Anemia, suatu kondisi yang dikarakterisasi oleh jumlah sel darah merah atau penurunan kadar hemoglobin (Hb), merupakan masalah kesehatan global yang signifikan, yang utamanya memengaruhi kesehatan wanita. Salah satu penyebab utama anemia adalah defisiensi zat besi, yang sering kali dikenal sebagai iron deficiency anemia (IDA). Secara umum, anemia menyebabkan penurunan imunitas tubuh, sehingga menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Selain itu, anemia juga menurunkan kebugaran fisik, dan dapat memengaruhi kesehatan mental. Wanita usia subur (WUS) dengan anemia lebih cenderung untuk mengalami kehamilan berisiko tinggi, yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan janin, serta meningkatkan komplikasi kehamilan dan persalinan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengestimasikan 30% wanita usia 15-49 tahun dan 37% wanita hamil mengalami anemia di tahun 2021. Anemia, terutama IDA, memiliki gejala yang tidak spesifik, seperti kelelahan (fatigue), tubuh yang lemah (weakness), dan penurunan kapasitas olahraga (exercise capacity). Gejala non-spesifik tersebut seringkali dikaitkan dengan kondisi umum seperti penuaan (aging), sehingga terjadi penundaan identifikasi/diagnosis klinis. Umumnya, tidak terapat rekomendasi skrining anemia secara rutin, sehingga kondisi penurunan kadar besi tubuh ataupun tahap awal anemia seringkali tidak teridentifikasi dan tidak mendapatkan penanganan yang diperlukan.
Di beberapa negara Asia, antara lain India, Thailan, dan Kamboja, telah terdapat regulasi yang menganjurkan skrining anemia di tingkat lokal/komunitas. Di Indonesia belum terdapat regulasi serupa, walaupun anemia dapat memengaruhi kesehatan wanita, terutama pada masa konsepsi, kehamilan, hingga pasca-kehamilan. Anemia pada wanita juga terkait dengan kesehatan janin dan anak yang dilahirkan. Karenanya, skrining anemia dapat menjadi salah satu upaya untuk mengoptimalkan kesehatan wanita, sehingga anak yang dilahirkan memiliki kesehatan yang optimal.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Megasari sebagai rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat di salah satu desa di Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, pada tahun 2023, ditemukan adanya kasus anemia pada 48.72% wanita usia 15-59 tahun, yang ditandai oleh kadar Hb <12 g/dL dan kadar hematokrit <36%. Tidak terdapat keterkaitan antara usia, status perkawinan, tingkat pendidikan formal, dan jumlah anak dengan status anemia. Hal ini mengindikasikan bahwa anemia dapat terjadi pada wanita dengan berbagai karakteristik sosio-demografik. Skrining anemia perlu dipertimbangkan untuk direkomendasikan kepada wanita, khususnya wanita usia subur, sehingga dapat diberikan intervensi yang sesuai dengan segera, untuk menjamin kesehatan wanita.
Artikel penuh dapat dilihat pada laman: https://journalwjarr.com/content/iron-deficiency-anemia-among-women-residing-village-buleleng-regency-bali-indonesia-2023
Megasari NLA. 2025. Iron Deficiency Anemia among Women Residing in a Village of Buleleng Regency, Bali, Indonesia, in 2023. World Journal of Advanced Research and Reviews, 28(03): 2108-2112. DOI: https://doi.org/10.30574/wjarr.2025.28.3.4308.





