Masalah kesehatan gigi dan mulut merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, dengan karies gigi sebagai kondisi yang paling umum. Pulp capping, sebuah pendekatan terapeutik yang banyak digunakan, Kalsium hidroksida sebagai material pulp capping dilaporkan memiliki kekurangan seperti menginduksi peradangan dan nekrosis pada permukaan pulpa pasca perawatan. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian telah diberikan pada tanaman obat yang memiliki manfaat terapeutik yang potensial. Indonesia, dengan salah satu cadangan tanaman obat terbesar di dunia, memiliki salah satu tanaman obat terbesar di dunia, kedua setelah Brasil. Graptophyllum pictum, yang juga dikenal sebagai tanaman karikatur atau daun ungu, telah banyak digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati luka, wasir, demam, nyeri, dan peradangan. Senyawa bioaktif dalam Graptophyllum pictum termasuk tanin, alkaloid, glikosida, steroid, dan saponin, dengan flavonoid sebagai senyawa utama yang memiliki sifat anti-inflamasi. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi efek sinergis dan potensi terapeutiknya. Pendekatan komputasi, seperti analisis in-silico, telah menjadi alat penting dalam penemuan obat tahap awal, yang memungkinkan para peneliti untuk memprediksi interaksi antara senyawa bioaktif dan protein target. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas anti-inflamasi senyawa yang ditemukan di Graptophyllum pictum dengan menargetkan mediator inflamasi utama.
Metode
Penelitian ini meneliti persiapan, pengolahan, dan skrining fitokimia dari daun ungu dari tanaman Indonesia, Graptophyllum pictum. Daun digiling menjadi bubuk, dimaserasi dalam etanol 96%, dipekatkan, dan dikeringkan. Profil fitokimia dianalisis menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)-Densitometri. Penelitian ini juga mengidentifikasi struktur tiga dimensi dari Toll-like Receptor 4 (TLR4), sebuah mediator utama dari respon inflamasi. Temuan ini dapat membantu mengidentifikasi agen anti-inflamasi yang menjanjikan dari Graptophyllum pictum, memberikan dasar untuk pengembangan obat di masa depan. Penelitian ini juga menggunakan basis data PubChem untuk mengidentifikasi ligan kimia aktif dari Graptophyllum pictum.
Hasil Dan diskusi
Analisis pertama dari Graptophyllum pictum (L.) Griff mengungkapkan bahwa daunnya mengandung flavonoid, fenol, dan sterol, yang diyakini memiliki sifat antiinflamasi yang kuat. Analisis molekuler docking menunjukkan bahwa tiga flavonoid – quercetin, kaempferol, dan myricetin – memiliki sifat bioaktif paling banyak berdasarkan analisis WAY2DRUG PASS. Afinitas untuk quercetin, kaempferol, dan myricetin adalah -6.0 untuk quercetin, -5.9 untuk kaempferol, dan -5.8 untuk myricetin, yang semuanya berkontribusi pada ikatan yang lebih kuat dibandingkan eritoran sebagai kontrol, Eritoran. Hal ini menghasilkan efek antiinflamasi yang lebih kuat. Studi ini menunjukkan potensi untuk mengembangkan agen anti-inflamasi baru dari Graptophyllum pictum, yang dapat berfungsi sebagai antagonis Toll-like Receptor 4 untuk menghambat respons proinflamasi dan secara efektif mengobati peradangan. Namun, model in silico ADMET memiliki keterbatasan karena pengumpulan data dan keterbatasan dalam memberikan prediksi yang akurat.
Kesimpulan
Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut secara in vivo dan in vitro diperlukan untuk mengkonfirmasi peran antiinflamasi Quercetin. Penelitian di masa depan harus fokus pada eksperimen komprehensif yang membandingkan kemanjuran flavonoid yang berbeda sebagai penghambat Toll-like Receptor 4 untuk meningkatkan pemahaman kita tentang potensi terapeutiknya.
Sumber Referensi :
Devi E. Juniarti, Dita Yuarita, & Maretaningtias D. Ariani. (2025). In silico analysis of Anti-Inflammatory compounds in graptophyllum pictum leaf extract as a candidate for pulp capping material. Journal of Dentomaxillofacial Science, 10(1). https://doi.org/10.15562/jdmfs.v10i1.1980





