Sungai Brantas, yang membentang melintasi Jawa Timur, selama ini dikenal sebagai sumber kehidupan, air minum, irigasi, dan mata pencaharian bagi jutaan penduduk. Namun, di balik aliran tenangnya, sebuah penelitian ilmiah baru-baru ini mengungkap krisis polusi yang mengkhawatirkan dan tidak terlihat oleh mata telanjang.
Dalam sebuah studi berjudul Determination of Microplastic Compounds in Some Species of Freshwater Snails in Brantas River, East Java, Indonesia, para peneliti menemukan bahwa tiga spesies keong air tawar yang memiliki peran ekologis signifikan di sungai tersebut telah menelan partikel-partikel plastik berukuran sangat kecil. Temuan ini bukan hanya alarm bagi kesehatan ekosistem akuatik, tetapi juga peringatan serius bagi komunitas lokal yang bergantung pada sumber daya sungai, termasuk yang mengonsumsi keong-keong tersebut sebagai bahan pangan.
Krisis mikroplastik adalah masalah global, dan ekosistem air tawar seperti sungai menjadi jalur utama masuknya polutan ini ke lingkungan. Mikroplastik, yang didefinisikan sebagai partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter, berasal dari berbagai sumber: fragmentasi sampah plastik yang lebih besar, limbah efluen dari pabrik pengolahan air, sistem pembuangan limbah, hingga limpasan air badai. Aktivitas manusia sehari-hari, seperti pembuangan sampah rumah tangga yang sembarangan dan limbah cucian (yang melepaskan serat sintetis), secara kolektif memperburuk beban mikroplastik di sungai dan danau. Sungai Brantas, sebagai ekosistem vital yang berada di bawah tekanan urbanisasi dan polusi industri, kini menjadi kasus nyata akumulasi mikroplastik di perairan Indonesia.
Dalam upaya memantau kesehatan sungai, para peneliti menggunakan keong air tawar sebagai bioindikator yang handal. Keong, yang sensitif terhadap perubahan lingkungan dan cenderung mengakumulasi kontaminan di dalam jaringannya, berfungsi sebagai proksi terukur untuk menilai tingkat polusi di habitat mereka. Studi ini berfokus pada tiga spesies utama di hilir Brantas yaitu Keong Emas (Pomacea canaliculata), spesies invasif yang dikenal luas; Keong Sawah (Filopaludina javanica), spesies asli yang kerap dijadikan santapan lokal; dan Keong Air Tawar Asli (Sulcospira testudinaria), spesies asli sungai. Tiga lokasi pengambilan sampel yang strategis dipilih di sepanjang aliran sungai untuk menilai variasi spasial kontaminasi, yang mencakup gradien ekologi dan tekanan antropogenik. Metode analisis yang digunakan pun sangat cermat, melibatkan diseksi dan pencernaan seluruh jaringan lunak keong menggunakan kalium hidroksida (KOH) untuk mengisolasi partikel plastik yang tertelan.
Hasil analisis ini memicu temuan kuantitatif yang mengejutkan, menegaskan bahwa tidak ada satu pun dari ketiga spesies keong yang luput dari kontaminasi. Ingesti mikroplastik bersifat universal di seluruh taksa yang dipelajari. Meskipun semua terkontaminasi, Keong Emas (P. canaliculata) menunjukkan tingkat kontaminasi tertinggi dengan rata-rata 4.5 partikel mikroplastik per individu. Diikuti oleh S. testudinaria dengan 3.2 partikel dan F. javanica dengan 2.7 partikel per individu. Keanekaragaman morfologi mikroplastik yang ditemukan juga mengindikasikan banyak sumber polusi. Keong Emas didominasi oleh serat dan fragmen plastik, yang kemungkinan besar berasal dari limbah tekstil (laundry effluent) dan degradasi sampah plastik. Sementara itu, Keong Sawah sebagian besar mengandung microbeads kosmetik dan film kemasan, dan S. testudinaria mengakumulasi pelet industri dan mikrofiber sintetis. Keanekaragaman partikel ini membuktikan adanya berbagai jalur polusi, mulai dari efluen limbah rumah tangga hingga limpasan pertanian dan pembuangan sampah yang tidak terkelola.
Pola akumulasi spesifik spesies ini secara jelas mencerminkan perbedaan dalam ekologi makanan dan preferensi mikrohabitat mereka di sungai. Keong Emas (P. canaliculata), yang merupakan pemakan deposit, tampaknya lebih rentan terhadap kontaminasi tinggi karena mereka menelan sedimen secara langsung, di mana mikroplastik cenderung mengendap. Sebaliknya, Keong Sawah (F. javanica) yang merupakan pemakan alga mungkin lebih banyak menelan mikroplastik yang mengapung dan terperangkap dalam biofilm permukaan. Perbedaan ini menjadi kunci untuk merancang strategi mitigasi yang efektif yang menargetkan berbagai jenis sumber polusi.
Implikasi ekologis dari temuan ini sangat mengkhawatirkan. Tingkat kontaminasi yang terdokumentasi dapat mengganggu siklus nutrisi yang dimediasi oleh keong, terutama dalam proses penguraian materi organik. Lebih jauh lagi, partikel dan beban plastik yang diamati menimbulkan risiko paparan kronis yang berpotensi mengubah dinamika populasi kelompok gastropoda yang vital ini. Namun, yang paling mendesak adalah kekhawatiran mengenai kesehatan masyarakat. Bioakumulasi yang terbukti terjadi pada spesies yang dapat dimakan, seperti Keong Sawah, menimbulkan risiko transfer mikroplastik ke rantai makanan yang lebih tinggi. Bagi masyarakat yang secara tradisional bergantung pada sumber daya sungai untuk makanan, temuan ini menggarisbawahi sifat saling terkait antara kesehatan ekosistem akuatik dan kesejahteraan manusia di daerah aliran sungai. Mengingat bahwa risiko pada manusia telah didokumentasikan dalam penelitian serupa pada kerang dan kerang-kerangan di pasar makanan laut di Thailand dan Hong Kong, kekhawatiran ini sangat beralasan.
Kondisi Sungai Brantas ini muncul dalam konteks ancaman lingkungan ganda. Penelitian lain di wilayah ini telah mendokumentasikan tidak hanya akumulasi mikroplastik, tetapi juga akumulasi logam berat pada populasi ikan, menunjukkan skenario paparan multi-kontaminan yang berbahaya. Oleh karena itu, solusi untuk Brantas harus bersifat holistik. Penting untuk mengintegrasikan pemantauan terkoordinasi di seluruh kelompok taksonomi攎ulai dari moluska, makrofita, hingga ikan攗ntuk memahami respons ekosistem secara menyeluruh. Pendekatan ini memungkinkan perumusan strategi pengelolaan sungai yang lebih komprehensif.
Kesimpulannya, studi ini telah menetapkan data dasar yang penting mengenai polusi mikroplastik di sungai tropis dan menegaskan kembali peran keong air tawar sebagai alat monitoring yang efektif. Penemuan partikel plastik di setiap keong yang diuji adalah bukti nyata betapa parahnya penyebaran plastik di Brantas. Hasil ini menuntut tindakan segera dan terarah. Prioritas harus diberikan pada pengelolaan sampah yang menargetkan sumber-sumber dominan polusi, program edukasi masyarakat yang masif, dan penegakan regulasi yang lebih kuat untuk melindungi sungai. Menyelesaikan masalah kompleks ini memerlukan sinergi antara ilmuwan, pembuat kebijakan, dan masyarakat lokal untuk memastikan bahwa Sungai Brantas, sebagai warisan alam dan sumber kehidupan, dapat kembali sehat dan aman bagi generasi mendatang.
Penulis: Dr. Veryl Hasan, S.Pi., M.P.
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:





