Di era modern, plastik sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari kemasan makanan, botol minuman, mainan anak, hingga alat Kesehatan, alat kosmetik, hampir semuanya melibatkan bahan plastik. Namun, di balik kepraktisannya, plastik menyimpan ancaman tersembunyi bagi kesehatan manusia, khususnya kesehatan reproduksi pria. Salah satu zat kimia yang paling banyak disorot adalah Di-(2-ethylhexyl) phthalate (DEHP). DEHP merupakan senyawa kimia golongan ftalat yang digunakan untuk membuat plastik menjadi lentur dan tahan lama. Sayangnya, DEHP tidak terikat kuat pada plastik, sehingga mudah terlepas dan masuk ke dalam tubuh manusia. Paparan DEHP dapat terjadi melalui makanan, udara, kontak kulit, bahkan melalui alat medis. Berbagai penelitian telah menemukan jejak DEHP dalam urin, darah, dan cairan reproduksi pria, yang menunjukkan bahwa zat ini dapat menyebar ke seluruh tubuh.
Masalahnya, DEHP dikenal sebagai pengganggu endokrin, yaitu zat yang mampu mengacaukan sistem hormon. Pada pria, hormon testosteron memegang peranan penting dalam pembentukan sperma dan pemeliharaan fungsi testis. Paparan DEHP terbukti dapat menurunkan produksi testosteron dengan merusak sel-sel target di dalam testis. Akibatnya, proses pembentukan sperma terganggu. Dampak gangguan ini tidak bisa dianggap sepele. Penelitian menunjukkan bahwa paparan DEHP berhubungan dengan penurunan kualitas sperma, seperti berkurangnya jumlah sperma, menurunnya motilitas, perubahan morfologi, hingga rendahnya viabilitas sperma. Semua kondisi tersebut berujung pada meningkatnya risiko infertilitas.
Selain mengganggu hormon, DEHP juga memicu stres oksidatif, yaitu kondisi ketika jumlah radikal bebas dalam tubuh melebihi kemampuan sistem antioksidan untuk menetralisirnya. Radikal bebas ini dapat merusak sel-sel penting di testis, termasuk membran sel, protein, dan bahkan DNA. Salah satu penanda utama kerusakan ini adalah meningkatnya kadar malondialdehida (MDA), senyawa hasil peroksidasi lipid yang menandakan kerusakan jaringan akibat oksidasi. Kerusakan akibat stres oksidatif tidak hanya memengaruhi kualitas sperma, tetapi juga struktur jaringan testis. Tubulus seminiferous tempat pembentukan sperma juga mengalami perubahan, dengan berkurangnya jumlah sel-sel germinal. Jika kondisi ini berlangsung lama, risiko gangguan kesuburan jangka panjang menjadi semakin besar.
Melihat besarnya ancaman DEHP, para peneliti mulai mencari solusi yang aman dan alami untuk melindungi sistem reproduksi pria. Salah satu pendekatan yang menarik perhatian adalah penggunaan antioksidan alami dari tanaman obat. Di sinilah daun kelor (Moringa oleifera) mulai dilirik sebagai kandidat potensial.
Kelor dikenal luas sebagai tanaman obat karena kandungan yang melimpah. Daunnya kaya akan senyawa antioksidan seperti flavonoid, asam fenolat, dan vitamin E (gamma-tokoferol). Senyawa-senyawa ini berperan penting dalam menangkal radikal bebas dan memperkuat sistem pertahanan antioksidan tubuh. Berbagai studi praklinis menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor mampu melindungi testis dari kerusakan akibat zat beracun. Ekstrak ini terbukti dapat meningkatkan aktivitas enzim antioksidan seperti superoksida dismutase (SOD) dan katalase (CAT), menurunkan kadar MDA, serta membantu mempertahankan kadar testosteron tetap normal. Tidak hanya itu, kualitas sperma baik dari segi jumlah, bentuk, maupun pergerakannya juga menunjukkan perbaikan setelah pemberian ekstrak daun kelor.
Meski hasil-hasil tersebut menjanjikan, sebagian besar penelitian sebelumnya masih berfokus pada satu atau dua parameter saja, misalnya hormon atau penanda biokimia. Padahal, untuk memahami manfaat daun kelor secara utuh, diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif, mulai dari aktivitas antioksidan, keseimbangan hormon, kualitas sperma, hingga kondisi jaringan testis secara mikroskopis.
Oleh karena itu, penelitian terbaru mulai mengkaji efek perlindungan ekstrak daun kelor secara lebih menyeluruh dan berdasarkan dosis. Dengan mengamati berbagai indikator sekaligus, para peneliti berharap dapat mengungkap bagaimana daun kelor bekerja pada berbagai tingkat perlindungan sistem reproduksi pria. Pada akhirnya, temuan-temuan ini memberikan harapan baru bahwa intervensi berbasis tanaman alami dapat menjadi strategi pendukung untuk mengurangi dampak buruk polutan lingkungan seperti DEHP. Meski tidak menggantikan upaya pencegahan paparan bahan kimia berbahaya, pemanfaatan tanaman kaya antioksidan seperti kelor berpotensi menjadi bagian dari gaya hidup sehat untuk menjaga kesuburan pria di tengah tantangan lingkungan modern.
Penulis: Alfiah Hayati
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Journal of Multidisciplinary Applied Natural Science
Dietary Supplementation of Lotus (Nelumbo nucifera Gaertn.) Extract Alleviates Liver Injury Induced by 2-Methoxyethanol in Mice Model
Putri Ayu Ika Setiyowati, Asthifani Amilia Hasna, Yunita Ainul Khasanah, Mochammad Aqila Herdiansyah, Yuningtyaswari Yuningtyaswari, Manikya Pramudya, Vuanghao Lim, and Alfiah Hayati





