51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Analisis Biaya Pengujian Kerentanan Antibiotik pada Pasien dengan Kegagalan Pengobatan Helicobacter Pylori Di Thailand

Ilustrasi Helicobacter Pylori (foto: std-gov.org)

Pemberantasan Helicobacter Pylori (H. pylori) merupakan salah satu cara yang dirasa cukup efektif untuk pencegahan kanker lambung. Kegagalan pengobatan disebabkan oleh peningkatan resistensi antibiotik. Clarithromycin sering dimasukkan dalam komposisi regimen lini pertama, akan tetapi, resistensi terhadap antibiotik ini memiliki dampak signifikan terhadap keberhasilan pemberantasan infeksi H. pylori. Oleh karena itu, uji kerentanan penting untuk menentukan pola resistensi antibiotik regional guna mengembangkan terapi yang paling efektif di daerah dengan tingkat resistensi antibiotik yang tinggi. 

Uji kerentanan antimikroba/ Antimicrobial susceptibility testing (AST) adalah uji in vitro untuk menentukan aktivitas antibiotik yang dapat secara efektif menghambat pertumbuhan bakteri. Saat ini, semakin banyak pasien mengalami kegagalan pengobatan H. pylori karena meningkatnya resistensi antibiotik. AST direkomendasikan setelah kegagalan pengobatan. Hingga saat ini, belum ada data yang cukup mengenai tingkat pemberantasan (eradication rate) infeksi setelah kegagalan pengobatan di Thailand. Sehingga, berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti dari Thammasat University, Thailand bekerjasama dengan peneliti dari Divisi Gastroentero-Hepatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, 51¶¯Âþ melakukan penelitian yang bertujuan untuk menentukan eradication rate yang dipandu kerentanan dan pengobatan empiris pada pasien dengan infeksi H. pylori refrakter di Thailand. Selain itu, studi ini juga melakukan analisis biaya antara terapi yang dipandu AST dan pengobatan empiris. Hasil penelitian tersebut berhasil dipublikasikan pada jurnal internasional terindeks Scopus Kuartil 1 (Q1) yaitu Heliyon. 

Penelitian kohort retrospektif tersebut melibatkan pasien dengan dispepsia yang menjalani gastroskopi di pusat perawatan tersier di Thailand dari Maret 2014 hingga Oktober 2021. Kegagalan pengobatan didefinisikan sebagai infeksi H. pylori yang persisten setelah ≥1 pemberian regimen selesai. AST dini didefinisikan sebagai AST yang dilakukan segera setelah kegagalan pengobatan lini pertama. Data demografi, hasil AST, rejimen pemberantasan, dan biaya pengobatan dikumpulkan dari basis data dan ditinjau. 

Hasil penelitian menunjukkan, dari 1080 pasien dengan infeksi H. pylori, 315 mengalami kegagalan pengobatan (usia rata-rata 58,4 tahun; 44,4% laki-laki). AST dari 85 strain menunjukkan resistensi terhadap levofloxacin (57,6%), metronidazole (51,8%), klaritromisin (44,7%), dan amoksisilin (4,7%). Dalam analisis multivariat, terapi berurutan secara signifikan dikaitkan dengan kegagalan pengobatan (OR 1,66; 95%CI 1,01“2,74, p = 0,045), sedangkan terapi yang mengandung vonoprazan dikaitkan dengan keberhasilan pengobatan (OR 1,60; 95%CI 1,04“2,48, p = 0,034). Pasien yang tidak patuh atau memiliki tingkat kepatuhan yang rendah terhadap proses pengobatan memiliki risiko 37,97 kali lebih besar untuk mengalami kegagalan pengobatan. Terapi yang dipandu oleh hasil tes kerentanan antibiotik memberikan tingkat pemberantasan yang lebih baik daripada terapi empiris yaitu sebesar (97,5% vs. 65,5%,) pada kelompok kegagalan pengobatan. Dua puluh empat pasien memiliki AST dini, sementara 61 memiliki AST setelah kegagalan pengobatan. Sebagian besar pasien dengan AST dini mencapai keberhasilan pengobatan dengan pemberantasan lini kedua. AST dini memberikan total biaya pengobatan rata-rata yang jauh lebih rendah daripada kelompok tanpa AST ($368,2 vs. $402,0 per pasien, p = 0,034) dan AST setelah kegagalan pengobatan ($368,2 vs. $752,8 per pasien, p < 0,001). 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, terapi yang dipandu oleh tes kerentanan antibiotik memberikan tingkat pemberantasan yang jauh lebih tinggi daripada terapi empiris pada pasien dengan kegagalan pengobatan. AST dini mungkin merupakan strategi yang hemat biaya untuk pemberantasan H. pylori setelah terapi yang gagal dan dapat mencegah penggunaan antibiotik yang tidak perlu di Thailand.

Artikel lengkap dapat diakses pada:

Penulis: Prof. M. Miftahussurur, dr., M. Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D

AKSES CEPAT