Di zaman yang serba canggih ini, berbagai informasi dapat diakses dengan mudah baik di media cetak seperti surat kabar dan majalah. Maupun di media elektronik seperti televisi, radio, dan internet. Selain akses informasi yang mudah, setiap orang juga dapat menyebarkan informasi dengan mudah. Meskipun hal ini merupakan kemajuan teknologi yang positif, masih banyak orang yang menyalahgunakan kemajuan teknologi ini demi kepentingan pribadi atau kelompok. Salah satunya yaitu dengan cara menyebarkan berita bohong atau hoaks. Hoaks adalah kebohongan yang dibuat sedemikian rupa oleh seseorang untuk menutupi atau mengalihkan perhatian dari kebenaran dan digunakan untuk kepentingan pribadi baik secara intrinsik maupun ekstrinsik.
Jumlah hoaks di media sosial terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Jika tidak ditindaklanjuti, penyebaran hoaks ini dapat menyebabkan masalah, dari timbulnya keresahan masyarakat hingga kerugian ekonomi di negara-negara terdampak. Contoh hoaks yang sempat menimbulkan keresahan dalam masyarakat khususnya di Indonesia yaitu hoaks tentang COVID-19 yang bisa menyebar lewat tatapan mata dan hoaks tentang vaksin COVID-19 yang mengandung magnet.
Penyebaran hoaks di internet khususnya di media sosial telah menarik perhatian banyak peneliti. Dalam hal ini, tidak sedikit peneliti yang menggunakan model matematika untuk mempelajari dinamika penyebaran hoaks. Pada tahun 1965, Daley dan Kendall membuat model matematika pertama dari penyebaran hoaks.
Beberapa peneliti kemudian menggunakan model matematika tersebut untuk mempelajari hoaks yang beredar dan mengembangkan model-model baru yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Contohnya, dalam rangka meneliti pengaruh heterogenitas jaringan kompleks dan mekanisme ragu-ragu dalam penyebaran hoaks, Sun dkk membuat model penyebaran hoaks dalam jaringan heterogeny di tahun 2017. Selanjutnya, tahun 2019 Huo dkk mengembangkan model penyebaran hoaks dengan kontrol optimal yang bertujuan untuk menjelaskan efek program kesadaran (awareness) oleh laporan media dalam penyebaran hoaks. Dalam perumusan model ini, Huo dkkmengasumsikan terdapat hubungan proporsional nonlinier antara populasi masyarakat rentan (ignorants) dan laporan media.
Setahun kemudian, peneliti mengembangkan model penyebaran hoaks baru yang memperhatikan kredibilitas hoaks, korelasi, dan perilaku masyarakat ketika menerima suatu hoaks yang terdiri dari perilaku kritis serta perilaku langsung mempercayai hoaks yang ditemukan. Selanjutnya, pada tahun 2020 Ghazzali dkkmerumuskan model kontrol optimal penyebaran hoaks yang terinspirasi dari model penyebaran kolera dengan hoaks di media sosial sebagai kompartemen. Input kontrol yang digunakan Ghazzali dkk dalam penelitiannya yaitu pemberian informasi kepada pengguna media sosial bahwa suatu informasi merupakan hoaks, penghapusan akun penyebar hoaks atas inisiatif pihak berwenang, dan penghapusan konten hoaks oleh pihak berwenang atas komplain pengguna lain. Berikutnya, pada tahun 2021 model penyebaran hoaks dikembangkan dengan mekanisme ragu-ragu, mekanisme lupa, dan populasi tervaksinasi berupa masyarakat yang dilarang menyebar hoaks atau diberi edukasi bahwa suatu informasi merupakan hoaks.
Dari model-model matematika penyebaran hoaks yang telah dirumuskan sejumlah peneliti sebelumnya, penulis tertarik untuk memodifikasi model matematika yang dirumuskan Ghazzali dkk (2020)dengan menambahkan pengembangan yaitu mekanisme lupa, populasi tervaksinasi, dan populasi ragu-ragu dalam menyebarkan hoaks. Hal-hal yang mendasari ketertarikan penulis dalam modifikasi ini yaitu tidak pernah lepasnya penyebaran hoaks dari faktor lupa. Semakin kritisnya masyarakat dalam menerima hoaks yang beredar seiring berjalannya waktu, serta tersedianya fitur mute dan block di media sosial yang dapat digunakan untuk menghindari suatu akun atau konten. Pada penelitian ini, populasi tervaksinasi adalah pengguna media sosial yang terhindar dari hoaks karena memanfaatkan fitur mute dan block media sosial. Adapun input kontrol yang diimplementasikan yaitu kampanye anti hoaks, pemberian efek jera pada penyebar hoaks, dan penghapusan hoaks oleh pihak berwenang. Hasil simulasi numerik menujukkan bahwa pemberian ketiga kontrol secara bersamaan merupakan skenario yang paling efektif dalam meminimalkan jumlah penyebar hoaks dan konten hoaks di media sosial.
Penulis: Cicik Alfiniyah, M.Si., Ph.D
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://pubs.aip.org/aip/acp/article-abstract/2975/1/040007/2930692/
Authors: Citra Rizqin Sulistyaningsih, Cicik Alfiniyah*, Miswanto
Title: Stability Analysis and Optimal Control of Social Media Hoax Propagation Mathematical Model with Forgetting Mechanism





