51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Analisis Korespondensi Penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku pada Sapi

Trypanosoma Evansi Isolat dari Kerbau dan Sapi di Indonesia Teridentifikasi sebagai Tipe Non A/B
Ilustrasi Sapi (sumber: Liputan6)

Merebaknya kembali wabah penyakit mulut dan kuku (PMK), lebih “ lebih setelah Indonesia dinyatakan bebas dari PMK menamah resah bangsa Indonesia (Surat Keputusan Menteri Pertanian No.260/Kpts/TN.510/5/1986). Karesahan tersebut disebabkan sifat PMK yang infeksius, mempunyai sebaran tinggi bahkan beberapa kasus menyebabkan kematian. Tiga puluh tahun kemudian terhitung sejak pembebasan PMK, tepatnya bulan 28 April 2022 PMK muncul kembali dimulai dari Gresik. Tidak lama kemudian, tepatnya tanggal 2 Mei pada tahun yang sama kasus PMK ditemukan di Kabupaten Lamongan, Sidoarjo dan Mojokerto. Hasil pemetaan kasus pmk di Indonesia tanggal 13 Desember 2022 menunjukkan sebagian besar pulau Jawa, Bali, Lombok, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara timur positif terhadap PMK.  Penyebaran PMK di Sumatra sudah mencapai 90 persen dari luas pulau sedangkan di pulau Kalimatan karena tidak terjadi penyebaran yang masif, maka penyebaran PMK tidak merata seperti pulau Jawa atau Sumatra. Hasil penghitungan populasi sapi terjangkit PMK di Indonesia, Jawa Timur menempati urutan pertama, disusul Nusatenggara Barat, sedangkan urutan terakhir ditempati oleh Sulaesi Barat.

Dampak wabah PMK bagi Masyarakat bisa berupa dampak psikologis lebih-lebih dampak ekonomis. Dampak psikologis misalnya ketakutan tertular PMK karena mengkonsumsi vahan pangan produk hewan misalnya susu atau daging.  Dampak psikologis ini berpengaruh pula terhadap ekonomi terutama pengusaha berupa penurunan pendapatan karena pengurangan permintaan. Bagi peternak  sapi perah misalnya,  wabah PMK menyebabkan penurunan produksi susu yang berdampak pada penurunan pendapatan, bahkan penurunan ini berlangsung hingga beberapa saat setelah sapi sembuh dari PMK. Peternak untuk mengantisipasi biaya produksi lebih memiih menjual ternaknya. Bagi negara wabah PMK memerlukan biaya tambahan yang mungkin didapat dari pengurangan proyek lainnya.

Menghadapi situasi wabah di Indonesia, Pemerintah melalui Menteri pertanian selain menetapkan aturan yang berhubungan dengan masalah PMK melakukan Tindakan seperti  memberikan sumbangan pada masyarakat peternak, nekerja sma dengan Masyarakat melakukan pemeriksaan hewan kurban. Media termasuk faktor yang perlu diperhitungkan dalam melakukan Tindakan terhadap pengendalian atau pencegahan pernyebaran  wabah PMK.  Media menyajikan informasi “ informasi baik berupa foto kejadian, kegiatan atau table data, grafik atau peta. Salah satu alat yang dignakan untuk menyajikan informasi dalam bentu peta adalah analisis konrespondensi. Analisis korespondensi menanalisis hubungan dua atau lebih variabel data berskala katagorial dalam bentuk frekuensi. Hasil analisis disajikan dalam bentuk petaj ssearan variable. Kedekatan hubungan ditinjau dari jarak antar variabel.

Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan analisis korespondensi untuk memetakan kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi di Jawa Timur. Tujuan utamanya adalah untuk mengidentifikasi pola penyebaran dan tingkat keparahan kasus PMK dengan mengkategorikan setiap kasus berdasarkan kriteria kematian, pemusnahan paksa, dan penyakit di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari laporan Dinas Peternakan yang mencatat kejadian PMK di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur. Setelah data terkumpul, data diolah menggunakan analisis korespondensi dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 27. Melalui metode ini, kami bertujuan untuk mengidentifikasi dan memvisualisasikan hubungan antara lokasi kejadian dan tiga kategori respons kasus: kematian, pemusnahan paksa, dan penyakit. Hasil analisis korespondensi menunjukkan bahwa proporsi kematian sapi akibat PMK paling tinggi, diikuti oleh tindakan pemusnahan paksa dan kasus penyakit. Visualisasi data menunjukkan pola distribusi dan tingkat keparahan PMK yang berbeda-beda di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur. Beberapa lokasi menunjukkan insiden kematian yang lebih tinggi, sementara di lokasi lain, kasus penyakit atau pemusnahan paksa lebih dominan. Analisis korespondensi berhasil mengelompokkan kasus PMK pada sapi di Jawa Timur berdasarkan kriteria kematian, pemusnahan paksa, dan penyakit. Studi ini memberikan wawasan yang signifikan mengenai distribusi geografis dan variabilitas respons terhadap wabah PMK di Jawa Timur. Dengan pemahaman ini, langkah-langkah strategis dan spesifik lokasi dapat diambil untuk memberantas PMK, termasuk peningkatan kewaspadaan, alokasi sumber daya untuk tindakan medis, dan kebijakan pengendalian penyakit yang lebih efektif di daerah yang paling terdampak. Penelitian ini menunjukkan pentingnya analisis data yang mendalam dalam menangani wabah penyakit di sektor peternakan, sehingga memfasilitasi pengambilan keputusan yang lebih terinformasi dan efektif dalam upaya memerangi penyakit tersebut.

Penulis : Budiarto

Terbit di jurnal: GSC Biological and Pharmaceutical Sciences (GSCBPS)

Link artikel:    

Link laman jurnal:   

AKSES CEPAT