Kelelawar (ordo Chiroptera) merupakan makhluk alami yang telah diteliti secara ekstensif untuk mendeteksi agen infeksi berbahaya seperti virus, parasit, dan bakteri. Kelelawar dianggap menyebarkan patogen karena hidup di berbagai lingkungan seperti gua, bangunan manusia, jurang, pepohonan, dan jembatan. Mereka berpindah dari pedesaan ke perkotaan. Keragaman spesies, daya adaptasi yang baik, distribusi yang luas, kemampuan untuk bertahan hidup melawan patogen tanpa menunjukkan patologi, dan kemampuan terbang untuk menempuh jarak jauh memungkinkan kelelawar menjadi reservoir agen infeksi.
Guano adalah kotoran kelelawar yang sering digunakan oleh petani untuk menyuburkan tanaman, karena mengandung banyak magnesium fosfat dan kalsium. Selain kaya akan mineral yang dibutuhkan petani untuk tanaman, guano kelelawar juga mengandung banyak patogen bakteri zoonosis seperti Salmonella spp. Salmonella spp. adalah bakteri yang dapat ditularkan antara manusia dan kelelawar melalui feses, makanan, dan kontaminasi air di lingkungan. Di beberapa negara di Afrika dan Asia, diperkirakan 33 juta kasus salmonellosis mengancam kesehatan masyarakat setiap tahun. Infeksi penyakit bawaan makanan yang disebabkan oleh infeksi bakteri ditularkan melalui rantai produksi pangan. Industri pangan telah menggunakan metode biologis, kimia, dan fisik untuk dekontaminasi Salmonella pada produk pangan, tetapi metode ini dapat berdampak negatif pada produk pangan.
Penyalahgunaan antibiotik untuk mengendalikan infeksi Salmonella sebagai pengobatan dan profilaksis dapat mengakibatkan resistensi antibiotik (AMR). Penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol dengan baik dapat mengakibatkan resistensi multi-obat (MDR). Bakteri Salmonella adalah bakteri patogen yang teridentifikasi pada kelelawar di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Munculnya resistensi memerlukan perhatian khusus jika enzim Extended Spectrum Betalactamase (ESBL) yang diproduksi oleh bakteri dapat terdeteksi. ESBL adalah enzim yang menyebabkan resistensi terhadap spektrum antibiotik yang lebih luas, monobaktam kecuali sefamisin dan karbapenem, sefalosporin generasi ketiga yang membuat antibiotik ini tidak lagi efektif. Resistensi antibiotik ditemukan pada isolat Escherichia coli (E. coli) dari kelelawar di Nusa Tenggara Barat, Indonesia, pada Klebsiella pneumoniae (K. pneumoniae) dari Gua Tanjung Ringgit dan pada isolat E. Coli dari kelelawar dari Gua Lawah dan Gua Saung Pengembur.
Aktivitas antropogenik manusia memicu keberadaan residu antibiotik di lingkungan, hewan liar yang tidak bersentuhan langsung dengan antibiotik dapat membawa bakteri resisten ketika mereka mencari makanan dan minuman. Aktivitas manusia seperti menjadikan hutan sebagai objek wisata, deforestasi, dan perburuan kelelawar telah meningkatkan interaksi antara manusia dan kelelawar. Kelelawar diasumsikan memperoleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik ketika mereka mencari makanan dan minuman di lingkungan manusia dan ternak. Kelelawar dapat bertindak sebagai penjaga pencemaran lingkungan akibat aktivitas manusia, karena keberadaan resistensi antibiotik pada kelelawar disebabkan oleh kontaminasi dari manusia dan ternak.
