Amnion merupakan lapisan tipis yang menyelimuti janin selama kehamilan. Selama ini, amnion banyak dimanfaatkan dalam dunia medis karena sifat biologisnya yang sangat baik. Jaringan ini kaya akan kolagen, faktor pertumbuhan, serta memiliki kemampuan antiinflamasi, antibakteri, antifibrotik, dan imunomodulator. Karena sifat-sifat tersebut, amnion telah berfungsi sebagai balutan biologis untuk luka bakar, perawatan ulkus kronis, operasi tendon, hingga pencegahan perlengketan jaringan.
Selama ini, amnion manusia lebih banyak digunakan. Tetapi ketersediaannya terbatas karena harus melalui proses donor, pemeriksaan penyakit infeksi, dan persetujuan etis. Kondisi ini mendorong penelitian untuk mencari alternatif dari hewan. Terutama amnion sapi yang memiliki ukuran lebih besar, perolehannya mudah, dan tidak menimbulkan kontroversi etis. Penelitian ini secara khusus membandingkan karakteristik freeze-dried amnion membrane (FD-AM) dari manusia dan sapi untuk menilai keamanannya sebelum digunakan sebagai bahan medis.
Pemeriksaan struktur morfologi menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM) menunjukkan bahwa kedua jenis amnion memiliki permukaan yang halus, rata, dan terdehidrasi dengan baik. Pada halaman 4“5 artikel terlihat bahwa amnion manusia menunjukkan lekukan-lekukan kecil tanpa adanya rongga. Sementara amnion sapi menampilkan gumpalan sel kecil yang tersebar di permukaan tetapi tetap memiliki struktur yang rata dan kering. Hasil ini menunjukkan bahwa proses pengeringan beku (freeze-drying) berhasil menghasilkan membran yang stabil dan layak digunakan. Selain itu, tidak adanya rongga maupun kerusakan struktur menandakan bahwa kedua jenis amnion dapat memberikan permukaan yang baik untuk adhesi dan proliferasi sel.
Uji sitotoksisitas MTT memperlihatkan bahwa kedua jenis amnion aman karena tingkat viabilitas sel melebihi standar minimal 70 persen. Namun, viabilitas sel pada amnion manusia jauh lebih tinggi. Yaitu sekitar 115 persen, daripada amnion sapi yang hanya mencapai 72 persen. Perbedaan ini signifikan secara statistik, yang berarti meskipun amnion sapi tidak bersifat toksik, respons sel terhadap amnion manusia lebih baik. Meski demikian, amnion sapi tetap memenuhi syarat biokompatibilitas dasar.
Pada pemeriksaan kadar air, yang tercantum pada halaman 6, kedua jenis amnion memiliki kadar air di bawah 10 persen. Sesuai dengan standar internasional untuk penyimpanan jangka panjang dan keamanan proses sterilisasi. Amnion sapi memiliki kadar air 7,19 persen. Kadar sedikit lebih tinggi daripada amnion manusia yaitu 6,79 persen, namun perbedaan ini tidak signifikan. Kadar air rendah penting untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur serta memastikan amnion tetap stabil setelah proses iradiasi gamma.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa baik amnion manusia maupun amnion sapi memiliki morfologi yang baik, kadar air sesuai standar, dan tidak menunjukkan sifat toksik terhadap sel. Perbedaan yang ada hanya pada tingkat viabilitas sel, di mana amnion manusia menunjukkan hasil lebih baik. Walaupun demikian, amnion sapi tetap berpotensi sebagai alternatif yang aman, terutama jika ketersediaan amnion manusia terbatas. Penelitian lanjutan pada hewan dan uji klinis manusia diperlukan untuk memastikan apakah perbedaan sitotoksisitas tersebut berpengaruh pada efektivitas penyembuhan di kondisi nyata.
Penulis: Heri Suroto, Ilham Pratamanugroho, Tabita Prajasari, Helen Susilowati, Gilson Khang
Informasi detail artikel:





