Perceraian sebagai proses hukum yang mengakhiri pernikahan, dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti pengangguran. Meskipun pengangguran dapat memicu konflik pernikahan, penelitian menunjukkan adanya kecenderungan bahwa tingkat perceraian cenderung menurun seiring dengan peningkatan tingkat pengangguran. Hal ini dapat dijelaskan oleh dampak ekonomi, di mana biaya perceraian yang tinggi dapat menjadi faktor penghambat stabilitas pernikahan. Sebagai hasilnya, pengangguran dapat memiliki dampak yang kompleks terhadap hubungan pernikahan, dengan konsekuensi yang beragam tergantung pada berbagai faktor.
Penelitian ini menggali hubungan antara pelecehan anak dan perceraian, memberikan pemahaman mendalam tentang faktor-faktor yang memengaruhi kasus perceraian dengan fokus pada dimensi emosional dan sensitif yang belum banyak dijelajahi sebelumnya. Dengan menyelidiki korelasi antara peningkatan kasus pelecehan anak dan perceraian, penelitian ini memberikan kontribusi signifikan pada pengetahuan yang ada, mengisi kesenjangan literatur, dan memberikan perspektif terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika perceraian.
Penelitian ini menjelajahi teori stres keluarga, fokus pada dampak ekonomi, terutama kemiskinan dan tekanan ekonomi, terhadap perceraian dan pelecehan anak. Teori tersebut menyoroti bahwa hubungan antar orang tua dapat mempengaruhi anak-anak, terutama dalam konteks ketidakstabilan ekonomi. Dengan menggunakan teori stres keluarga sebagai kerangka dasar, penelitian ini merinci bagaimana elemen ekonomi seperti kemiskinan, pengangguran, dan inflasi dapat memicu stres keluarga, yang pada gilirannya dapat berkontribusi pada perceraian dan situasi pelecehan anak.
Penelitian juga melihat pengaruh siklus bisnis, terutama melalui tingkat pengangguran, terhadap perceraian. Temuan sebelumnya menunjukkan bahwa kehilangan pekerjaan dan guncangan pendapatan negatif dapat meningkatkan kemungkinan perceraian. Penelitian ini menggambarkan bahwa ada hubungan antara kondisi pasar kerja dan hasil pernikahan. Meskipun banyak penelitian fokus pada pengangguran, penelitian ini membawa nuansa dengan menunjukkan variasi dalam hubungan tersebut, khususnya dalam konteks penurunan perceraian saat tingkat pengangguran tinggi. Keseluruhan, penelitian ini memberikan wawasan yang mendalam tentang bagaimana interaksi antara masalah ekonomi, tekanan keluarga, dan dampaknya pada perceraian dan pelecehan anak.
Pada beberapa negara hubungan antara tingkat perceraian dan siklus bisnis beragam sesuai dengan wilayah. Wilayah pantai menunjukkan kecenderungan tingkat perceraian yang mengikuti siklus bisnis, sementara daerah pedalaman menunjukkan kecenderungan berlawanan terhadap pengangguran. Studi juga mencatat dinamika menarik antara pengangguran, gender, dan perceraian, dengan pengangguran perempuan berkorelasi dengan penurunan tingkat perceraian, sementara pengangguran laki-laki memiliki asosiasi positif dalam jangka panjang. Selain itu, penelitian memperhatikan faktor-faktor yang memengaruhi durasi hubungan pasangan dan dampak perceraian pada kepuasan hidup serta perkembangan kepribadian. Keterkaitan khusus juga diungkapkan antara pelecehan anak dan perceraian, menunjukkan kompleksitas hubungan di mana pelecehan anak bisa menjadi pemicu maupun hasil dari perceraian. Meskipun pelecehan anak diakui sebagai faktor pemicu perceraian, riset yang mendukung hubungan ini masih terbatas, menegaskan kebutuhan akan eksplorasi lebih lanjut di bidang ini.
Variabel yang diidentifikasi melibatkan jumlah individu yang bercerai dalam angkatan kerja (D), jumlah wanita yang bekerja (F) sebagai representasi wanita bekerja, jumlah individu yang menganggur (U) sebagai indikator pengangguran, dan indeks harga konsumen (CPI) sebagai ukuran inflasi. Data untuk variabel-varibel ini dari tahun 1989 hingga 2020 dikumpulkan dari World Bank dan Departemen Statistik Malaysia. Metode Autoregressive Distributed Lag (ARDL) digunakan untuk menganalisis data dengan parameter model yang telah ditentukan.
Hasil studi menunjukkan bahwa pengaruh pelecehan anak terhadap perceraian terjadi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, menyoroti pentingnya penanganan pelecehan anak sebagai masalah serius dan faktor penting dalam keruntuhan keluarga. Penelitian ini menekankan perlunya strategi intervensi menyeluruh untuk mempertahankan kesatuan keluarga dan kesejahteraan anak, dengan mengungkapkan keterkaitan yang konsisten antara pelecehan anak dan perceraian.
Variabel sosioekonomi menambah kompleksitas pemahaman terhadap tren perceraian di Malaysia, meskipun pekerjaan perempuan berpengaruh pada perceraian dalam jangka pendek, pengaruhnya berkurang dalam jangka panjang. Sementara itu, pengangguran menjadi pendorong konsisten perceraian baik jangka pendek maupun jangka panjang, menyoroti pengaruh stres ekonomi pada kestabilan pernikahan. Dampak kemiskinan pada perceraian menegaskan pentingnya mengatasi disparitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Hubungan antara inflasi dan perceraian bersifat kompleks, dengan penurunan perceraian dalam jangka pendek seimbang terhadap dampak jangka panjang pada pelecehan anak, menyoroti hubungan yang kompleks antara faktor ekonomi dan hasil pernikahan.
Temuan ini memiliki implikasi kebijakan yang signifikan untuk menginformasikan intervensi terkait pelecehan anak dan perceraian, serta faktor sosioekonomi yang memengaruhi stabilitas pernikahan di Malaysia. Dengan dampak pelecehan anak yang signifikan pada tingkat perceraian, upaya kebijakan harus difokuskan pada penguatan langkah-langkah perlindungan anak, perbaikan sistem kesejahteraan anak, dan penyediaan layanan dukungan yang mudah diakses. Selain itu, perlu pengembangan layanan konseling khusus untuk keluarga yang mengalami pelecehan anak, serta dukungan khusus bagi pasangan yang mengalami kesulitan setelah insiden pelecehan anak.
Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan, termasuk sulitnya membuktikan hubungan sebab-akibat dan tidak memperhitungkan semua faktor yang memengaruhi tingkat perceraian. Penelitian lebih lanjut bisa lebih kuat dengan desain eksperimental. Variabel tambahan dapat dimasukkan untuk gambaran yang lebih lengkap, dan penelitian regional mungkin diperlukan untuk memahami variasi di Malaysia. Peningkatan durasi penelitian juga dapat mengungkapkan tren dan pola yang lebih jelas.
Oleh Miguel Angel Esquivias
Jurnal: Understanding the role of child abuse in divorce: A socioeconomic analysis using the ARDL approach





