Preeklampsia adalah salah satu komplikasi kehamilan paling berbahaya, yang ditandai oleh tekanan darah tinggi setelah usia kehamilan 20 minggu dan dapat berkembang menjadi kondisi mengancam nyawa bagi ibu maupun janin. Meski penyakit ini telah dikenal selama puluhan tahun, mekanisme pasti penyebabnya masih terus diteliti. Salah satu teori yang semakin mendapat perhatian adalah adanya gangguan pada sistem imun ibu, khususnya interaksi antara sel-sel imun di rahim dan sel trofoblas yang membentuk plasenta.
Sebuah studi terbaru mengungkap bukti baru mengenai peran penting dua komponen imunologis, yaitu decidual Natural Killer (dNK) cells dan molekul imun B7-H3, dalam terjadinya preeklampsia. Studi ini memberikan wawasan mendalam tentang ketidakseimbangan respon imun dapat mencetuskan gangguan fungsi plasenta.
Imunitas Ibu: Antara Proteksi dan Toleransi
Pada awal kehamilan, sistem imun melindungi tubuh ibu diri dari infeksi sekaligus toleransi dengan hasil kehamilan. Salah satu sel imun yang berperan dominan di awal kehamilan ini adalah dNK cells, yang bukan bertugas menyerang, melainkan membantu keberhasilan implantasi dan pembentukan plasenta. dNK cells melepaskan berbagai faktor yang mendukung invasi trofoblas dan pelebaran pembuluh darah rahim.
Sel trofoblas sendiri menghasilkan molekul imunomodulator, salah satunya B7-H3, yang berfungsi menjaga keseimbangan respons imun agar tidak menimbulkan penolakan terhadap janin. Ketika hubungan kedua komponen ini terganggu, proses pembentukan plasenta dapat tersendat, yang kemudian memicu preeklampsia.
Penelitian ini menganalisis 42 sampel plasenta yang terbagi kedua kelompok (preeklampsia dan 21 normal). Pemeriksaan imunohistokimia (IHC) dilakukan untuk menilai ekspresi CD56 sebagai penanda jumlah dNK cells dan CD276 (B7-H3) sebagai penanda molekul imun yang dihasilkan trofoblas. Ekspresi dinilai menggunakan sistem Immunoreactive Score (IRS) yang menggabungkan intensitas pewarnaan dan persentase sel yang memuat penanda tersebut.
Didapati ketidakseimbangan imun yang mencolok, yaitu jumlah ekspresi dNK cells meningkat pada preeklampsia. Plasenta ibu dengan preeklampsia menunjukkan jumlah dNK cells yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan kelompok normal. Peningkatan ini diduga sebagai reaksi terhadap stres plasenta, inflamasi, atau sinyal kerusakan jaringan. Sebaliknya, berbanding terbalik dengan kenaikan dNK cells, ekspresi B7-H3 pada sel trofoblas lebih rendah secara bermakna pada kelompok preeklampsia. Rendahnya B7-H3 mengindikasikan hilangnya sinyal tolerogenik yang penting untuk menjaga hubungan harmonis antara sel trofoblas dan sistem imun ibu.
Dalam masing-masing kelompok ditemukan korelasi positif antara ekspresi B7-H3 dan jumlah dNK cells. Hal ini menunjukkan bahwa ketika B7-H3 lebih banyak diekspresikan, dNK cells juga cenderung hadir lebih banyak. Secara keseluruhan kelompok preeklampsia tetap menunjukkan pola umum: B7-H3 rendah dan dNK cells tinggi. Ketidakseimbangan inilah yang dinilai berkontribusi pada gangguan toleransi imun dan pembentukan plasenta yang suboptimal.
Studi ini memperkuat teori bahwa preeklampsia bukan sekadar penyakit tekanan darah, melainkan kondisi yang berakar pada gangguan hubungan imunologis antara ibu dan janin. Temuan tentang penurunan B7-H3 dan peningkatan dNK cells mengarahkan pada beberapa implikasi penting.
1. B7-H3 berpotensi menjadi biomarker baru
Jika ditemukan sejak awal kehamilan, rendahnya ekspresi B7-H3 mungkin dapat digunakan untuk memprediksi risiko preeklampsia, melengkapi skrining yang sudah ada seperti tekanan darah, riwayat medis, dan sFlt/PiGF ratio.
2. Peluang pengembangan terapi imunologis
Modulasi B7-H3 atau pengaturan aktivitas dNK cells dapat menjadi pendekatan baru dalam mencegah preeklampsia, meski hal ini masih memerlukan penelitian mendalam.
3. Memperluas pemahaman mengenai patogenesis preeklampsia
Temuan ini mendukung model bahwa preeklampsia terjadi akibat kombinasi antara:
- kegagalan toleransi imun,
- gangguan invasi trofoblas,
- stres oksidatif dan inflamasi, serta
- pelepasan faktor antiangiogenik ke sirkulasi ibu.
Penelitian ini mengungkap bukti kuat bahwa ketidakseimbangan imun di permukaan maternal揻etal interface memainkan peran penting dalam terjadinya preeklampsia. Penurunan ekspresi B7-H3 dan peningkatan jumlah dNK cells menunjukkan gangguan toleransi imun yang dapat menghambat perkembangan plasenta secara optimal. Dengan semakin berkembangnya teknologi dan riset imunologi kehamilan, molekul seperti B7-H3 berpotensi menjadi kunci untuk deteksi dini dan strategi pencegahan preeklampsia di masa depan.
Khanisyah Erza Gumilar
+6281287940663





