51动漫

51动漫 Official Website

Akurasi Metode Prediksi Ketidaksesuaian Panjang Lengkung Gigi Campuran pada Anak-Anak Surabaya

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Maloklusi adalah masalah yang ditemukan dalam perkembangan dentofasial dan umumnya diamati selama periode gigi campuran (MD), yang merupakan fase transisi dari gigi susu ke gigi permanen. Maloklusi gigi terutama disebabkan oleh ketidaksesuaian antara panjang lengkung gigi dan ukuran gigi. Berdasarkan klasifikasi Angle tentang hubungan antara molar pertama rahang atas dan rahang bawah, maloklusi dibagi menjadi Kelas I, II, dan III. Maloklusi Kelas I Angle adalah kasus yang paling sering ditemui. Banyak faktor yang berkontribusi terhadap maloklusi, termasuk aspek keturunan dan lingkungan. Prevalensi maloklusi di Indonesia tetap sangat tinggi, mempengaruhi sekitar 80% dari total populasi dan merupakan masalah kesehatan gigi utama. Jika perawatan ortodontik diperlukan, sebaiknya dimulai pada tahap MD, karena ini adalah waktu yang optimal untuk mencegah maloklusi.

Perawatan ortodontik seringkali membutuhkan ruang yang cukup untuk memastikan keselarasan gigi yang tepat dalam lengkung yang stabil. Evaluasi kebutuhan ruang melibatkan analisis spesifik untuk menentukan metode perawatan yang tepat. Salah satu analisis tersebut adalah Perbedaan Panjang Lengkung (Arch Length Discrepancy/ALD). ALD mengacu pada perbedaan antara ruang yang tersedia (available space/AS) dan ruang yang dibutuhkan (required space/RS). AS didefinisikan sebagai panjang lengkung yang tersedia untuk penempatan gigi, sedangkan RS mewakili total lebar mesiodistal gigi dari premolar kedua kiri hingga premolar kedua kanan di setiap lengkung.8 Analisis ALD untuk kebutuhan ruang mencakup beberapa metode, seperti metode Moyers, Sitepu, dan Tanaka-Johnston.

Metode Moyers menggunakan tabel probabilitas untuk memperkirakan ruang yang dibutuhkan untuk memprediksi gigi taring permanen (C), premolar pertama (P1), dan premolar kedua (P2) (C-P1-P2) di rahang atas dan bawah menggunakan jumlah keempat gigi seri permanen rahang bawah sebagai prediktor. Moyers menggunakan tabel prediksi pada persentil ke-75, karena dianggap andal secara global dan aman terhadap maloklusi. Metode Sitepu biasanya menganalisis kebutuhan ruang dengan menjumlahkan lebar keempat gigi seri mandibula dan menerapkan rumus. Meskipun metode Sitepu mungkin akurat, keandalannya dapat terganggu oleh kesalahan pengukuran. Metode Tanaka-Johnston mengacu pada keempat gigi seri permanen mandibula dan menetapkan persamaan prediktif berdasarkan rumus dan konstanta yang diterapkan pada setiap lengkung gigi. Metode ini sederhana dan nyaman, karena tidak memerlukan pencitraan radiografi.

Maloklusi secara signifikan terkait dengan penyakit gigi yang paling umum pada anak-anak, termasuk karies gigi, lesi pulpa dan periapikal, trauma gigi, kelainan perkembangan, dan kebiasaan oral. Klinik gigi anak mengelola kesehatan mulut pada tahap awal masa bayi untuk mengurangi dampak yang tidak diinginkan dari kondisi ini pada gigi. Penentuan usia sangat penting dalam banyak profesi, terutama ortodontis. Cara akurat untuk mengevaluasi perkembangan dan kemajuan seseorang adalah dengan melihat usia biologis dan kronologis mereka. Dengan melihat pematangan kerangka atau gigi, seseorang dapat memastikan usia biologis. Menentukan secara tepat potensi pertumbuhan dan waktu percepatan pertumbuhan sangat penting dalam banyak pengaturan terapeutik, terutama dalam hal perencanaan dan hasil perawatan, seperti perawatan ortodontik interuptif selama pertumbuhan dan perkembangan. Bentuk dan ukuran lengkung gigi merupakan komponen penting dari diagnosis ortodontik dan perencanaan perawatan. Ukurannya akan tumbuh sebagai akibat dari erupsi gigi, dan juga dipengaruhi oleh jenis kelamin, penyakit sistemik, diet, etnis, dan hormon. Anak-anak berusia antara 8 dan 10 tahun telah menumbuhkan beberapa gigi permanen. Selanjutnya, morfologi jaringan lunak, arah dan pola perkembangan, kategorisasi maloklusi, korelasi kemiringan insisif-aksial, interaksi tulang rahang-dasar, struktur kerangka wajah, dan batasan perawatan ortodontik semuanya terungkap melalui pemeriksaan radiografi sefalometrik. Klasifikasi maloklusi skeletal ditentukan berdasarkan titik Sella-Nasion-A (SNA) dikurangi titik Sella-Nasion-B (B), yang dikenal sebagai ANB.

Analisis ALD mengukur kebutuhan ruang dengan membandingkan panjang lengkung dengan panjang lengkung gigi. Metode Moyers, Sitepu, dan Tanaka-Johnston memiliki kesamaan dalam mengevaluasi kebutuhan ruang dengan membandingkan keempat gigi seri permanen. Namun, penelitian yang membandingkan akurasi metode Moyers, Sitepu, dan Tanaka-Johnston, serta teknik pengukuran ALD (kawat kuningan dan teknik segmentasi) pada anak-anak Surabaya dengan fase gigi campuran (MD) selama pertumbuhan dan perkembangan (GDS) masih terbatas. Lebih lanjut, hipotesis penelitian ini mengenai ALD yang dihitung dari rumus yang berbeda serta teknik pengukuran panjang lengkung gigi sebenarnya mungkin berbeda secara signifikan. Oleh karena itu, penelitian ini tertarik untuk melakukan studi analisis ALD menggunakan metode Sitepu, Moyers, dan Tanaka-Johnston serta teknik pengukuran ALD.

Penulis: Dr. Alexander Patera Nugraha, drg., M.Imun., M.Kes.,Sp.Ort

Link:

AKSES CEPAT