Media sosial didefinisikan sebagai sekelompok aplikasi berbasis internet yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran. Media sosial merupakan situs yang paling banyak diakses oleh penggunanya karena memiliki banyak kelebihan. Kelebihan yang didapatkan yaitu sebagai platform informasi dan komunikasi, menjalin relasi, wadah untuk mempresentasikan diri pengguna, serta memudahkan individu dalam dunia bisnis, karir, pendidikan, dan politik. Disisi lain terdapat kekurangan yang dimiliki dari media social yaitu pekerja atau seseorang akan banyak menghabiskan waktu untuk mengakses media sosial, mengurangi produktivitas, dan cenderung menjadi individu yang malas. Selain itu, penggunaan media sosial menyebabkan interaksi langsung (tatap muka) cenderung menurun yang dapat menyebabkan seseorang menjadi anti sosial. Resiko kecanduan media sosial meningkat secara eksponen ketika media sosial digunakan selama jam kerja untuk petugas Kesehatan.
Seseorang dikatakan kecanduan media sosial jika menunjukkan beberapa gejala. Gejala yang dapat terlihat yaitu salience atau aktivitas online media sosial yang mendominasi pemikiran, modifikasi mood atau strategi melarikan diri dari masalah sehingga penggunaan media sosial dapat memodifikasi perasaan pengguna, toleransi atau peningkatan aktivitas online dalam media sosial, gejala penarikan diri atau kondisi perasaan tidak nyaman, dan munculnya konflik antara penderita dengan orang lain di sekitarnya. Hal lain yang dapat dilihat yaitu dari meningkatnya frekuensi, durasi, penggunaan smartphone. Peningkatan penggunaan internet cenderung lebih banyak terjadi dikalangan muda dan perempuan pada usia dibawah 33 tahun. Penggunaan media sosial dan internet yang berlebihan selama pandemi dapat berujung pada beberapa masalah Kesehatan. Salah satu masalah yang terjadi yaitu masalah psikologis seperti gejala depresi, distraksi, modifikasi suasana hati, gejala kecemasan, kehilangan minat, dan tingkat insomnia yang berbeda seperti insomnia klinis, insomnia sub-threshold, insomnia klinis keparahan sedang, dan insomnia klinis berat. Gejala depresi secara statistik terkait dengan usia, status perkawinan, tingkat pendidikan, kategori pekerjaan, kesulitan keuangan selama pandemi, status kesehatan, memiliki infeksi COVID-19, kesehatan saat ini status, pikiran untuk bunuh diri, pelecehan atau kekerasan dalam rumah tangga.
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah tinjauan sistematis dengan metode text mining dan Prisma. PRISMA akan digunakan untuk mengekstraksi informasi dan mengkategorikan distribusi faktor-faktor yang mempengaruhi ke dalam tabel ekstraksi yang menjelaskan signifikansi faktor-faktor yang mempengaruhi ketergantungan media sosial pada tenaga kesehatan selama pandemi COVID 19. Basis data yang didapat dari text mining dianggap sebagai salah satu platform indeks kutipan paling tepercaya di dunia untuk informasi ilmiah berkualitas berbasis bukti.
Secara umum, profesi kesehatan dianggap sebagai profesi yang mulia karena kontribusinya terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia. Kesehatan yang baik (fisik dan mental) dan penggunaan media sosial yang tepat atau kehidupan disiplin profesional kesehatan tidak hanya penting untuk diri mereka sendiri tetapi juga penting untuk memberikan perawatan kesehatan yang lebih baik kepada individu. Selama pandemi Covid-19, kondisi krisis kesehatan baru dan pola kerja yang penuh tekanan mengembangkan beberapa hasil psikologis termasuk kekhawatiran, tekanan, kelelahan, trauma, dan isolasi yang terkait dengan pekerjaan mereka.
Kecanduan media sosial tidak hanya memengaruhi kesehatan psikologis tetapi juga meningkatkan kecenderungan ortoreksia di kalangan professional Kesehatan. Orthorexia Nervosa (ON) adalah gangguan makan baru yang terkait erat dengan kecanduan media sosial karena orang dewasa muda menemukan platform media sosial (misalnya, Facebook dan Instagram). Sebuah penelitian di Inggris menemukan bahwa peningkatan penggunaan Instagram dikaitkan dengan peningkatan kecenderungan orthorexia. Di sisi lain, penggunaan Facebook yang berlebihan dikaitkan dengan gangguan makan yang lebih tinggi. Kecanduan media sosial dapat meningkatkan kejadian sulit tidur remaja karena insomnia secara signifikan terkait dengan penggunaan media sosial yang membuat ketagihan berinteraksi dengan waktu. Studi lain tentang penggunaan smartphone yang lebih sedikit atau fear of missing out (FoMO) di kalangan petugas kesehatan menemukan hubungan yang positif dan signifikan antara nomophobia dan FoMO, dan hal itu juga dapat menyebabkan beban kerja yang dirasakan berlebihan.
Reference:
Eka Prasetya, T. A., & Kusuma Wardani, R. W. (2023). Systematic review of social media addiction among health workers during the pandemic Covid-19. In Heliyon (Vol. 9, Issue 6). Elsevier Ltd.





