Hipertensi merupakan kondisi medis yang serius karena secara signifikan meningkatkan risiko penyakit jantung, penyakit serebrovaskular, penyakit ginjal, dan penyakit lainnya. Hipertensi didefinisikan sebagai suatu kondisi ketika tekanan sistolik terukur ≥140 mmHg atau tekanan diastolik terukur ≥90 mmHg. Secara global, prevalensi hipertensi diperkirakan mencapai 1,28 miliar atau 22% penduduk dunia yang berusia di atas 30 tahun, menjadikannya salah satu penyebab utama kematian dini di seluruh dunia.
Di Indonesia, prevalensi hipertensi mencapai 63.309.620 jiwa atau 34,1% pada usia lebih dari 18 tahun, dengan angka kematian akibat hipertensi sebanyak 427.218 kematian.2 Menurut studi pendahuluan yang dilakukan di Kalirejo, Lawang, angka kejadian hipertensi adalah 55%. Angka kejadian ini berada di atas prevalensi hipertensi nasional.2 Hipertensi dikaitkan dengan beban kardiovaskular global yang signifikan dan kematian dini.3 Upaya untuk mencegah kesakitan dan kematian merupakan prioritas utama global. Pencegahan morbiditas dan mortalitas akan lebih baik jika dilakukan sejak dini, yang dapat dilakukan melalui modifikasi faktor risiko.
Faktor risiko hipertensi dibedakan menjadi faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi meliputi riwayat hipertensi dalam keluarga, usia >65 tahun, dan adanya penyakit penyerta lainnya, termasuk diabetes dan penyakit ginjal. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi meliputi pola makan, aktivitas fisik, konsumsi alkohol dan rokok, stres psikososial, dan obesitas.Obesitas merupakan faktor risiko hipertensi yang cukup konsisten di semua kelompok umur dan etnis. Hasil Riskesdas pada tiga rangkaian terakhir pada tahun 2007, 2013, dan 2018 menunjukkan adanya peningkatan prevalensi obesitas masing-masing sebesar 10,5%, 14,8%, dan 21,8% dan hal ini perlu disikapi secara tepat.
Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional dilaksanakan pada tanggal 18 -25 Februari 2023. Populasinya adalah warga Kalirejo Lawang yang berusia ≥45 tahun, sedangkan sampelnya adalah masyarakat yang bersedia berpartisipasi setelah diberikan penjelasan tentang tujuan penelitian dan menandatangani informed consent. Pengambilan sampel berturut-turut digunakan untuk melakukan pengambilan sampel. Jumlah sampel minimum adalah 96, ditentukan dengan menggunakan rumus Snedecor dan Cochran.
Subyek penelitian ini sebagian besar adalah lansia, serupa dengan temuan penelitian sebelumnya. Jenis kelamin yang lebih dominan dalam penelitian ini adalah perempuan, hal ini sejalan dengan laporan profil kesehatan wilayah Kalirejo tahun 2020. Sejalan dengan penelitian sebelumnya, pasien hipertensi berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Sebagian besar subjek dalam penelitian ini tidak memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga. Responden hipertensi yang tidak merokok lebih banyak dibandingkan responden yang merokok. Demikian pula, penelitian ini menemukan hal yang sama. hasil. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar responden penderita hipertensi mengonsumsi ≤ 1 sdt (≤ 2400 gram) garam setiap hari, dan mengonsumsi kafein, hal ini sesuai dengan temuan sebelumnya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kategori BMI responden yang paling umum adalah normal. Sedangkan pada responden penderita hipertensi, kategori BMI yang paling banyak adalah obesitas. Penelitian sebelumnya mendukung hasil tersebut. Penelitian ini menemukan bahwa pasien hipertensi lebih banyak dibandingkan pasien tanpa hipertensi pada kelompok responden yang beraktivitas ringan. Hasil penelitian ini mengikuti penelitian sebelumnya. Sedangkan tingkat stres didominasi oleh tingkat stres rendah. Obesitas merupakan faktor risiko hipertensi yang dapat dimodifikasi.
Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara indeks massa tubuh dengan prevalensi hipertensi dengan p-value 0,017 (p-value = 0,05). Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya. Jaringan adiposa visceral memicu pelepasan asam lemak bebas sehingga mengakibatkan hiperinsulinemia dan peningkatan resistensi insulin. Resistensi insulin menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah sistemik sehingga mengakibatkan hipertensi. Peningkatan kadar insulin berkaitan dengan peningkatan SNA lumbal melalui aktivasi pola reseptor otak. Kondisi ini menyebabkan resistensi leptin sehingga menyebabkan hipertensi. Obesitas juga menyebabkan aktivasi RAAS dan saraf simpatis ginjal sehingga terjadi gangguan natriuresis yang berujung pada terjadinya hipertensi.
Terdapat hubungan yang signifikan antara indeks massa tubuh dengan kejadian hipertensi di Desa Kalirejo Kecamatan Lawang Kabupaten Malang. Namun tidak terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dan tingkat stres dengan kejadian hipertensi di Desa Kalirejo Kecamatan Lawang Kabupaten Malang. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian dalam waktu yang sama lebih lama sehingga responden dapat lebih terbuka dalam mengisi kuesioner. kuesioner untuk variabel stres. Warga di Kalirejo diharapkan menerapkan pola hidup sehat untuk mencegah indeks massa tubuh tinggi sehingga dapat menurunkan risiko penyakit hipertensi. Diharapkan kepada pihak Puskesmas untuk lebih memberikan edukasi atau informasi terkait penyakit hipertensi kepada warga Desa Kalirejo sehingga diharapkan warga dapat terhindar dari faktor risiko penyakit hipertensi.
Ditulis oleh: Nadya Meta Harlinda, Venansya Maulina Praba, Nisrina Nabila Raniasari, Ayurveda Zaynabila Heriqbaldi, Chelssi Gloria Tessari, Natasya Ariesta Selyardi Putri, Nofita Fachryandini, Made Bayu Angga Paramarta, Sudaryani Sudaryani, Dr. Budi Utomo, dr., M.Kes; Shifa Fauziyah, S.Si., M.Ked.Trop
Artikel ini dapat diunduh pada:





