Virus Hepatitis C (VHC) adalah virus RNA beruntai tunggal yang termasuk dalam famili Flaviviridae. Prevalensi infeksi VHC diperkirakan mencapai 170 juta kasus di seluruh dunia. Pengobatan anti-VHC standar saat ini adalah kombinasi triple dari interferon (IFN)-伪, ribavirin, dan generasi pertama VHC inhibitor NS3 protease (telaprevir atau boceprevir). Obat-obatan ini telah meningkatkan sustained virology response (SVR) hingga 70% untuk pasien yang terinfeksi VHC genotipe 1. Baru-baru ini, telah dilaporkan bahwa kombinasi direct-acting antiviral agent (DAA) dapat meningkatkan tingkat SVR lebih dari 90%. Namun, hanya sejumlah kecil pasien yang dapat mengakses pengobatan ini karena tingginya biaya dan masalah resistensi.
Oleh karena itu, perlu dicari obat anti VHC baru yang bersifat komplementer dan atau alternatif pengobatan infeksi VHC. Tanaman obat merupakan sumber potensial obat baru. Molekul bioaktif pada tanaman diketahui menunjukkan efek farmakologis yang menguntungkan terhadap agen patogen termasuk VHC. Beberapa ekstrak tumbuhan telah terbukti menghambat protease VHC seperti Boswellia carterii dan Embelia schimperi. Beberapa contoh dari kandungan fitokimia yang diisolasi dari tanaman yang dilaporkan dapat menghambat VHC antara lain: sylimarin dari Silybum marianum, epigallocationchin-3-gallate (EGCG) dari Camellia sinensis, ladanein-BJ486K dari Marrubium peregrinum L., narigenin dari grapefruit, quercetin dari Embelia ribes, honokiol dari Magnolia grandiflora, 3-hydroxycaruilignan C dari Swietenia macrophylla, dan excoecariphenol D dari Excoecaria agallocha. Selain itu, penelitian lain melaporkan aktivitas anti-VHC pada ekstrak Glycyrrhiza uralensis dan mengisolasi senyawa aktifnya seperti glisikumarin, glisirin, glisirol, dan liquiritigenin, dengan konsentrasi penghambatan 50% (IC50) masing-masing sebesar 8,8; 7,2; 4,6 dan 16,4 碌g/mL. Senyawa hasil isolasi dari daun Morinda citrifolia (pheophorbide A) juga memiliki aktivitas anti-VHC dengan IC50 0,3 碌g/mL.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun Melicope latifolia diketahui memiliki aktivitas anti-VHC, dengan nilai IC50 sebesar 3,5 碌g/mL terhadap VHC strain J6/JFH1-P47 dan 2,1 碌g/mL terhadap VHC strain J6/JFH1-P1. Oleh karena itu dilakukan penelitian terhadap senyawa aktif dari ekstrak tumbuhan M. latifolia, tumbuhan yang telah dilaporkan sebagai anti-VHC. Melicope latifolia memiliki nama sinonim Euodia latifolia DC dan termasuk dalam tanaman famili Rutaceae, biasa dikenal dengan nama ki sampan di Indonesia. Perlu disebutkan bahwa spesies Melicope dicirikan oleh adanya kandungan senyawa flavonoid termetoksilasi yang dilaporkan memiliki berbagai efek pada beberapa penyakit.
Untuk mengisolasi senyawa aktif dari M. latifolia, pada penelitian ini dilakukan dengan pendekatan isolasi yang dipandu oleh bioaktivitas. Aktivitas anti-VHC diuji secara in vitro pada kultur sel hepatosit Huh 7.5 dan VHC genotipe 2a (J6/JFH1). Ekstrak etanol daun M. latifolia dipisahkan dengan metode kromatografi dan identifikasi struktur kimia senyawa yang diisolasi dilakukan berdasarkan pada data spektrometri massa, data spektral resonansi magnetik inti (RMI) 1 dimensi dan 2 dimensi, serta perbandingan dengan literatur yang telah dilaporkan.
Isolasi dari Melicope latifolia menghasilkan tiga senyawa yaitu methoxyflavone yang diidentifikasi sebagai 5,4′-dihydroxy-7-prenyloxy-3,8,5′-trimethoxyflavone (1); 5,3′-dihidroksi-3,7,8,4′-tetrametoksiflavon (2); dan 5-hidroksi-3,7,8,3′,4′-pentametoksiflavon (3) diisolasi dari ekstrak etanol daun M. latifolia. Aktivitas anti-VHC menunjukkan bahwa senyawa (1) termasuk dalam kategori strong active dalam menghambat VHC J6/JFH1 dengan nilai konsentrasi hambat 50% (IC50) sebesar 6,7卤0,4 碌g/mL dan konsentrasi sitotoksik 50% (CC50) sebesar 19,3 碌g/mL.
Interaksi senyawa (1) dengan protein yang berperan dalam aktivitas VHC ditentukan melalui analisis docking. Penghambatan VHC dari senyawa ini terjadi pada tahap masuk (entry) dan pasca masuk (post-entry) dengan interaksi yang kuat menjadi reseptor 4EAW (protein yang terlibat dalam tahap masuknya VHC) dan 4GAG (protein yang berperan penting selama replikasi VHC). Analisis lebih lanjut diperlukan untuk menjelaskan mekanisme penghambatan ini. Hasil ini menunjukkan bahwa senyawa 1 berpotensi untuk dikembangkan sebagai agen anti-VHC.
Penulis: Prof. Dr. apt. Aty Widyawaruyanti, M.Si.
Informasi detail dari riset ini dapat pada tulisan kami di:
WIDYAWARUYANT A, TUMEWU L, F. HAFID A, S. WAHYUNI T, A. PERMANASARI A, ADIANTI M, I. LUSIDA M, I. Soetjipto S, FUCHINO H, KAWAHARA N, AOKI-UTSUBO C, WIDIANDANI T, HOTTA H. Antiviral and molecular docking analysis of methoxyflavones isolated from Melicope latifolia leaves against VHC. J.Res.Pharm. 2023; 27(3): 1301-1312. http://dx.doi.org/10.29228/jrp.418





