Sejak Magnetic Resonance Imaging (MRI) ditemukan pada awal tahun 1970-an, telah banyak digunakan dalam kedokteran untuk modalitas diagnosis. Pada MRI, penggunaan zat kontras sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas citra pada objek pengamatan. Dalam bidang klinis, sampai saat ini terdapat dua bahan utama yang biasa digunakan sebagai bahan kontras pada MRI, yaitu Gadolinium (Gd) dan besi oksida.
Efek negatif penggunaan Gadolinium sebagai bahan kontras sangat kecil, dengan kontra indikasi terbesar adalah penggunaan zat ini pada pasien hamil dan menyusui. Pemberian Gadolinium pada ibu hamil diduga dapat berpengaruh pada janin karena Gadolinium mampu melewati plasenta. Selain itu, Gd juga tidak boleh diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal. Agen kontras yang mengandung gadolinium dapat meningkatkan risiko penyakit langka namun serius yang disebut fibrosis sistemik nefrogenik pada orang dengan gagal ginjal berat. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pertanyaan muncul tentang keamanan bahan ini sebagai bahan kontras. Penelitian terbaru menunjukkan adanya potensi efek senyawa Gd yang dapat menyebabkan nekrosis dan apoptosis pada sel hati.
Untuk mengatasi hal tersebut, beberapa penelitian dilakukan untuk meningkatkan kualitas citra MRI tanpa menggunakan bahan kimia kontras. Beberapa penelitian tentang peningkatan resolusi citra dengan metode super-resolusi rekonstruksi (SRR) dan metode magnetic resonance electrical impedance tomography (MREIT). MREIT adalah injeksi arus listrik ke objek pencitraan melalui elektroda saat MRI memindai. Pada objek biologis, injeksi ini akan mempengaruhi distribusi konduktivitas di dalam objek tersebut. Arus listrik akan menginduksi kerapatan fluks magnet. MRI akan memproses kerapatan fluks magnet untuk membentuk citra. Dasar dari MREIT adalah perubahan distribusi konduktivitas listrik di dalam objek biologis ketika diinjeksi dengan arus listrik. Perubahan ini dipengaruhi oleh komposisi molekul, struktur seluler, konsentrasi, dan mobilitas komponen kimia cairan intraseluler, ekstraseluler, dan suhu.
Studi sebelumnya telah menemukan bahwa MREIT dapat menjadi alternatif sebagai agen kontras non-kimia meskipun memiliki rasio signal-to-noise (SNR) yang kurang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan menganalisis pengaruh injeksi arus listrik pada objek apakah ada perbedaan intensitas citra. Pemindaian dilakukan pada bobot T1 dan T2 tanpa dan dengan injeksi arus listrik 0,5 mA. Injeksi arus listrik dapat menurunkan rata-rata intensitas citra jaringan pada citra T1 baik otot maupun tulang. Di sisi lain arus listrik juga meningkatkan rata-rata intensitas citra jaringan pada citra bobot T2 pada kedua organ otot dan tulang . Terdapat juga perbedaan intensitas citra T1 jaringan dan citra T2 dengan dan tanpa injeksi arus listrik pada tulang dan otot.
Penulis: Dr. Khusnul Ain, S.T, M.Si.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Khusnul Ain, Lina Choridah, Deddy Kurniadi, Agah D. Garnadi, Utriweni Mukhaiyar, Nurhuda Hendra Setyawan, œQuantitative Analysis of Electrical Current Effect on Magnetic Resonance Image Tissue Intensityœ, Jurnal Teknologi (Science and Engineering), Vol. 85, No. 2, February 2023, pp. 141~148, ISSN: 2085-1669, doi.org/10.11113/jurnalteknologi.v85.18871.





