51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Angkat Budaya Lokal di Era Modern, Mahasiswa UNAIR Sabet Juara di Mandalika Essay Competition 2025

Mahasiswa UNAIR raih juara Favorite Poster dan Bronze Medal pada Mandalika Essay Competition 2025 Edisi ke-7 (Foto: Narasumber)
Mahasiswa UNAIR raih juara Favorite Poster dan Bronze Medal pada Mandalika Essay Competition 2025 Edisi ke-7 (Foto: Narasumber)

Kolaborasi mahasiswa UNAIR lintas fakultas yang terdiri dari Dinda Putri Damayanti (FEB), Meifha Wulandari (FST), Warda Anis Sulalah (Vokasi), dan Andhita Maharani Cahyaning Wibowo (FISIP) berhasil menorehkan prestasi. Mereka mengharumkan nama UNAIR di Mandalika Essay Competition 2025, yang berlangsung pada 6“8 Oktober di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Mandalika Essay Competition 2025 Edisi ke-7 merupakan ajang bergengsi yang mendorong kreativitas dan pemikiran kritis para mahasiswa di Indonesia. Lomba ini mengusung tema besar œKolaborasi Inovasi Pemuda untuk Masa Depan yang Gemilang, menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menghadirkan inovasi yang berdampak positif bagi masyarakat dan bangsa. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Universitas Mataram bekerja sama dengan Lembaga Setara Prisma Nusantara.

Budaya Lokal di Tengah Modernitas

Tim mengangkat tema œNada, Naskah, dan Nusantara: Cerita Rakyat yang Hidup di Parade Kota Modern, dengan fokus pada bagaimana budaya lokal tetap hidup di tengah modernisasi. Meski awalnya belum banyak tahu tentang budaya Surabaya, tim melakukan riset dan turun langsung ke Surabaya Vaganza, parade budaya besar yang menampilkan cerita rakyat, tarian tradisional, dan budaya adat. Mereka mendokumentasikan acara, mewawancarai tokoh setempat seperti Cak Ning Surabaya dan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Selain itu, berbincang dengan pengunjung untuk memahami dinamika budaya yang masih hidup dan dirayakan masyarakat.

Hadapi Tantangan dengan Solid

Setelah mengumpulkan data, tim menulis esai dengan waktu yang terbatas, namun berhasil selesai tepat waktu dan dikirimkan. Kabar gembira datang ketika datang kabar bahwa mereka lolos ke babak final di Lombok. Tantangan belum selesai, hal tak terduga terjadi di final, peserta juga wajib membuat poster berdasarkan esai yang telah mereka buat. Meski tak ada yang memiliki pengalaman desain poster, mereka belajar bersama dan berhasil menyelesaikan poster tepat waktu.

œKita yang lolos final diharuskan bikin poster dari esai yang dibuat. Kaget banget, soalnya dari kami nggak ada yang pengalaman bikin poster. Tapi, akhirnya kita belajar bareng, saling bantu, dan posternya berhasil jadi sebelum keberangkatan. ujar Meifha lega.

Di hari final, tim mempresentasikan karya mereka dan berhasil meraih Favorite Poster dan Bronze Medal. Meski prestasi ini membanggakan, menurut Meifha Wulandari, hal paling berharga adalah pengalaman belajar yang mereka dapat. Mereka menyadari pentingnya menjaga budaya lokal di era globalisasi, serta menemukan cara agar budaya tetap relevan dan bisa generasi muda cintai.

œPengalaman ini mengajarkan kami bahwa menjaga budaya bukan berarti menolak modernisasi. Sebaliknya, kita bisa membuat budaya tetap hidup dengan cara yang relevan dan dekat dengan generasi muda. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? ujar Meifha.

Penulis : Saffana Raisa Rahmania

Editor   : Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT