Pandemi global yang saat ini mengancam kehidupan manusia dan menyebabkan kesulitan sosial dan ekonomi baik di negara maju maupun berkembang dikaitkan dengan virus corona jenis baru. Virus corona menyebabkan manifestasi klinis yang beragam seperti pneumonia, suhu tubuh tinggi dan gangguan pernapasan termasuk kesulitan bernapas dan infeksi paru-paru. Belakangan, WHO secara resmi menamakannya severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARSCoV-2) yang merupakan agen penyebab Covid-19.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan tingkat depresi meningkat setelah seseorang terjangkit virus tertentu, seperti saat terjadi wabah antraks dan herpes. Lockdown yang disebabkan oleh wabah penyakit coronavirus sangat merepotkan warga global dalam berbagai hal seperti krisis kesehatan mental, ketakutan akibat tenggat waktu virus baru, ketidakstabilan finansial, karantina, informasi yang simpangsiur atau bahkan hoaks yang kerap muncul di media sosial.
Semua faktor ini berkontribusi pada perkembangan depresi, kecemasan, dan krisis kesehatan mental lainnya yang bermanifestasi pada seseorang khususnya pada orang yang tinggal jauh dari keluarga mereka seperti siswa yang sedang menempuh studi di luar negeri. Ketika warga dunia dihadapkan pada kenyataan akan pandemi ini, stabilitas kesehatan mental dianggap sebagai salah satu fitur paling penting dari kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Dari sudut pandang tersebut, depresi adalah gangguan jiwa yang sangat umum terjadi yang tidak terbatas pada waktu, tempat, dan individu tetapi juga melibatkan semua ras dan etnis dari berbagai wilayah demografis yang berbeda. Demi mendukung regulasi pemerintah, banyak perguruan tinggi (PT) yang akhirnya berupaya memanfaatkan teknologi untuk mendukung pembelajaran jarak jauh di masa pandemi COVID-19.
Tindakan karantina yang serius di berbagai kota besar di Indonesia juga memperburuk kondisi mahasiswa dengan menambah tekanan mental mereka. Pun dengan mahasiswa Pakistan yang tinggal di Indonesia, mereka merasa sangat ketakutan. Selain itu, peralatan pelindung medis yang dilaporkan tidak mencukupi, staf medis yang sedikit dan tidak berpengalaman karena SARSCOV-2 adalah virus baru, kekurangan fasilitas rumah sakit dan tingkat kematian yang terus meningkat di Pakistan menyebabkan keprihatinan besar bagi mahasiswa yang sedang menempuh studi di Indonesia. Selain karena covid-19, siswa Pakistan di Indonesia juga mengalami ketegangan psikologis akibat dari kelas online yang sedang berlangsung yang notabene memberikan beban kerja akademik yang lebih besar, ketidakstabilan finansial karena penundaan tunjangan hidup mereka dari universitas juga membuat mereka risau. Dari alasan-alasan di atas, sejumlah besar mahasiswa dihadapkan pada berbagai tekanan, baik lingkungan maupun akademik, yang dapat mendorong mereka mengalami berbagai krisis kesehatan mental seperti depresi dan lain sebagainya.
Untuk memberikan kontribusi dalam bidang ini, sebuah penelitian dilakukan oleh Shoukat dkk., (2021) dari 51动漫, penelitian yang telah diterbitkan dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat (Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang) ini bertujuan untuk untuk mengevaluasi tingkat homesick, kecemasan dan depresi di kalangan mahasiswa Pakistan yang sedang menempuh studi di Indonesia selama pandemi Covid-19.
Penelitian ini dilakukan pada 86 mahasiswa acak yang sedang menempuh studi mereka di berbagai universitas negeri maupun swasta di Indonesia. Data dikumpulkan pada tahun 2021 dengan mendistribusikan google form melalui email dan grup media sosial, kemudian tanggapan dari responden dicatat, dan uji korelasi Pearson digunakan untuk menganalisis data secara statistik.
Pada penelitian ini, didapatkan fakta bahwa terdapat korelasi antara pandemi Covid-19 dengan perkembangan krisis kesehatan mental, dimana 33 siswa (38,37%) mengalami homesick, 11 siswa (12,79%) mengalami kecemasan, dan 2 siswa (2,33%) mengalami depresi tingkat rendah. Homesick paling banyak diamati pada wanita (72,72%) sedangkan kecemasan dilaporkan sangat tinggi pada responden pria (90,90%).
Pada akhirnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa ketakutan tertular virus corona, regulasi lockdown, ketidakstabilan finansial, meningkatnya korban meninggal akibat covid-19, keterbatasan fasilitas medis dan maraknya hoaks di media sosial adalah beberapa faktor signifikan yang memengaruhi krisis kesehatan mental para mahasiswa Pakistan di Indonesia selama pandemi Covid-19. Pada prinsipnya, krisis kesehatan mental dapat ditangani salah satunya dengan menjaga pikiran tetap positif. Dari sudut pandang itu, maka dianjurkan bagi para mahasiswa Pakistan di Indonesia untuk tetap berkomunikasi secara intens dengan keluarganya, rajin berolahraga, dan terus menjaga protocol kesehatan untuk menghindari konsekuensi yang tidak diinginkan dari pandemi ini.
Penulis: Dr. Theresia Indah Budhy Sulisetyawati, drg., M.Kes.
Link Jurnal:





