Rokok mengandung nikotin, tar, dan banyak bahan kimia lainnya penyebab berbagai jenis penyakit seperti gangguan pernafasan,kanker mulut, dan kanker paru-paru. Meskipun rokok mengandung berbagai bahan kimia yang berbahaya, namun hal tersebut tidak menurunkan minat sebagian orang untuk tetap membeli rokok. Merokok merupakan salah satu masalah yang dapat menimbulkan kerugian bagi perokok dan orang lain. Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2022, 7 juta orang meninggal setiap tahun akibat merokok dan 1.2 juta orang meninggal setiap tahun akibat terpapar asap rokok. Merokok menjadi masalah kesehatan global dan menarik perhatian orang di seluruh dunia.
Pada saat pandemi COVID-19 semua orang dihimbau untuk tetap di rumah saja, akibatnya trend merokok meningkat. Ketidakpastian sosial-ekonomi yang disebabkan pandemi dapat meningkatkan tekanan psikologis seperti kecemasan, stres, dan depresi. Merokok menjadi solusi atas masalah psikologis tersebut. Berdasarkan hasil survei Global Youth Tobacco Survey (GYTS), selama 10 tahun terakhir jumlah perokok dewasa mengalami kenaikan yang signifikan yaitusebanyak 8.8 juta orang. Dari 60.3 juta pada tahun 2011 menjadi 69.1 juta perokok pada tahun 2021. Jumlah perokok di seluruh dunia tercatat mencapai 1.3 miliar orang dengan sebagian besar diantaranya berada di negara dengan penghasilan rendah dan menengah.
Beberapa penelitian dalam pemodelan matematika terkait dinamika merokok telah dilakukan oleh para ahli. Pada tahun 1997 Castillo-Garsow dkk memperkenalkan model matematika terkait dinamika merokok pada permasalahan pemakaian tembakau yang diasumsikan menjadi tiga kelompok individu. Yakni populasi individu yang rentan merokok, populasi individu yang merokok, dan populasi individu yang berhenti merokok.
Kemudian, pada tahun 2019 Rahman dkk membahas model dinamika merokok dengan memperkenalkan interaksi antara individu yang rentan merokok dengan perokok ringan. Penelitian ini mengembangkan model matematika dinamika merokok dengan membedakan populasi individu perokok menjadi dua jenis, yaitu populasi perokok kadang-kadang dan populasi perokok berat. Selain itu, ditambahkan pula kontrol pada model berupa edukasi dan candy treatment.
Berdasarkan hasil simulasi numerik pada model matematika penghentian perilaku merokok sebelum pemberian kontrol dan sesudah pemberian kontrol, menunjukkan bahwa pemberian kontrol dapat berupa edukasi saja, candy treatmentsaja atau pemberian kontrol berupa edukasi dan candy treatment secara bersamaan. Pemberian kontrol berupa edukasi dan candy treatment secara bersamaan merupakan langkah yang paling efektif untuk meminimalkan jumlah populasi pengguna rokok sekaligus biaya dalam penerapan kontrol.
Penulis: Cicik Alfiniyah, M.Si., Ph.D
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://pubs.aip.org/aip/acp/article-abstract/2975/1/040008/2930693/
Authors: Della Angge Septiyani, Cicik Alfiniyah*, Miswanto
Title: Stability analysis and optimal control strategy of smoking behavior cessation mathematical model
Link:





