Konsumsi tembakau masih menjadi salah satu masalah kesehatan global yang paling sulit dikendalikan. Meskipun berbagai kampanye kesehatan telah dilakukan selama puluhan tahun. Di tengah upaya pengendalian tersebut, muncul inovasi produk yang diklaim lebih aman dibandingkan rokok konvensional, yaitu rokok elektronik atau e-cigarette. Produk ini semakin populer karena dianggap menghasilkan paparan bahan kimia yang lebih sedikit dibandingkan asap rokok tembakau.
Pandangan ini sebagian didukung oleh beberapa studi in vitro yang menunjukkan bahwa aerosol rokok elektronik memiliki komposisi kimia yang lebih sederhana dibandingkan asap rokok biasa yang mengandung ribuan senyawa. Tidak mengherankan jika pasar rokok elektronik berkembang pesat dan diperkirakan akan terus meningkat seiring meningkatnya popularitas produk ini, terutama di kalangan generasi muda.
Terlepas dari variasi desain perangkatnya, semua rokok elektronik bekerja dengan prinsip yang sama, yaitu memanaskan cairan khusus yang disebut e-liquid hingga menghasilkan aerosol yang kemudian dihirup oleh pengguna. Cairan ini umumnya terdiri dari campuran perasa makanan, nikotin, gliserin nabati, dan propilen glikol. Kedua bahan terakhir sering digunakan sebagai pelarut dan pembentuk uap.
Secara regulasi, kedua bahan tersebut dikategorikan sebagai bahan yang umumnya dianggap aman ketika digunakan dalam makanan. Namun, paparan melalui inhalasi tetap menjadi perhatian. Selain itu, keberadaan nikotin menambah kompleksitas risiko kesehatan. Nikotin merupakan neurotoksin yang bersifat adiktif karena mampu merangsang pelepasan dopamin di otak, khususnya di korteks prefrontal. Zat ini juga memengaruhi sistem kardiovaskular dengan menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan peningkatan tekanan darah.
Selama ini, sebagian besar penelitian mengenai rokok elektronik berfokus pada deteksi senyawa tertentu yang sudah diketahui berbahaya, seperti senyawa organik volatil, karbonil, logam berat, hidrokarbon aromatik polisiklik, dan nitrosamin spesifik tembakau. Pendekatan ini dikenal sebagai analisis targeted, karena hanya meneliti senyawa yang telah diketahui sebelumnya. Walaupun memberikan informasi toksikologi yang penting, pendekatan tersebut hanya menggambarkan sebagian kecil dari kompleksitas kimia dalam e-liquid.
Masalah lain yang sering ditemukan adalah ketidaksesuaian label produk. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa cairan rokok elektronik yang dipasarkan sebagai bebas nikotin ternyata tetap mengandung nikotin dalam jumlah tertentu. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai kualitas produk, transparansi produsen, serta keamanan konsumen. Kondisi ini semakin penting diperhatikan di negara-negara dengan pasar rokok elektronik yang berkembang pesat, seperti Malaysia, di mana keragaman produk sangat tinggi dan regulasinya masih berkembang.
Untuk memahami komposisi kimia secara lebih menyeluruh, para peneliti mulai menggunakan pendekatan metabolomik non-target. Metabolomik merupakan teknik analisis yang bertujuan mengidentifikasi sebanyak mungkin molekul kecil atau metabolit yang terdapat dalam suatu sampel tanpa harus menentukan target senyawa tertentu terlebih dahulu. Dengan pendekatan ini, para ilmuwan dapat memperoleh gambaran 渟idik jari kimia suatu produk secara lebih lengkap.
Salah satu teknik analitik yang banyak digunakan dalam metabolomik adalah Gas Chromatography揗ass Spectrometry (GC-MS). Metode ini memungkinkan pemisahan dan identifikasi berbagai senyawa volatil dalam suatu sampel secara simultan. Dalam penelitian terbaru, teknik ini dikombinasikan dengan metode headspace sehingga analisis dapat difokuskan pada senyawa volatil yang mudah menguap dari e-liquid. Melalui metode tersebut, para peneliti dapat mendeteksi berbagai metabolit dalam cairan rokok elektronik yang beredar di pasaran. Analisis lebih lanjut menggunakan teknik statistik multivariat memungkinkan perbandingan pola metabolit antarproduk. Dengan cara ini, perbedaan komposisi kimia dapat diidentifikasi secara sistematis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa cairan rokok elektronik memiliki keragaman komposisi metabolit yang cukup tinggi antarproduk. Secara keseluruhan, terdeteksi lebih dari seratus senyawa berbeda dalam sampel yang dianalisis. Beberapa senyawa, seperti piperonal dan tetradecanoic acid ethyl ester, bahkan dapat digunakan sebagai penanda kimia untuk membedakan produk satu dengan yang lain. Temuan ini menunjukkan bahwa setiap merek atau formulasi e-liquid dapat memiliki profil kimia yang unik. Yang lebih menarik sekaligus mengkhawatirkan adalah ditemukannya nikotin pada produk yang diklaim bebas nikotin. Fakta ini menegaskan bahwa masalah pelabelan produk masih menjadi tantangan besar dalam industri rokok elektronik. Bagi konsumen yang sengaja memilih produk tanpa nikotin, keberadaan zat tersebut dapat menimbulkan paparan yang tidak diinginkan dan berpotensi menimbulkan ketergantungan. Meskipun penelitian ini memberikan gambaran awal yang penting mengenai komposisi kimia e-liquid, para peneliti menekankan bahwa hasil ini masih bersifat eksploratif. Penelitian tersebut belum mengukur konsentrasi setiap senyawa secara rinci ataupun menilai risiko toksikologinya secara langsung pada manusia. Namun demikian, pendekatan metabolomik terbukti sangat berguna sebagai alat skrining awal untuk mengidentifikasi senyawa yang berpotensi berbahaya serta memeriksa keakuratan label produk.
Ke depan, penelitian serupa perlu dilakukan dengan jumlah sampel yang lebih besar serta melibatkan analisis kuantitatif dan pengujian toksikologi. Selain itu, kondisi penggunaan yang realistis juga perlu dipertimbangkan karena dapat menghasilkan senyawa baru yang tidak terdapat pada cairan awal. Dengan demikian, metode metabolomik menawarkan pendekatan ilmiah yang menjanjikan untuk memetakan kompleksitas kimia rokok elektronik. Pengetahuan ini sangat penting bagi regulator, peneliti, dan masyarakat untuk memahami potensi risiko kesehatan dari produk yang semakin populer ini.
Penulis: Alfiah Hayati
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Chemistry Africa Journal
Non-Targeted Metabolomic Profiling of E-Cigarette Liquids Via Headspace-Gas Chromatography-Mass Spectrometry
Ganapaty Manickavasagam, Mohd Reduan Bin Selamat, Alfiah Hayati, Wen Nee Tan, Vuanghao Lim





