51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Analisis Angka Kejadian dan Sumber Pembiayaan Operasi Caesar Menggunakan Sistem Klasifikasi Robson

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan standar operasi caesar di banyak negara sekitar 10-15% per kelahiran. Berdasarkan data penelitian WHO pada tahun 2021, operasi caesar terus meningkat secara global, saat ini mencakup lebih dari 1 dari 5 (21%) dari seluruh persalinan. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan prevalensi operasi caesar di Indonesia sebesar 17,6%. Meskipun operasi caesar bisa menjadi operasi yang menyelamatkan nyawa, operasi caesar juga dapat meningkatkan risiko bagi ibu, yang dapat berdampak buruk pada kesehatan ibu baik jangka pendek maupun jangka panjang dan berdampak negatif terhadap morbiditas dan mortalitas neonatal. Operasi caesar membutuhkan perawatan yang lebih lama dibandingkan dengan persalinan pervaginam, kondisi ini membawa konsekuensi biaya pelayanan kesehatan yang lebih tinggi dan sebagian besar status pembiayaannya berasal dari BPJS, sehingga perlu dilakukan pengawasan dan audit untuk menurunkan angka kejadian operasi caesar.

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti dari 51¶¯Âþ melakukan penelitian untuk menganalisis kejadian sectio caesarea dan status pembiayaan berdasarkan klasifikasi Robson. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Muhammadiyah Babat pada 127 subjek pada tahun 2021. Adapun data penelitian adalah data sekunder dari rekam medis pasien yang dikumpulkan dalam lembar koleksi. Data dianalisis menggunakan software SPSS.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 87 (68,5%) subjek melahirkan secara section caesarea dan sebanyak 101 (79,5%) subjek berstatus pembiayaan BPJS. Berdasarkan hasil klasifikasi Robson 3 kelompok utama penyumbang operasi caesar di RS Muhammadiyah Babat adalah kelompok 5(37,93%), kelompok 4 (19.54%), dan kelompok 2 (17,24%). Kelompok 5 yaitu wanita multipara (melahirkan lebih dari satu kali), memiliki riwayat operasi caesar, janin tunggal, presentasi kepala, usia kehamilan 37 minggu sedangkan, kelompok 4 yaitu wanita multipara, tanpa riwayat operasi caesar, janin tunggal, presentasi kepala, usia kehamilan 37 minggu yang mendapat induksi persalinan atau operasi caesar elektif. Adapun karakteristik dari kelompok 2 adalah wanita nullipara, tanpa riwayat operasi caesar, janin tunggal, presentasi kepala, usia kehamilan 37 minggu dengan induksi persalinan atau operasi caesar.

Dari total 87 pasien yang melakukan operasi caesar, 64 orang diantaranya memakai pembiayaan BPJS dan sebanyak 24 orang (24/64) berasal dari kelompok 5. Untuk kelompok 2 dan 4 yang melakukan persalinan caesar dengan pembiayaan BPJS masing “ masing sebanyak 14 dan 13 pasien. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara status pembiayaan BPJS dengan angka kejadian persalinan caesar. Status pembiayaan BPJS merupakan faktor protektif terhadap kejadian operasi caesar di Muhammadiyah Babat Hospital dibuktikan dengan tingginya jumlah operasi caesar pada pasien dengan status pembiayaan BPJS (64/110).

Hasil studi menunjukkan bahwa presentase pasien yang melakukan operasi caesar paling banyak berasal dari kelompok 5 yaitu kelompok wanita dengan riwayat operasi caesar. Riwayat operasi caesar sebelumnya dan adanya kebijakan operasi caesar elektif pada semua ibu tanpa tanpa mencoba melahirkan pervaginam menjadi alasan untuk melakukan operasi berulang. Padahal, tingginya frekuensi operasi caesar dapat mempengaruhi kesehatan ibu, janin, dan kehamilan berikutnya. Sedangkan pada kelompok 4, alasan dilakukan operasi caesar adalah karena rendahnya tingkat keberhasilan induksi dan adanya indikasi ketuban pecah dini, gawat janin, dan disproporsi sefalopelvik (CPD) sehingga dilakukan operasi caesar elektif. Tingginya operasi caesar pada kelompok 2 juga disebabkan oleh rendahnya keberhasilan induksi serta adanya indikasi gawat janin, CPD, dan permintaan ibu karena merasa takut untuk melahirkan normal.

Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pasien berstatus pembiayaan BPJS yang melahirkan melalui operasi caesar sebagian besar berada pada kelompok 1-5. Sedangkan, kelompok 1-4 pada klasifikasi Robson merupakan kategori ibu dengan risiko rendah, sehingga pilihan operasi caesar pada kelompok ini sangat mungkin untuk ditekan kecuali terdapat kondisi yang darurat.

Penulis: Fitasari Nidia Nurhayati, Budi Prasetyo, Muhammad Miftahussurur

Artikel lengkap dapat diakses di:

AKSES CEPAT