51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Fibroblas Sel Embrio Ayam Jawa Super sebagai Indikator untuk Menguji Toksisitas

Kultur Sel Fibroblas pada Ayam Kampung Jawa Super

Masyarakat Indonesia cenderung lebih menyukai ayam kampung dibandingkan ayam ras karena dagingnya yang kenyal, memiliki kandungan protein yang tinggi, dan kandungan lemak yang rendah. Berdasarkan hasil survei rata-rata konsumsi per kapita per minggu ada beberapa hal penting bahan pangan periode 2007“2014 dari Badan Pusat Statistik (BPS), kebutuhan konsumsi produk unggas khususnya daging ayam mengalami peningkatan terutama dalam tujuh tahun terakhir. Peternakan ayam kampung di Indonesia tidak mampu memenuhi permintaan pasar tersebut karena ukuran usahanya yang kecil, keadaan lingkungan yang terbatas, produksi yang rendah, ekspansi yang lambat, dan sifat yang dapat diidentifikasi (inkubasi dan pemeliharaan). Solusi yang sedang populer saat ini adalah pengembangan ayam Java Super yang merupakan hasil persilangan antara ayam jantan peliharaan dengan ayam petelur. Hasil persilangan ini diharapkan dapat menghilangkan ciri-ciri yang tidak diinginkan, meningkatkan produktivitas, dan mempercepat pertumbuhan ayam kampung Jawa super.

Fibroblas merupakan salah satu komponen sel jaringan ikat berbentuk poligonal atau stellata dengan proses atau proyeksi sitoplasma. Fibroblas nukleus berbentuk oval dengan satu atau dua nukleolus aktif untuk mensintesis matriks zat dasar glikosaminoglikan. Sitoplasma tampak basofilik. Pertumbuhan fibroblas dapat merangsang sel-sel yang berasal dari mesenkim. In vitro, kultur jaringan merupakan media yang sangat baik digunakan dalam penelitian biomedis. Untuk kultur sel fibroblas, yang paling ideal dan mudah dilakukan adalah embrio ayam berumur 11“12 hari. Fibroblas dalam media kultur akan berproliferasi dan mencapai konfluen setelah 24 jam.

Kultur sel biasanya dilakukan dalam bentuk suspensi sel yang diambil dari jaringan asli (baik secara enzimatis, mekanis, atau disosiasi kimia), kultur primer, atau garis sel dan dilakukan dalam kondisi laboratorium steril dengan lingkungan terkendali untuk suhu, gas, dan tekanan [8]. Hal ini harus menyesuaikan lingkungan in vivo sel agar sel dapat bertahan hidup dan berkembang biak secara terkendali. Tidak semua penelitian dapat dilakukan dengan cepat secara in vivo. Oleh karena itu, untuk penelitian yang tidak dapat dilakukan secara in vivo, dapat dilakukan secara in vitro dengan menggunakan sel. Kultur sel berperan penting dalam penelitian in vitro

Sel Embrio ayam Jawa Super sebagai Indikator Tes Toksisitas dan efek Mikororganisme

Sel ayam kampung Jawa super, khususnya kultur sel fibroblas, dapat digunakan sebagai uji Toksisitas dan efek mikororganisme. Kontrol negatif atau tanpa virus sel fibroblast ayam kampung Jawa super mempunyai daya proliferasi yang cepat. Saat sel tersebut setelah diinokulasi oleh virus, sel fibroblas ayam super jawa tampak lonjong dan teratur. Dari hasil penelitian in vitro diketahui bahwa gambaran CPE pada kultur sel fibroblas ayam kampung Jawa Super setelah diinokulasi virus, sel fibroblas konfluennya tampak lonjong dan teratur. Setelah itu, dalam hari kedua dan ketiga menunjukkan dimana syncytia (sel berinti besar) pada fibroblas embrio ayam super Jawa mulai terbentuk dalam skala kecil dan menjadi lebih jelas pasca infeksi. Terlebih lagi, efek sitopatik lainnya berupa pelepasan sel dan muncul maksimal pada hari ke-3. Replikasi virus pada kultur sel fibroblas ayam Super Jawa ditandai dengan berbagai kerusakan sel, termasuk kerusakan efek sitopatik (CPE) dan pembentukan syncytium. Sel yang terinfeksi menyatu dengan sel normal di sekitarnya ketika protein virus diekspresikan pada sel tersebut.

Penulis: Dr. Maslichah Mafruchati M.Si.,drh

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

AKSES CEPAT