Escherichia coli adalah flora normal di saluran pencernaan manusia tetapi bakteri ini dapat menyebabkan penyakit dalam keadaan tertentu. Misalnya, ketika E. coli menyebar ke bagian tubuh yang seharusnya steril, seperti saluran kemih, maka akan terjadi infeksi saluran kemih. Pada saat ini tingkat resistensi antibiotik dalam pengobatan infeksi E. coli meningkat, misalnya sensitivitas terhadap tetrasiklin hanya sekitar 20%, dan sensitivitas terhadap gentamisin sebesar 60%, sehingga uji antibakteri E. coli menggunakan kayu putih (Melaleuca leucadendra) yang diproses melalui fermentasi menjadi produk ekoenzim masih jarang dilakukan, sehingga perlu penelitian untuk menentukan dan memverifikasi aktivitas antibakteri ekoenzim dari kayu putih (M. Leucadendra). Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan data tambahan kemampuan antibakteri M. Leucadendra terhadap E. coli, yang kemudian dapat menjadi dasar bagi masyarakat untuk menghasilkan produk olahan kayu putih yang bermanfaat dan mudah dibuat.
M. leucadendra banyak ditanam di beberapa wilayah Indonesia dan dimanfaatkan sebagai pengobatan alternatif. Tanaman ini salah satunya mengandung senyawa terpenoid yaitu 1,8-cineole. Para ilmuwan menyatakan bahwa senyawa terpenoid mampu menghambat pertumbuhan E. coli dengan cara memblokir gen LuxS, yaitu suatu gen yang berfungsi dalam pembentukan biofilm, motilitas, struktur, dan patogenisitas bakteri.
M. leucadendra melalui metode distilasi dapat menghasilkan minyak kayu putih yang berpotensi sebagai antibakteri, antijamur, dan antivirus. Namun, pemrosesan menggunakan metode distilasi tidak mudah dilakukan. Oleh karena itu, perlu untuk menerapkan metode pemrosesan yang lebih sederhana, seperti pembuatan ekoenzim melalui proses fermentasi. Produksi ekoenzim melibatkan pencampuran air, kayu putih, dan gula merah dalam rasio 10:3:1 dan memfermentasi campuran dalam wadah tertutup, yang dibuka secara berkala untuk melepaskan gas fermentasi.
Bahan penelitian yang digunakan adalah daun kayu putih (M. Leucadendra) yang diperoleh dari Desa Candisari Kabupaten Lamongan, Indonesia. Tanaman kayu putih dikonfirmasi melalui proses identifikasi spesies di Laboratorium Bahan Medika Herbal UPT, Batu, Indonesia. Setelah enam bulan fermentasi, ekoenzim dipanen dan disaring melalui filter Sartorius dengan ukuran pori 0,22 渭m. Bakteri E. coli merupakan isolat klinis dari laboratorium Mikrobiologi dan Parasitologi Kedokteran Fakultas Kedokteran 51动漫. Metode yang digunakan adalah uji difusi sumuran berdiameter 6 mm. Setelah enam bulan difermentasi, ekoenzim dipanen dan disaring melalui filter Sartorius dengan ukuran pori 0,22 渭m. Aktivitas antibakteri diukur dengan mengamati zona hambat yang terbentuk pada uji difusi sumuran pada Muller-Hinton Agar. Sebagai kontrol positif digunakan kloramfenikol dan air suling steril sebagai kontrol negatif. Masa inkubasi adalah 24 jam pada suhu 36掳C.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa zona hambat yang terbentuk pada kontrol positif adalah 25,94卤1,1 mm, sedangkan pada kontrol negatif tidak terbentuk zona hambat (0 mm). Sedangkan sampel penelitian larutan ekoenzim daun kayu putih (M. Leucadendra) pada rentang konsentrasi 10% hingga 100% ternyata juga tidak terbentuk zona hambat (0 mm). Namun, masih tampak adanya zona yang lebih jernih di sekitar sumuran ekoenzim.
Penelitian ini menunjukkan bahwa ekoenzim kayu putih (M. Leucadendra) tidak menunjukkan aktivitas antibakteri yang memadai terhadap E. coli pada semua konsentrasi yang diuji. Ketidakmampuan ekoenzim untuk menghambat pertumbuhan E. coli dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk bahan penelitian, metode pengolahan, tingkat keasaman, dan resistensi bakteri.
Terlepas dari hasil negatif dari penelitian ini, penelitian ini telah memberikan beberapa wawasan dan manfaat yang berharga terutama dalam kaitannya dengan produk ekoenzim dari kayu putih, dan pemeriksaan potensi antibakteri M. Leucadendra yang diobati dengan produk ekoenzim terhadap bakteri E. coli. Kemungkinan penggunaan metode difusi agar sebagai uji aktivitas antibakteri ekoenzim, serta efektivitas metode ekoenzim dalam mengekstraksi senyawa aktif dari tanaman kayu putih mempunyai keterbatasan. Selain itu, penelitian ini juga memiliki beberapa keterbatasan, termasuk konsentrasi yang belum teruji dan tingkat kandungan ekoenzim yang tepat, serta penggunaan hanya satu metode pengujian. Tidak adanya metode pengujian alternatif untuk perbandingan atau validasi merupakan keterbatasan hasil penelitian.
Penulis : Muhammad Aafi Baharuddin Attamimi, Wiwin Retnowati, Ummi Maimunah, Eko Budi Koendhori, Neneng Dewi Kurniati
Berikut judul dan link artikel:
Judul: In Vitro Antibacterial Activity of Eco-enzyme of Eucalyptus (Melaleuca leucadendra) against Escherichia coli
Link:





