakan untuk mengurangi stres, meningkatkan relaksasi, mengobati kecemasan atau depresi, menghilangkan rasa sakit, serta meningkatkan kesehatan secara umum. Gerakan pemijatan dapat meningkatkan aktivitas vagal dan menurunkan kortisol, sehingga merangsang respons imun dan mengurangi stres. Aromaterapi, pijat, atau kombinasi keduanya disarankan sebagai solusi perawatan tambahan untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis pasien.
Terapi komplementer lain yang dapat menjadi pilihan adalah Qigong, serangkaian latihan dan terapi energi Tiongkok, yang dikembangkan dan digunakan dalam pengobatan kanker. Baduanjin adalah salah satu bentuk latihan qigong yang bermanfaat bagi kualitas hidup, tidur, dan kondisi fisik (misalnya tekanan darah, detak jantung, fleksibilitas). Sebuah penelitian menemukan bahwa olahraga Baduanjin memperbaiki kelelahan terkait kemoterapi dalam waktu 24 minggu setelah intervensi. Selain itu, qigong juga dapat memodulasi sistem kekebalan tubuh dan peradangan dengan menurunkan nilai CRP dan meningkatkan sel imun.
Terapi komplementer selanjutnya adalah melalui pengurangan stres berbasis kesadaran. Latihan kesadaran atau mindfulness berfokus pada kesadaran akan sensasi dan pengalaman tubuh tanpa terlibat atau bereaksi terhadapnya. Sebuah penelitian di India menemukan bahwa praktik mindfulness pada pasien kanker dapat mengurangi stress. Selain itu, studi meta-analisis menemukan bahwa praktik mindfulness juga efektif mengurangi kecemasan dan depresi. Namun, seberapa besar efek ini masih belum diketahui.
Dari studi literatur yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa adanya berbagai efek menguntungkan dari terapi komplementer dapat meningkatkan kualitas hidup pasien kanker. Terapi ini secara umum aman namun, beberapa jenis terapi seperti terapi berbasis obat masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan keamanan dan konsistensi manfaat.
Penulis: Muhammad Miftahussurur
Artikel dapat diakses pada:





