UNAIR NEWS – 51动漫 (UNAIR) terus berupaya melahirkan alumni yang berdampak di segala bidang. Kali ini, pada bidang fashion, Etty Ariaty Soraya, alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Program Studi Ilmu Komunikasi, kini menjadi founder brand tas lokal, Etnapraya.
Etty mengaku kecintaannya pada tas mendorongnya untuk menciptakan brand sendiri. Menurutnya, produk lokal dengan ciri khas mampu menjadi daya tarik tersendiri yang patut dibanggakan.
淪aya mengambil S2 di Queensland University of Technology, Brisbane, Australia, dengan program studi industri kreatif. Selain karena ketertarikan terhadap produk lokal, saya juga melihat banyak potensi yang dapat digali menjadi sebuah produk di Indonesia, dan saya memilih membuat tas lokal premium, jelasnya.
Premium Leather Handbag Etnapraya
Etty menjelaskan bahwa Etnapraya selalu menjaga kualitas produk secara maksimal demi mempertahankan kepuasan konsumen. Etnapraya hadir dengan kearifan batik lokal, khususnya pola batik Surabaya yang khas.
淜ami punya desain dengan pola batik Surabaya yang telah terverifikasi oleh pemerintah kota Surabaya. Melalui jahitan yang kami buat serta kualitas kulit yang digunakan, hal tersebut secara tidak langsung dapat memperkenalkan Indonesia, khususnya Surabaya, di kancah nasional hingga internasional, imbuhnya.
Dengan yakin, Etty menegaskan kualitas produknya akan terus terjaga. Ia mengungkapkan bahwa kerja keras tim dalam menjaga komunikasi dan koordinasi menjadi kunci penting dalam mempertahankan kualitas produksi.
淜ami tidak buru-buru. Harus ada koordinasi dan komunikasi dengan pengrajin, tim produksi, serta tim desain mengenai bagaimana kami ingin menghadirkan tas dengan kualitas terbaik. Saya yakin kami menjadi tas lokal batik Surabaya pertama yang diproduksi di Indonesia, tegasnya.
Kepedulian Terhadap Kemanusiaan
Selain menjaga kualitas, Etnapraya juga bekerja sama dengan Wistara dalam produksi batik yang dikerjakan oleh pekerja penyandang disabilitas. Etty berharap dirinya tetap bermanfaat bagi orang lain dalam kondisi apapun.
淎walnya saya mengenal Mas Ari, yang merupakan founder Wistara. Dari situ saya tertarik dan memutuskan untuk bekerja sama. Walaupun kami belum besar, tetapi kami ingin ikut terlibat dan berkontribusi dengan membeli dan memesan batik-batik Surabaya, terutama warna-warna yang kami pilih sendiri, ungkapnya.
Etty berpesan kepada mahasiswa UNAIR untuk mulai mencoba dan mengenal diri sendiri. Ia menekankan pentingnya belajar dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi selama masa perkuliahan. 淔okus belajar dan temukan ketertarikan, lalu mulai bertindak. Dari situ kita akan bertemu dengan berbagai kendala dan kesulitan, tetapi hal tersebut akan membentuk mental untuk menghadapi berbagai rintangan, pesannya.
Penulis: Putri Andini
Editor: Khefti Al Mawalia





