51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Penerapan Analisis Logistik Biner Multivariate Regresi Splinepada Pengaruh Kompoisisi Rumput dan Konsentrat Terhadap Kebuntingan Sapi

Tinjauan Komprehensif tentang Paratuberculosis Pada Hewan dan Implikasinya terhadap Kesehatan Masyarakat
Ilustrasi sapi (Sumber: Kompas)

Keberhasilan beternak sapi diukur dari produksi atau reproduksi. Indikator keberhasilan reproduksi adalah kebuntingan. Keberhasilan kebuntingan tidak lepas dari faktor “ faktor yang berpengaruh. Factor “ factor tersebut antara lain kualitas sperma pejantan, kondisi induk seperti BCS dan parietas, atau inseminator jika perkawinan tidak terjadi secara alami. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah hijauan (rumput) sebagai sumber karbohidrat sebagai sumber energi. Jika rumput tidak ditemukan nutrisi yang ada pada rumput diperoleh dari turunannya.

Kandungan nutrisi rumput hanya memenuhi kebutuhan dasar sehingga untuk kebutuhan lebih tinggi misalnya produksi dan reproduksi perlu pakan tambahan (konsentrat).  Salah satu dampak pada sapi “ sapi yang tidak diberikan kosentrat adalah kejadian kawin berulang. Sehubungan dengan itu, estimas kebutuhan rumput dan konsentrat perlu dipertimbangan agar diperoleh peluang kebuntingan yang lebih besar.

Friedman (1991) memperkenalkan MARS yaitu analisis regresi yang non parametric dan non linier sebagai jalan keluar terhadap masalah ketimpangan antara jumlah variabel dengan fungsi regresi. Data MARS adalah regresi disajikan terpilah sebagai potongan “ potongan linier (splines). Setiap spline mempunyai fungsi dasar (Basic function (BF)). Variabel pembentuk BF mempunyai batas maksimum (knot = t) melambangkan bagian spline yang mempunyai fungsi bermakna. Jika terletak di sebelah kiri knot fungsi bertanda negative, sebaliknya jika disebelah  kanan di tandai positif.

Dalam penelitian ini, dilakukan analisis terhadap data dari seratus ekor sapi, dimana setiap ekor sapi dicatat status kebuntingannya, konsumsi rumput dan konsentrat, kondisi BCS, dan parietasnya. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode Multivariate Adaptive Regression Splines (MARS), yang memungkinkan identifikasi hubungan non-linear dan interaksi kompleks antara variabel prediktor dan respons. Dari analisis ini, empat estimator utama diidentifikasi, dengan dua di antaranya menunjukkan signifikansi statistik sebagai prediktor utama kebuntingan, yaitu konsumsi rumput dan konsentrat. Ditemukan bahwa jumlah konsumsi rumput dan konsentrat memiliki hubungan linier berlawanan dengan peluang kebuntingan, khususnya pada titik konsumsi tiga puluh dan lima belas kilogram.

Hasil analisis MARS juga menunjukkan bahwa BCS dan parietas memiliki peran dalam mempengaruhi kebuntingan, meskipun dalam penelitian ini tidak sekuat pengaruh konsumsi pakan. Oleh karena itu, skor kondisi tubuh dan pemilihan varietas sapi yang tepat juga harus menjadi pertimbangan dalam pengelolaan reproduksi sapi.

Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya pemilihan dan pengelolaan nutrisi yang tepat sebagai faktor kunci dalam meningkatkan peluang kebuntingan pada sapi. Melalui analisis statistik yang canggih, penelitian ini memberikan wawasan penting mengenai cara-cara efektif dalam meningkatkan efisiensi reproduksi di industri peternakan, sehingga dapat membantu peternak dalam membuat keputusan yang berdasarkan data untuk pengelolaan nutrisi hewan.

Penulis : Budiarto

Terbit di jurnal: World Journal of Advanced Research and Reviews (WJARR)

Link artikel:  

Link laman jurnal:  

AKSES CEPAT