Wacana tentang kesetaraan gender di masyarakat makin berkembang. Namun hasil temuan studi-studi terdahulu menunjukkan bahwa praktik bias gender dalam tatanan masyarakat masih banyak ditemukan, terutama dalam konteks pekerjaan domestik keluarga. Pemberian peran gender secara tradisional pada laki-laki dan perempuan pada tatanan keluarga masih mengalami pergeseran yang sangat lambat untuk mencapai ideal yang lebih egaliter. Penentuan pembagian pekerjaan rumah serta pemberian rasionalisasi atas pembagian kerja merupakan tindakan yang dapat melanggengkan dan memperkuat ketimpangan gender di masyarakat. Salah satu penyebab dari lambannya perubahan pembagian kerja yang ada dan terhambatnya proses negosiasi pembagian kerja merupakan konsekuensi dari sikap pasangan mereka yang tidak peduli terhadap pekerjaan rumah serta enggan untuk melakukannya. Walaupun muncul keinginan untuk membagi pekerjaan rumah dengan lebih setara, keinginan ini tidak terwujud dalam proses kontestasi yang berarti. Pada akhirnya, sikap pasangan juga memainkan peran dalam berhasil tidaknya proses negosiasi yang berlangsung.
Selain enggan untuk melakukan pekerjaan rumah, beberapa laki-laki juga membatasi ruang perempuan untuk berkembang dengan melarang perempuan untuk berpartisipasi secara aktif dalam pekerjaan formal. Secara tidak langsung, sikap tersebut membatasi perempuan untuk melakukan sebagian besar aktivitasnya di dalam rumah saja. Ironisnya, keputusan untuk mempertahankan pembagian kerja yang ada, tidak hanya dilakukan oleh laki-laki saja, namun juga dilakukan oleh perempuan. Beberapa perempuan percaya bahwa melakukan semua pekerjaan rumah pada dasarnya adalah tanggung jawabnya sebagai seorang ibu rumah tangga yang ideal. Perempuan juga menganggap bahwa pekerjaan rumah adalah tanggung jawab utamanya semata dan merasa resisten jika pasangannya melakukan pekerjaan rumah yang ada.
Pengetahuan dan pemahaman tentang apa yang alamiah dari laki-laki dan perempuan merupakan konsekuensi dari perbedaan ekspektasi dan perlakuan gender sejak individu lahir. Perempuan dihadapkan pada ekspektasi yang lebih besar untuk mampu melakukan aktivitas membersihkan dan merapikan daripada laki-laki. Secara rutin, anak perempuan lebih banyak dilibatkan dalam aktivitas pekerjaan rumah seperti bersih-bersih dan memasak. Sebagaimana konsep West dan Zimmerman yang memandang gender sebagai 渉asil dari pencapaian yang berulang, dalam kehidupan sehari-hari perempuan dihadapkan pada 減elatihan terus menerus untuk 渕enjadi seorang perempuan menurut standar masyarakat.
Hasil studi ini menunjukkan terdapat pemetaan peran yang spesifik berdasarkan gender pada tatanan keluarga. Terdapat pengetahuan dan pemahaman yang berbeda tentang hal-hal yang dianggap alamiah. Perempuan dan laki-laki disosialisasi untuk melakukan tugas yang berbeda dan diberikan tanggung jawab untuk memenuhi peran yang berbeda pula. Pasangan muda percaya bahwa melakukan pekerjaan rumah dan merawat anak adalah hal yang alamiah untuk perempuan namun tidak untuk laki-laki. Sebaliknya, bekerja mencari nafkah dianggap sebagai tugas yang alamiah bagi laki-laki namun tidak untuk perempuan.
Dalam melakukan aktivitas pekerjaan rumah, perempuan menyetujui dan menganggap sebagai 渢ugas perempuan. Individu melakukan tindakan untuk menciptakan gambaran 減erempuan yang ideal. Ketimpangan dalam pembagian pekerjaan rumah tangga pasangan muda dirasionalisasi dan dinormalisasi melalui norma. Perempuan harus bertanggung jawab atas pekerjaan rumah, sedangkan laki-laki tidak. Keluarga dengan pembagian pekerjaan rumah yang tidak seimbang merasionalisasi ketimpangan gender dalam rumah tangganya. Berbagai macam dalih diberikan untuk menyamarkan pembagian pekerjaan rumah yang tidak setara antara suami dan istri, di mana istri diberikan tanggung jawab pekerjaan rumah dan perawatan anak lebih banyak daripada suami.
Studi ini menunjukkan bahwa persetujuan perempuan dengan pembagian pekerjaan yang seksis ini berkaitan dengan wacana, pengetahuan dan pemahaman tentang apa yang kodrat dan alamiah bagi laki-laki dan perempuan. Dalam keluarga, ideologi gender disosialisasikan, dikembangkan dan dilanggengkan melalui nilai dan norma yang ditanamkan kepada individu. Tindakan-tindakan yang gender biased dalam keluarga berkaitan dengan norma yang telah tertanam dalam diri mereka. Oleh karena itu, perlu tindakan bersama untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam keluarga.
Penulis: Siti Mas檜dah
Link Jurnal:





