51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Analgesik Tunggal Lebih Baik dibanding Analgesik Double atau bahkan Triple Pasca Operasi Penggantian Sendi Lutut Total

Penggantian sendi lutut total (TKR) adalah salah satu prosedur paling umum yang dilakukan di bidang ortopedi. Dari tahun 2005 hingga 2030, jumlah operasi TKR di Amerika Serikat diperkirakan meningkat drastis sebanyak enam kali lipat, dengan sekitar 3,5 juta operasi setiap tahunnya. Pada sebagian besar kasus, TKR dilakukan secara eksklusif pada populasi lansia. Selain itu, nyeri TKR pascaoperasi cenderung lebih parah dibandingkan pada pasien yang lebih muda.

Mengingat tingginya jumlah prosedur TKR yang dilakukan pada pasien geriatri dan semakin besarnya intensitas nyeri yang dirasakan pada populasi ini, pengetahuan yang tepat dalam menangani populasi ini sangatlah penting. Dalam pembedahan TKR, analgesia yang tidak memadai menghambat mobilisasi dini dan rehabilitasi serta fungsi berjalan, sehingga meningkatkan risiko terjadinya tromboemboli akibat tirah baring yang berkepanjangan, menghambat proses rehabilitasi, meningkatkan biaya rawat inap, dan menurunkan kualitas hidup pasien secara keseluruhan.

Menurut “THREE-STEP Analgesic Ladder” oleh WHO, strategi manajemen nyeri secara umum dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama menggunakan obat analgesik non-opiat seperti NSAID atau inhibitor spesifik COX2 dengan atau tanpa bahan pembantu; tahap kedua menggunakan opiat lemah dengan atau tanpa analgesik non-opiat dan dengan atau tanpa bahan pembantu, dan tahap ketiga menggunakan opiat kuat dengan atau tanpa non-opiat dan dengan atau tanpa bahan pembantu.

Bagi sebagian orang, pemberian beberapa analgesik mungkin diperlukan karena dampak signifikan dari manajemen nyeri yang tidak memadai. Dalam sebagian besar praktik, dokter akan cenderung meresepkan analgesik dalam jumlah berlebihan berdasarkan logika “lebih banyak lebih baik daripada lebih sedikit”, terutama dalam kasus TKR pasca operasi ketika pasien menjalani proses adaptasi terhadap implan baru dan saat luka operasi masih ada. segar. Penilaian lain mungkin mencakup riwayat pasien, yang dalam beberapa kasus, pasien yang pernah mengalami sensitisasi nyeri akan cenderung meminta dosis yang lebih kuat atau bahkan membeli obat pereda nyeri. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa beberapa kombinasi analgesik menyebabkan efek samping yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan satu kombinasi analgesik. analgesik tunggal. Manajemen nyeri yang tepat memerlukan resep analgesik yang akurat.

Pemeriksaan telah dilakukan kepada152 pasien yang menjalani TKR untuk blok tulang belakang subarachnoid, didiagnosis menderita OA derajat IV, dan diobati dengan TKR tunggal/unilateral.

Dalam penelitian ini, lama rawat inap dan waktu menahan beban sebagian digunakan sebagai indikator kesembuhan pasien. Semakin pendek lama rawat inap dan waktu menahan sebagian beban, semakin baik kesembuhan pasien. Dampak penggunaan analgesik pasca operasi mungkin akan lebih terlihat jika observasi dilakukan dalam waktu yang lebih lama. Faktor lain yang berkontribusi yang mungkin diabaikan dalam penelitian ini termasuk ketersediaan dukungan sosial, tipe kepribadian, keterampilan mengatasi, atau nyeri pra operasi.

Jumlah modalitas analgesik pasca operasi juga dibandingkan berdasarkan VAS pada hari ke 1, 3, dan 5. Mengingat efeknya yang sebanding, analgesia tunggal mungkin lebih tepat dalam menangani nyeri pasca TKR kecuali jika indikasi penggunaan beberapa analgesik jelas, dan pemberian analgesia yang lebih tinggi dari yang diperlukan mungkin tidak diperlukan sebagai analgesia awal. Sebagai catatan, penelitian lain menemukan bahwa pemberian analgesik pasca operasi dalam jumlah besar (tiga kali lipat) secara signifikan meningkatkan risiko efek samping yang diteliti, seperti mual. Kesimpulannya, efektivitas monofarmasi dan polifarmasi serupa dalam hal kecepatan pemulihan, waktu penggunaan VAS penahan beban parsial, dan efek samping pada pasien pasca TKR.

Penulis: Cery Tarise Hajali, Komang Agung Irianto, Kukuh Dwiputra Hernugrahanto

Judul artikel jurnal: More is better than less analgesic after total knee replacement in geriatric patient. Is it a myth?

Dipublikasikan di: Bali Medical Journal

Link: https://balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/4251

AKSES CEPAT