Meskipun E. coli dan K. pneumoniae pada kelelawar di Nusa Tenggara Barat telah terdeteksi resisten terhadap beberapa antibiotik, belum ada penelitian yang komprehensif mengenai sensitivitas bakteri Salmonella pada kelelawar di Nusa Tenggara Barat. Risiko penyakit zoonosis lebih tinggi dengan penularan Salmonella spp. yang resisten terhadap antibiotik, keberadaan transposon, integron, plasmid, dan sekuens insersi yang semuanya berkontribusi terhadap peningkatan resistensi antibiotik. Data sensitivitas isolat bakteri Salmonella spp. dari kelelawar di Nusa Tenggara Barat penting untuk diketahui terkait deskripsi distribusi resistensi antibiotik pada satwa liar, yang dapat berdampak pada kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Hasil penelitian kami sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan 9 dari 135 (6,66%) isolat Salmonella spp. diisolasi dari kelelawar di Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Kelelawar tidak membuat tempat tinggal khusus sebagai tempat tinggal, mereka tinggal di gua-gua sebagai tempat beristirahat dan berhibernasi, namun, kekurangan makanan dan penggundulan hutan memaksa mereka untuk pindah ke desa atau kota seperti bangunan kosong, di bawah jembatan, dan di lahan pertanian yang memungkinkan terjadinya kontak langsung maupun tidak langsung dengan bakteri antara manusia, hewan, dan satwa liar yang memungkinkan terjadinya infeksi zoonosis.
Dalam penelitian ini terdeskripsikan bahwa Salmonella spp. resisten terhadap azitromisin (77,7%), amoksisilin (22,2%), dan tetrasiklin (11,1%). Hasil penelitian menggambarkan resistensi antibiotik tertinggi di antara azitromisin. Pengobatan antibiotik azitromisin pada pasien obesitas banyak terakumulasi di jaringan adiposa. Di Amerika, 86,2% bakteri Salmonella spp. yang diisolasi dari hewan telah mengalami MDR termasuk antibiotik azitromisin dan seftriakson, namun antibiotik azitromisin tidak direkomendasikan sebagai pengobatan pada hewan karena jika terdapat alergi terhadap obat ini, antibiotik azitromisin dimetabolisme di hati sehingga penggunaan antibiotik ini memerlukan kehati-hatian pada pasien yang memiliki masalah kesehatan hati. WHO mengkategorikan makrolida sebagai antibiotik prioritas tinggi, makrolida digunakan sebagai pendukung beta-laktam pada pasien yang alergi terhadap antibiotik 尾-laktam. Penggunaan antibiotik hidroksiklorokuin dan azitromisin yang tidak tepat, lemahnya pengawasan jual beli antibiotik, regulasi, dan kebijakan pengendalian AMR belum sinkron antara pemerintah daerah dan pusat, pengetahuan, kebiasaan, dan perilaku masyarakat Indonesia terkait penggunaan antibiotik masih belum memadai, yang mengakibatkan peningkatan insiden AMR di Indonesia, sehingga meningkatkan insiden AMR di Indonesia. Penggunaan antibiotik azitromisin meningkat selama pandemi COVID-19. Antibiotik ini digunakan sebagai terapi antibiotik adjuvan untuk mengobati infeksi saluran pernapasan atas, meskipun WHO tidak memasukkan azitromisin sebagai terapi utama untuk infeksi COVID-19 karena antibiotik ini memiliki potensi artimogenik yang lebih rendah dibandingkan makrolida lainnya.
Hasil penelitian kami menunjukkan adanya potensi risiko bagi manusia dan hewan yang bersentuhan dengan guano kelelawar, yaitu kontaminasi guano pada air dan tanah, yang akan berdampak pada kesehatan masyarakat. Dari 135 sampel guano kelelawar, kami mengisolasi 9 bakteri Salmonella spp. Kepekaan semua sampel yang diisolasi dari kelelawar di Nusa Tenggara Barat menunjukkan resistensi terhadap antibiotik tetrasiklin sebesar 11,1% (1/9), amoksisilin 22,2% (2/9), dan azitromisin 77,7% (7/9). Sampel-sampel tersebut masih menunjukkan sensitivitas terhadap antibiotik siprofloksasin, sefotaksim, gentamisin, dan sulfametoksazol/trimetoprim. Kemampuan untuk menempuh jarak jauh melalui berbagai vegetasi membuat kelelawar berpotensi menyebarkan bakteri Salmonella spp. yang resisten terhadap antibiotik di lingkungan, yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat.





