Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Luas perairan Indonesia adalah 6,32 juta km2, 2/3 dari luas wilayah Indonesia, dengan garis pantai sepanjang 90.093 km yang menunjukkan besarnya potensi sumber daya perikanan khususnya perikanan tangkap (Badan Pusat Statistik, 2015). Indonesia merupakan pemain penting dalam produksi perikanan dunia dengan 6,5 juta ton per tahun (7% dari produksi global), dan produsen perikanan tangkap terbesar ketiga setelah China dan Peru (Jaya et al., 2022). Selain itu, FAO menjelaskan bahwa 960.000 rumah tangga terlibat dalam penangkapan ikan pada tahun 2016 dan lebih dari 1,5 juta rumah tangga akuakultur berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia (Stacey et al., 2021).
Usaha rumah tangga sektor perikanan melibatkan sekitar 90% dari total jumlah nelayan dan menghasilkan lapangan kerja yang signifikan bagi masyarakat pesisir (Sari, Ichsan, White, Raup, & Wisudo, 2021). Kehidupan nelayan pada umumnya tergantung pada kondisi cuaca yang secara langsung mempengaruhi besarnya pendapatan. Kegiatan penangkapan ikan dianggap sebagai pekerjaan dengan resiko ketidakpastian yang tinggi dan tidak aman karena laut dapat menjadi sangat tidak ramah dan berbahaya sewaktu-waktu. Béné & Friend, (2011) menyimpulkan bahwa pendapatan nelayan umumnya bergantung pada hasil tangkapan yang sangat bervariasi, tidak merata, dan tidak dapat diprediksi, sehingga masyarakat nelayan disebut sebagai ‘the poorest of the poor’.
Sudah banyak penelitian yang membahas pendapatan nelayan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, namun penelitian ini memberikan kontribusi dengan menambahkan bukti empiris dari rumah tangga perikanan tangkap dengan menggunakan dataset terbaru dari Survei Pendapatan Rumah Tangga Sektor Pertanian Indonesia, yang dikumpulkan pada tahun 2014 oleh Badan Pusat Statistik.
Regresi Ordinary Least Square (OLS) digunakan untuk menganalisis determinan pendapatan pada rumah tangga perikanan tangkap dan model yang digunakan adalah:
Y = β0 + β1 X1 + X2 + ¦ + βn Xn + ε
Dimana Y: Pendapatan rumah tangga (Rupiah); β0: intersep; β1 sd β10: koefisien; X1: Umur kepala rumah tangga (Tahun); X2: Tingkat Pendidikan KRT (Tahun); X3: Jumlah anggota rumah tangga (Tahun); X4: Keanggotaan Kelompok Usaha Bersama/KUB, 1 jika rumah tangga adalah anggota Kelompok Usaha Bersama/KUB, 0 sebaliknya; X5: Keanggotaan Koperasi,1 jika rumah tangga adalah anggota koperasi, 0 sebaliknya; X6: akses kredit, 1 jika ruta pernah menggunakan kredit, 0 sebaliknya; X7: Akses pasar, 1 jika ruta dapat dengan mudah menjual ikannya ke pasar, 0 sebaliknya; X8: hibah pemerintah, 1 jika rumah tangga mendapat hibah pemerintah, 0 sebaliknya; ε: error.
Dari hasil penelitian, rumah tangga perikanan tangkap cenderung memiliki pendapatan yang lebih tinggi jika dikepalai oleh laki-laki, usia produktif yang telah menyelesaikan pendidikan dasar, memiliki anggota rumah tangga yang tergabung dalam KUB, memanfaatkan fasilitas koperasi, mendapatkan kredit dari lembaga formal, mudah memasarkan ikannya, dan menerima hibah dari pemerintah berupa kapal, alat tangkap, dan pembiayaan usaha
Usia kepala rumah tangga memiliki nilai koefisien positif. Temuan ini sejalan dengan Olale & Henson, (2012) yang menjelaskan bahwa bekerja sebagai nelayan membutuhkan fisik yang kuat dan pengalaman hidup yang banyak, bertambahnya usia berarti bertambahnya pengalaman.
Dalam rumah tangga perikanan tangkap di Indonesia, kepala rumah tangga dan anak laki-laki biasanya menangkap ikan di laut. Istri dan anak perempuan biasanya mengumpulkan ikan atau kerang, mengolahnya, membersihkan perahu, memperbaiki jaring, dan menjadi pedagang ikan.
Keanggotaan KUB memiliki nilai koefisien positif, yang menjelaskan bahwa rumah tangga nelayan yang tergabung dalam KUB cenderung memiliki pendapatan tinggi. Temuan ini mirip dengan Nurul Islam et al., (2014); Kolade & Harpham, (2014). Selain itu, Rumah tangga nelayan yang tergabung dalam koperasi cenderung memiliki pendapatan yang tinggi. Umumnya, koperasi dirancang untuk menyediakan pasar ikan yang stabil, akses kredit, alat tangkap, dan informasi pasar.
Rumah tangga nelayan yang mendapatkan kredit dari lembaga formal cenderung memiliki pendapatan yang tinggi. Lembaga kredit sangat penting bagi nelayan kecil, dimana kredit ini dibutuhkan oleh nelayan untuk operasional usaha penangkapan ikan, termasuk perbaikan perahu dan alat tangkap. Selain itu, akses pasar memiliki nilai koefisien positif yang menjelaskan bahwa rumah tangga nelayan yang tidak kesulitan menjual ikannya cenderung memiliki pendapatan yang tinggi. Rumah tangga yang menerima hibah/bantuan pemerintah berupa perahu, alat tangkap, dan pembiayaan usaha cenderung memiliki pendapatan yang tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan rumah tangga pelaku usaha perikanan tangkap di Indonesia. Data yang digunakan adalah data terbaru dari Survei Pendapatan Rumah Tangga Sektor Pertanian Indonesia tahun 2014 yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik. Dengan menggunakan regresi OLS, studi ini menemukan bahwa usia kepala rumah tangga, tingkat pendidikan kepala rumah tangga, ukuran rumah tangga, rumah tangga perikanan tangkap yang tergabung dalam KUB, anggota koperasi, akses kredit formal, akses pasar ikan mudah, dan menerima hibah dari pemerintah, rumah tangga ini cenderung memiliki pendapatan lebih tinggi.
Penulis: Dyah Wulan Sari, Dra.Ec. M.Ec.Dev., Ph.D
Jurnal:





