Tekanan Suhu pada Kerlangsungan Hidup Embrio
Suhu inkubasi merupakan faktor penting dalam perkembangan embrio broiler. Jika suhu terlalu rendah ataupun tinggi maka akan mempengaruhi kecepatan tumbuh embrio didalam telur, sehingga daya tetas telur juga akan dipengaruhi secara langsung oleh tekanan suhu. Suhu inkubasi yang terlalu tinggi dapat menyebabkan tekanan berat pada embrio broiler disebut sebagai hipertermia. Suhu optimal untuk perkembangan embrio broiler sekitar 37-38oC. Efek hipertermia bisa mempengaruhi hati dan jantung embrio, dimana dapat menentukan kelangsungan hidup embrio. Efek hipertermia yang bias yang diamati pada jantung adalah detak jantung ayam embrio. Hipertermia dapat mempercepat jantung laju embrio ayam per menit.
Suhu inkubasi 42-440C bersifat mematikan atau embriotoksik untuk perkembangan embrio ayam. Inkubasi ayam pada suhu tersebut dapat menyebabkan cacat, bahkan kematian embrio. Oleh karena itu, dapat diasumsikan karena masa inkubasi Hal ini menyebabkan detak jantung embrio menjadi lebih rendah dari detak jantung embrio normal. Disis lain, pada suhu yang terlalu rendah, enzim korion tidak berfungsi dan membuat embrio tua melarutkan cangkang telur, sehingga terjadilah proses penetasan yang lama. Faktor eksternal yang mempengaruhi telur inkubasi adalah suhu air. Suhu merupakan faktor penting dalam mempengaruhi proses perkembangan embrio dan daya tetas telur.
Pengaruh Suhu terhadap Masa Inkubasi Embrio
Suhu mempengaruhi perkembangan embrio termasuk berat embrio, khususnya pada ayam broiler. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Morgan dan Tucker, tekanan suhu berpengaruh pada persentase penetasan, waktu penetasan, bobot, dan angka kematian embrio broiler. Selain itu, suhu rendah akan memperpanjang masa inkubasi embrio ayam. Penurunan pertumbuhan embrio dengan inkubasi yang lebih rendah suhu tampaknya berhubungan dengan status tiroid karena lebih rendah suhu menghasilkan penurunan kadar triiodothyronine plasma. Tekanan suhu yang panas akan menimbulkan ekspresi heat shock protein atau Hsp dengan berat molekul 70 kDa yang dikenal dengan Hsp70.
Penulis: Dr. Maslichah Mafruchati M.Si.,drh
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





