51动漫

51动漫 Official Website

Induksi Apoptosis Dan Penghambatan Pertumbuhan Pada Sel Kanker Prostat Manusia PC-3 Oleh Silodosin Dan Abirateron Asetat

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Kanker prostat saat ini merupakan masalah kesehatan global dengan tingkat kejadian dan kematian yang tinggi. Tantangan dalam pengobatan kanker ini disebabkan oleh produksi hormon androgen yang tidak hanya berasal dari buah zakar (testis), tetapi juga diproduksi dari sumber lain seperti kelenjar adrenal dan lingkungan tumor itu sendiri. Karena penyebab utama dari terjadinya kanker prostat adalah produksi hormon androgen yang berlebihan maka pengobatan utama pada kanker prostat adalah dengan melakukan kastrasi atau disebut juga sebagai terapi penghambat androgen (ADT). Terapi kastrasi merupakan penanganan yang utama dan terpenting dalam pengelolaan kanker prostat.

Metastatic castration-resistant prostate cancer (mCRPC) atau disebut juga sebagai kanker prostat metastase yang resisten terhadap kastrasi merupakan salah satu tingkat keparahan dari kanker prostat dimana tahapan kanker ini tetap menyebar walaupun sudah dilakukan terapi kastrasi. Salah satu terapi utama dari kanker metastase resisten kastrasi ini adalah abirateron asetat (AA). Obat ini bekerja dengan menghambat enzim khusus yang dapat menurunkan jumlah hormon androgen. Di sisi lain, beberapa penelitian menunjukkan bahwa obat silodosin yang merupakan obat pada penyakit pembesaran prostat jinak (BPH) berpotensi memiliki efek anti kanker pada kanker prostat.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental di laboratorium yang menggunakan sel PC-3 yang merupakan sel kanker prostat sebagai representasi dari sel kanker yang resisten terhadap kastrasi. Penelitian ini membandingkan empat kelompok yaitu kelompok yang tidak mendapatkan pengobatan, kelompok abirateron asetat, kelompok silodosin, serta kelompok dengan kombinasi dari kedua obat tersebut (abirateron asetat dan silodosin).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa abirateron asetat, silodosin, dan kombinasi keduanya menunjukkan kemampuan dalam menekan jumlah sel kanker. Pada kelompok kontrol yang tidak diberikan obat tersebut menunjukkan hampir semua sel kanker tetap hidup. Pemberian obat abirateron asetat dapat menurunkan jumlah sel kanker menjadi 42%, sedangkan pemberian obat silodosin dapat menurunkan jumlah sel kanker menjadi 45%. Efek terkuat didapatkan pada terapi kombinasi abirateron asetat dan silodosin yang dapat menurunkan jumlah sel kanker secara signifikan hingga 18,03%.

Pada penilaian terhadap tingkat kematian sel kanker, kelompok yang tidak diberikan pengobatan menunjukkan tingkat kematian sel kanker sebesar 20,5%. Pemberian obat abirateron asetat saja meningkatkan efek tersebut menjadi sekitar 23% sedangkan pemberian obat silodosin memicu peningkatan kematian sel kanker secara signifikan hingga sekitar 81%. Tingkat kematian sel kanker tertinggi didapatkan jika dilakukan pemberian obat kombinasi abirateron asetat dan silodosin sebesar 87%.

Hasil penelitian ini memberikan hasil bahwa kombinasi obat abirateron asetat dan silodosin bersifat sinergis, yang artinya jika dipakai bersama, efeknya bisa lebih kuat sehingga dosis yang dibutuhkan menjadi lebih rendah. Secara keseluruhan, hasil dari penelitian ini memberi gambaran awal bahwa silodosin berpotensi menjadi terapi tambahan pada kanker prostat yang resisten terhadap kastrasi. Namun, karena penelitian ini berbasis laboratorium, hasil penelitian ini memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui penelitian lanjutan.

Informasi lengkap tulisan ini dapat diakses pada laman :

Hakim L, Rahman ZA, Hidayatullah F, Ng AC-F. Induction of apoptosis and growth inhibition by silodosin and abirateron asetat in PC-3 human prostate cancer cells. Investig Clin Urol. 2025 Nov;66(6):559-568. doi: 10.4111/icu.20250310. Published online Sep 24, 2025. PMID: 41184150; PMCID: PMC12601914.

AKSES CEPAT